Kyu-Ran “Flowered” part 3

 
– TITTLE : FLOWERED Part 3
– GENRE : Romance
– LENGTH : Series
– RATED : PG 17
– MAIN CAST : Cho Kyuhyun, Kim Ran
– AUTHOR : Gorjesso
– TWITTER : @tha_tika29
– FACEBOOK : Tatika Fransmorona => https://m.facebook.com/tatika.fransmorona  
   
FF ini pernah aku post di blog pribadi (www.gorjesso.blogspot.com) dalam versi lain. Jadi kalau menemukana kesamaan itu memang disengaja. Maaf jika typo bagaikan ranjau ada dimana-mana. Karena gg ada typo itu gg rame!

Ok deh, Happy reading All.

PART 3
Kyu-Ran || FLOWERED | A Fanfiction By Gorjesso@2015 All Right Reserved

Ingin tahu seperti apa rasaya mengalami dejavu? Kris. Pria ini tengah merasakannya. Mana mungkin ia mengira ia akan melihat sesroang yang sudah mati muncul dihadapannya tadi. Dan seseorang yang mati itu tadi berdiri menatapnya dengan tersenyum dari kejauhan. Ia yakin, matanya tak akan salah mengenali. Matanya tak akan salah untuk bisa tahu siapa orang itu. Kyuhyun. Mengingat pria itu. Apa mungkin Kyuhyun masih hidup?

Tapi….samar-samar Kris mendengar suara anjing. Anjing yang menggonggong. Dan bila tadi ia tak salah ingat. Maka di saat tadi ia melihat ‘penampakan’ pria itu, ia juga melihat pria itu tengah bersama anjing. Apa mungkin—

Tidak! Itu tidak mungkin! Teriak Kris dalam hati.

Baru saja ia menemukan fakta bahwa tadi yang dilihatnya hanya halusinasinya saja. Mna mungkin sekarang bisa berubah secepat itu? Dan apakah memang firasatnya yang tadi memang benar? 

Dan…suara anjing itu. Semakin keras tertangkap oleh indra pendengarannya.

Kris. Pria itu kini seperti membeku ditempatnya melihat orang yg ia pikir sudah mati kini bahkan berjalan menghampri dirinya degan seekor anjing. Kyuhyun. Pria itu yg Kris maksud. “Kris.” Panggilan Ran seperti membangunkannya dari mimpi buruk. Karena saat ia menoleh kembali ke luar. Ke ladang bunga. Ia sudah tidak melihat Kyuhyun. Dan membuat Kris berpikir mungkn itu hanya halusinasinya saja.

“Gwenchana?” Tanya Ran. Ia melihat Kris yang berkali-kali menghela nafas. Seperti baru melihat hantu saja.

Kris hanya menganggukkan kepalanyaa memberitahu Ran bahwa tidak ada apa apa dan ia baik-baik saja. Baru saja kris akan medudukkan bokongnya diatas sofa. Suara anjing yg menggema dirumah ini langsung membuat jantungnyaa berpacu kembali. Anjing itu..apa mung—

guk guk

Belum sempat kris selesai menebak. Suara anjing itu kini disertai dengan sosok tubuhnya. Serta juga dengan.. Kyuhyun? Jantungnya berdegup 2 kali lebih cepat kini. Ternyata yang dilihatnya tadi benar. Dan bukan sama sekali mimpi. Ia, dapat melihat degan jelas tubuh Kyuhyun kini. Tubuh yang ia kira sudah hanyut oleh ombak laut. Dan dihancurkan oleh taring hiu. Tapi sepertinya semua perkiraanya salah bila melihat keadaan sekarang. Bahkan kini Ran tengah berbncang dengan Kyuhyun. Meninggalkan dirinya yang masih saja tak percya.

“Kris.” Panggil Ran. Dan gadis itu memberinya isyarat untuk mendekat. Lebih tepatnya ikut bergabung dengan Ran dan Kyuhyun.

Demi apa. Kris masih saja berharap ini hanyalah mimpinya. Atau mungkin matanya saja yang salah mengenali.

“Emm..Kris, kenalkan ini Marcus. Dan Marcus, kenalkan ini Kris”. Kris kembali membeku. Apa tadi yang Ran katakan? Marcus?

“M— Marcus? “ Tanya Kris mengulang. Dan Ran hanya menganggukan kepalanya.

“Aku Marcus. Salam kenal, KRIS.” Seperti terdengar mengintimidasi. Itulah yang tertangkap oleh Kris ketika pria dihadapannya ini menekan namanya. Dan semakin membuatnya yakin. Ini Cho Kyuhyun. Bukan Marcus seperti kata Ran. Karena Kris dapat membaca maksud lain dari penekanan namanya tadi.

“Selamat datang dirumah kami.” Ucap Marcus kemudian.

Rumah kami? Apa-apaan ini? Batin Kris. Ia menoleh pada Ran seolah meminta pejelasan. “O.. aku bisa menjelaskannya Kris.” Ujar Ran tersadar dengan tatapan yang Kris layangkan padanya.

“sebenarnya ini tetap rumahku. Tapi 2 bulan yang lalu aku menemukan Marcus ditepi pantai dan ia hilang ingatan. jadi aku putuskan untuk menampungnya. Dan tentu saja kami tidur dikamar yang berbeda.” Jelas Ran. Dan berharap semoga Kris mengerti. Ia tak ingin dan salah paham. Sedangkan mereka baru saja bertemu setelah bertahun-tahun terpisah. Ia tak mau mimpi buruk itu menjumpainya lagi.

….

Ran meninglkan Kris dan Marcus diruang tv untuk menyiapkan makan siang. Kris kini menatap tajam Marcus. Marcus yang ia yakini tetaplah Cho Kyuhyun.

Marcus hanya membalas tatapan Kris dengan tersenyum sinis. Dan bersikap tenang. Seolah tengah memberitahu pria itu bahwa yang dipikirknnyaa menang benar. Ini Cho Kyuhyun. Bukan Marcus.

“Aku yakin kau Cho Kyuhyun.” Ucap Kris membuka percakapan. “Dan aku juga yakin. Kau sama sekali tidak kehilangan ingatanmu. Sambungnya.

Sebelum berniat menjawabnya Marcus Kembali menunjukan senyum seringainya. “Haha.. aku pikir kau tidak mengenali lagi sahabat yang kau hianati ini, Kris Wu.” Jawab Marcus. “Dan memang semua yang kau katakan itu benar. Aku tidak hilang ingatan sama sekali.”

“Bagaimana mungkin aku melupakan orang bodoh sepertimu Cho Kyuhyun.” Ucap Kris. “Oh salah. Maksudku Marcus.” Ralatnya kemudian.

“Terserah kau mengataiku apa. tapi yang terpenting kau sepertinya kau harus menyadari kebodohanmu sendiri.”

“Diam kau, Cho Kyuhyun ! Atau ku buat kau hanyut kembali dilautan dan karam dibawah Sana hingga berkarat!” Seru Kris.

“Silahkan. Tapi asal kau tahu. Ran, Mantan kekasihmu itu pasti akan mencariku.”

“Brengsek! Jangan membwa-bawa gadis itu dalam masalah kita! Dia tak tahu apapun!” Umpat Kris.

“Tenanglah. Kau kan hanya mantan kekasihnya tidak seharusnya kau bersikap seperti ini.” Ujar Marcus pelan. “Dan bila kau belum tahu. Aku sudah mencuri 1 ciuman darinya dan pernah tidur seranjang dengannya. Yah…. walau hanya tidur.” Tutur Marcus memanasi. Ia ingin sekali tertwa keras melihat wajah Kris yang merah padam.

“Keparat!” Umpat Kris lagi. Emosi sampai di ubun-ubun saat ini akibat penuturan Marcus tentang Ran.

“Berani kau menyentuhnya lagi, aku benar-benar akan membunuhmu saat itu juga. Bahkan memakan dagingmu dengan senang hati.” Ujar Kris. Sepertinya perdebatan ini bukan lagi  tentang dendam mereka. Tapi tentang cinta dan memperebutkan wanita yang sama-sama mereka sukai.

“Hm..sekali lagi aku persilahkan kau untuk melakukannya. Lagi pula 2 bulan aku tinggal bersma dia. Sudah mampu untuk menggantikan posisimu dihatinya.” Ujar Marcus lagi-lagi untuk memanasi Kris. Walau ia tak yakin dengan yang dikatakannya sendiri. Menggantikan Kris dihati Ran?

“Diam! Brengsek! Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Ran, dia akan tetap menjadi gadisku. Dan mungkin tak akan lama ia akan menyandang margaku. Ran Wu. Bukankah terdengar menarik?”

Sial! Umpat Marcus dalam hati. Ingin hati mengintimidasi Kris tapi spertinya ia yang merasakannya sendiri.

“Hei..” Suara lembu Ran yang tertangkap oleh indra pendengaran kedua pria ini. Seketika melenyapkan aura hitam yang tercipta sebelumnya. 2 pria itu menoleh pada Ran dan tersenyum. Tentu itu malah membuat Ran menautkan kedua alisnya, bingung.

“Gwenchana?” Tanyanya pada 2 pria yang ada dihadapannya ini. Dan ia hanya mendapat anggukan dari 2 pria itu.

….

Beberapa jam terlewati. Langit merah mulai nampak dihalaman belakang rumah. Angin yang berhembus serasa mulai menusuk tulang. Tetapi sejak tadi Marcus masih betah berdiri diteras belakang rumah. Menikmati pemandangan yang tersuguh dihadapannya dalam diam.

Otaknya memutar kejadian tadi siang. Kejadian yang diluar skenarionya sendiri. Bohong bila ia pun masih merasa terkejut dengan ini. Mungkin jika tak ada Ran. ia sudah kembali hanyut dan habis ditangan Kris. Tapi memang begitulah. Ia sekarang begitu berterimakasih dengan posisi Ran diantara ia dan Kris. Kris mencintai Ran. Tentu karena pria itu adalah mantan kekasih gadis itu. Dan ia sekarang tengah tinggal dengan gadis itu. dalam posisi orang baru yang mengaku tak mengenali Kris. Tentu saja dengan ini, Kris tak bisa mengusiknya. Karena jika Kris berani mengusiknya. Ran pun akan membelanya. Maka dari itu, rencananya kini adalah menjaga sebaik mungkin hubungan nyatanya antara Kris dengan dirinya. menyembunyika jati diri aslinya juga sebagai Cho Kyuhyun.

Ya. Setidaknya dengan posisinya sebagai Marcus. Ia akan terus melihat Ran dalam jarak pandangnya. Dan walau ia juga merasa menjadi pecundang. Karena berdiri dari tameng yang diciptakan oleh gadis itu.

….

Bohong. Bohong sekali bila tadi ia bisa bersikap tenang dihadapan Kyuhyun. Ah..ralat. mungkin seharusnya ‘Marcus’? Ya, apapun itu. Yang dimaksud olehnya adalah pria itu.

Sejak ia sampai diapartemennya. Semua kejadia tadi siang masih terus berputar-putar diotaknya. Ia benar-benar masih tak menyangka Kyuhyun masih selamat. Dan dengan segala tangan dingin tuhan. Dan ternyata sempitnya dunia ini. Kenapa harus Ran yang menolong pria itu? kenapa tidak gadis lain saja?

Kini, sebuah alasan klise untuk membatalkan semua rencananya untuk menghancurkan perusahaan Kyuhyun muncul. Alasan itu adalah Ran. Gadisnya. Ia khawatir bila nantinya gadisnya akan ikut terseret dalam masalah antara dirinya dengan Kyuhyun. Ia takut Kyuhyun akan menggunakan Ran untuk tawanannya. Demi apa. Ia bahkan akan mencabut jantung bagi siapapun yang berani menyentuh gadisnya itu. Dan ia merutuki juga, kenapa mereka harus tinggal dalam satu rumah. Itu adalah fakta yang paling menjengkelkan! Cemburu? Tentu saja!

“Arrggghhhh!!!” Teriakannya menggema diseluruh ruangan apartemennya sendiri. Ia merusak tatanan rambutnya sebagai pelampiasan emosinya yang memuncak memikirkan apa saja yang mungkin dilakukan Kyuhyun pada Ran. “Brengsek!” Umpatnya. Kini sebagai pelampiasan. Sebuah ponsel anroid keluaran terbaru jatuh tak berdaya diatas lantai  yang dingin.

=flowered=

“Selamat pagi!” Sapa Ran dengan nada yang terdengar begitu riang ketika matanya menangkap sosok Marcus yang baru saja keluar kamarnya.

“Eo. Selamat pagi. Kau terlihat snagat bersemangat.” Balas Marcus. Ia pun berjalan menghampiri Ran yang sibuk dengan urusan meja makan.

Ran hanya tersenyum menanggapi Marcus. “Bukankah kita harus terus bersemangat, eoh?” Ujar Ran. menaruhkan mangkuk terakhir berisi kimchi keatas meja makan.

“Baiklah..baiklah…aku tahu kau sedang bahagia.”

Siangnya. Marcus mendapati Ran sedang berada didalam ruangan pembibitan. Gadis itu terlihat sangat serius. Dan bahkan ada banyak peralatan berbeda—yang belum pernah Marcus lihat semala ini—berada disekitar gadis itu.

“Huhhhh….” Ran mengelam keringatnya yang bercucura melewati keningnya. Kira-kira sudah sejak 3 jam yang lalu ia terus berkutat dengan tanah dan bibit-bibit yang baru berumur sekitar 1 minggu.

“Hey!”

“Aih…Kau membuatku terkejut.” Protes Ran karena Marcus datang dan berteriak disekitar telinganya.

“Kau sedang melakukan apa? Sampai tidak mengajakku..” Tutur Marcus. Ia menncondongkan tubuhnya melihat apa yang sebenarnya Ran lakukan sejak tadi. Bahkan gadis itu tidak mengajaknya atau setidaknya menyuruhnya membantu pekerjaan gadis itu.

“Aku? Eumm…sebenarnya aku sedang melakukan sebuah percobaan.” Jawab Ran. “Eum..hanya percobaan kecil…” Lanjutnya kemudian. Ran sendiri tampak ragu menunjukkan percobaannya pada Marcus.

“Wah…kau sedang melakukan percobaan apa? Apa kau sedang mencoba menemukan jenis bunga baru?” Tanya Marcus antusias.

Ran mengangguk ragu. “Y—ya..begitulah.” Ungkap Ran menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.

“Kalu begitu. Bolehkan aku membantumu?” Tawar Marcus. Ia menatap Ran penuh permohonan. Ran yang ditatap seperti itu hanya bisa mundur selangkah. Karena kini Marcus tengah tersenyum. Dan senyum pria itu. Oh…Ya Tuhan…mungkin jika dibelakangnya tak berdiri tiang yang kuat. Saat ini Ran sudah dipastikan meleleh melihat senyuman pria ini. Imun tubuhnya payah sekali.

“E—eum…bo—bole..tentu saja boleh.” Jawab Ran tergagap.

“Kalau begitu. Apa yang harus aku lakukan?”

Ran menunjukkan apa yang harus Marcus lakukan. Pria itu diperintahnya untuk memisahkan bibit yang terlihat rusak. Sedangkan Ran sendiri entah sedang mencatat apa dinotebooknya. Setelah melakukan pemisahan itu. Ran membantu Kyuhyun untuk menanamkannya kedalam kantung yang sudha berisi berbagai pupuk. Tapi ternyata tak semudah yang biasanya. Berkali-kali Marcus mendapat pukulan dikepala dan teriakan keras Ran karena melakukan kesalahan. Sepertinya pekerjaan ini memang begitu penting bagi Ran. Hingga ia harus extra berhati-hati dengan bibit-bibit bunga yang sedang ditanganinya ini.

“Ran..” Panggil Marcus. Tapi gadis itu tak menoleh padanya sama sekali. membuatnya mendengus kesal. Ternyata ia kalah tampan dibanding bibit yang sedang Ran tanam. Cih!

“Jika kau berhasil melakukan percobaan ini. Memangnya hasil yang kau harapkan seperti apa?” Tanya Marcus. Ia sendiri masih sibuk mengisik pupuk-pupuk kedalam kantung-kantung hitam untuk persediaan musim tanam lain waktu.

Kali ini Ran menoleh pada pria itu. Gadis ini terlihat berpikir. Tapi justru wajah yang seperti ini yang acap kali membuat Marcus mengeram dalam hatinya. Ingin sekali ia mengecup pipi dan bibir gadis itu. Yang saat ini terlihat kelewat menggemaskan. “Eumm…sebenarnya aku menyilangkan bibit ini dari beberapa bunga..” Ran menghentikan kalimatnya.

Ia membalikkan badannya. Lalu bersandar pada meja yang setinggi pinggangnnya itu. “Ada bunga mawar, bunga tulip, dan bebrapa bunga lainnya..seharusnya mereka akan berwarna seperti warna mereka juga. Dan entah bentuknya seperti apa..tapi aku harap bentuknya tak akan jadi aneh. Iya kan?”

“O? Oh..ne..” Jawab Marcus tergagap. Bukannya mendengarkan penjelasan Ran. ia malah sibuk memperhatikan wajah gadis itu. Ck!

“Lalu, kau ingin menamakan bungan ini apa?” Tanya Marcus lagi.

Ran terlihat kembali berpikir. “Bagaimana dengan ‘J’?”

“J?”

“Ne. Bunga J. Bukankan terdengar menarik? Orang akan penasaran dengan namanya..lalu mareka akan menari tahu seperti apa bunga J itu..oh..aku berharap sekali semua ini akan berhasil..” Ucap Ran gembira.

Marcus pun ikut tersenyum menanggapinya. Siapa yang tidak senang melihat orang yang dikukainya gembira seperti itu.

“YAK!”

“Eo..kenapa kau berteriak lagi? Ada yang salah?” Tanya Marcus. Ia mengusap telinganya karena masih terkejut mendengar teriakan Ran tadi.

Pletak!

“Yak! Kenapa sekarang kau memukulku?” Protes Marcus.

“Lihat ini!” Marcus mengikuti arah yang ditunjuk Ran. Dan, Binggo! Lihatlah sekarang. Marcus sedang mematahkan bibit milik Ran. pantas saja gadis itu berteriak sekencang peluit polisi lalu lintas. “Aishh! Jinja! Kau merusak bibitku, Marcus…” Keluh Ran.

Dan sekarang Marcus hanya menuruti Ran ketika gadis itu memposisikan dirinya dibelakang Marcus. Lalu tangan Marcus dipegang oleh Ran. gadis itu lalu menjelaskan bagaimana menanamnya. Jujur, sebenarnya Marcus sudah tahu tentang ini. Tapi tadi ia sedang tidak fokus. Salahkan saja gadis ini yang kenapa terlihat lebih…errrr….sexy ketika sedang berkeringat seperti itu. Apalagi dengan lehernya putih gadis itu yang tidak terutupi oleh rambut panjangnya seperti biasa. Oh…bukankan itu godaan terbesar setiap pria? Kau bisa lihat sendiri jika tidak percaya.

Hatinya terus berperang dan tak fokus karena hal tadi itu. Dan ditambah lagi dengan posisi Ran yang berada dibelakangnya. Ya, kau bisa bayangkan, bukan? Secara Ran berada dibalakangnya. Dan tentu saja tuuh mereka menempel bukan? Dan…Yah…bagaimana ia bisa menjelaskan situasi ini? Ah..kau tahu bukan maksudku? Batin Marcus. Ia mengeram frustasi dengan pikiran kotornya sendiri.

“Ran..” Panggil Marcus pelan. Dan terdengar dari nada suaranya yang berat seperti menahan sesuatu yang hendak meledak. Libidonya! Aih..

“Ne?” Sahut Ran. Ia masih sibuk mengarahkan tangan Marcus. Dan tanpa Ran tahu Marcus tak memperhatikan penjelasan Ran sedikitpun sejak tadi.

“Kau sangat romantis.” Ucap Marcus.

“Apa?”

“Posisi kita..” Ujar Marcus kemudian.

1 detik..2 detik… Ran masih belum paham. Hingga—

“Yak!” Seketika itu juga Ran menjauh dari Marcus dan mendecak sebal.

“Haha..bila saja jika kau ingin berdekatan denganku. Tak usah menggunakan modus operadi seperti itu, Ran..” Ujar Marcus disertai tawa.

“MWO?” Ran mendecak sebal sekali lagi. Sungguh! Ia tak ada niatan terselubung seperti yang Marcus tuduhkan padanya. Cih! Pria ini..

“Jika kau ingin aku memelukmu, kau tinggal bilang. Dan kau juga akan kuberi bonus..”

“Mwo?” Tanya Ran.

“Ciuman..mungkin?” Bisik Marcus. Lalu ia tertawa terbahak-bahak melihat expresi Ran yang tak percaya. Mulut gadis itu terbuka.

“Yak! Enyahkan pikiran mesummu itu!” Teriak Ran.

=flowered=

Kris masih saja berenang dilautan berkas-berkas yang harus dirampungkannya hari ini juga karena kemarin ia meninggalkannya. Jadi ia harus mempertanggungjawabkannya hari ini. kendati itu pula karena rencana yang sudah ia susun bersama vintoria sudah mencapai 90%. Tinggal ia menyuruh pengacara pria itu untuk menyerahkan berkas-berkas berharga milik Kyuhyun. Tentu itu bukanlah perkerjaan yang mudah. Karena pengacara Han terkenal dengan kesetiaannya. Pengacara Han sudah sejak 40 tahun menangani segala urusan hukum keluarga Kyuhyun. Dan pengacara itupun sepertinya perlu diberi penghargaan karena mulutnya yang pintar berkilah. Dan itu yang sampai saat ini selalu membuat Kris kewalahan untuk menghadapi pria 60 tahun itu.

“Brengsek!” Umpatnya tiba-tiba. Seketika giginya berbunyi gemelatuk karena menahan emosinya. Ia baru saja mendapat pesan dari orang suruhannya yang mengikuti pengacara Han. Bila pengacara itu kini sudah tahu bahwa mereka diikuti dan baru saja menghabisi semua anak buah Kris.

“Halo. Ne. Tetap awasi dia. Aku tak ingin dia kemanapun. Baik. segera laporkan bila ada hal ganjil!”

FLIP. Tanpa salam. Tanpa basa-basi. Sekali lagi ia mengeram frustasi karena pikirannya terbagi dua kini. Rencananya, dan gadisnya. Oh…betapa ini begitu membuatnya pusing sejak semalam.

TOK. TOK. TOK.

“Masuk!” Ucap Kris ketika mendengar pintu ruangannya diketuk. Sebenarnya mudah saja baginya menebak siapa yang datang. Siapa lagi bila bukan, Victoria.

“Kau terlihat sangat sibuk.” Ujar Victoria. Ia datang membawa secangkir kopi seperti biasanya. Kris sudah terlalu hafal dengan kebiasaan gadis ini. bila jarum jam sudah menunjukan pukul 10. Maka Victoria akan datang bersama secangkir kopi atau bersama makanan kecil.

Kris hanya menyunggingkan senyum separonya saja sebagai tanggapan. Ia menrima secangkir kopi itu dan menyesapnya sedikit. Yah…dan juga sedikit membuat pikirannya kembali fresh. “Dia sudah tahu kita mengikutinya. Anak buahku dihabisi. Tapi mereka masih kan tetap mengikutinya.” Tutur Kris. Membagi informasi yang ia dapat dari anak buahnya tadi. Tentu karena Victoria juga bagian dari rencananya.

Victoria menganggukan kepalanya mengerti. Dan dia duduk dikursi didepan meja kerja Kris. “Aku mengerti. Dan aku juga berpikir. Apakah sebaiknya kita memberinya sebuah gertakan? Kita sudah terlalu sabar menghadapi pengacara sialan itu. Dia sangat memperlambat kita.” Usul Victoria.

“Kau benar. Tapi ia pintar berkelit. Jika kita menggertaknya. Aku yakin dia pasti punya senjata yang ampuh untuk membalas gertakan kita. Orang tua itu memang tak bisa dianggap remeh, Victoria..” Ujar Kris. Ia menopang dagunya pada kedua tangannya yang disangga pada meja.

“Hah…lalu kita harus bagaimana? Aku sudah terlalu muak bersabar dengan pria tua itu..” Keluh Victoria. Ia menyenderkan punggunya pada sandaran kursi.

“Tunggu. Kita tunggu. Kita hiraukan sementara pengacara Han. Karena sepertinya ada juga yang bergerak menyusup dari celah-celah kecil yang kasap mata. Dan kita harus mewaspadainya.” Ucap Kris. Tapi Victoria belum paham dengan maksudnya. Bukankah mereka sudah menghabisi semua kerikil-kerikil kecil pembela Kyuhyun? Lalu siapa lagi?

“Nugu? Siapa yang kau maksud, Kris?” Tanya Victoria. Ia meneggakkan lagi badanya. Ia begitu penasaran dengan siapa yang Kris maksudkan. “Apa mereka begitu berbahaya untuk kita?”

Kris tersenyum. Senyum bengis tentunya. “Ya. Dan yang jelas kau akan mengetahuinya nanti, Victoria. Kau hanya perlu mempersiapkan diri untuk hal yan tak terduga. Termasuk aku. Karena sepertinya mereka sudah bergerak jauh tanpa kita ketahui.” Kata Kris. Dan itu semakin membuat Victoria pusing.

Ah…molla… Batin Victoria. Tapi ia benar-benar dirundung penasaran. Berbahaya? Siapa? Saat ini penghalang yang paling bahaya bagi mereka bukankah pengacara Han? Orang tua itu? Victoria menatap Kris yang sudah tenggelam kembali kedalam berkas-berkas. Pria itu sejujurnya sangat tampan jika sedang seperti ini. Siapa wanita yang tak kuat menerima pesona mencolok yang dipancarkan pria ini? Victoria Song adalah salah satunya. Ia jatuh dalam pesona Kris. Dan soal Kyuhyun. Jangan berpikir sedikitpun ia menyukai Kyuhyun. Karena sejujurnya, sejak awal mereka bertiga bersahabat—dulu—Victoria sudah menyukai Kris. Namun Kris sama sekali tidak menanggapinya. Itulah yang membuat mengapa Victoria bersedia berada disamping Kris dalam semua rencana pria itu. dan bahkan meninggalkan Kyuhyun yang dulu kekasihnya. Menjadi kekasih Kyuhyun juga atas perintah Kris. Jika tidak, mana dia mau.

Semua karena Kris. Karena pria itu. Sekalipun ia harus menelan pil pahit bila ternyata Kris  memang tidak mencintainya. Kris pernah berkata ia masih mencintai mantan kekasihnya, dan ia sedang mencari kekasihnya itu. Tapi bukankah cinta itu buta? Membuat kita menjadi manusia paling bodoh sekalipun.

….

“Pengacara Han!” Seru Marcus. Ia langsung menghambur dalam pelukan pria yang selalu dihormatinya sejak ia sudah tidak mempunyai keluarga lagi dalam hidupnya.

“Oh… Kyuhyun -ah…ini benar-benar kau?” Ujar Pengacara han tak percaya. Ia menggucangkan tubuh Marcus.

“Ne. Kau tak perlu meragukannya. Aku Cho Kyuhyun.” Tutur Marcus. Mereka lalu berpelukan kembali. Taemin pun ikut tersenyum.

Setelah mengobrol tentang agaimana Marcus atau Cho Kyuhyun bisa selamat. Dan sekarang bisa berada ditengah-tengah pengacara Han dan Taemin lagi. Mereka mulai membicarakan rencana-rencana yang sudah dipikirkan Marcus sejak lama. Pengacara Han dan Taemin terlihat hanya mengangguk setuju dengan rencana yang Marcus kemukakan didepan mereka.

“Kau yakin dengan rencana terakhir itu, Kyu-ah?” Tanya Pengacara Han. Ia sedikit tidak setuju dengan rencana terakhir yang Marcus usulkan.

“Memangnya ada apa dengan rencanaku itu, Pengacara Han?”

“Hah.. tentu kau tahu bukan? Pergerakan kita tak akan semudah yang kau pikirkan. Tentu saja kau juga diawasi oleh Kris. Aku dan Taemin juga sudah benar-benar muak dengan mereka yang selalu menguntit kami.” Ujar Pengacara Han.

“Aku paham dengan hal itu. maka dari itu aku menggunakan Ran. Kalian masih ingat gadis itu, kan?” Tanya Marcus.

“Apakah anda akan memanfaatkan nona Ran, sajangnim?” Tanya Taemin ragu-ragu.

“Hemm…terpaksa aku melakukannya. tappi aku pikir itu hanya cara teraman yang kita punya. Kris tak akan mungkin bisa menyakiti gadsi yang dicintainya sendiri. Aku bisa menjaminnya.” Ucap Marcus meyakinkan. Benar, bukan? Kemarin saja ia melihat sorot mata Kris yang memerah penuh emosi ketika ia mengatakan bila ia sudah mencuri ciuman dari Ran?

“Baiklah…sementara ini aku akan percaya dengan rencanamu itu. Tapi kita harus tetap memikirkan rencana lain tanpa menggunakan gadis itu. Akan terlihat sangat pengecut jika kita menggunakan tameng dari seorang perempuan.” Usul Pengacara Han. Taemin dan Marcus hanya bisa mengiyakan.

Benar. Ia tak boleh menyeret Ran masuk kedalam rencananya terlalu jauh nantinya. Mianhe Ran… Batin Marcus menyesal.

….

Marcus kembali lagi ketoko bungan milik paman Shin. Ia menemukan Ran sedang tertidur dengan kepala yang direbahkan diatas meja. Toko paman Shin juga tutup. Dan kemana juga paman dan bibi? Mereka pergi?

“Eoh…sepi sekali..” Gumam Marcus.

Ternyata memang paman dan bibi sedang pergi. Buktinya ada setelah ia menemukan sebuah catatan kecil disamping kepala Ran. Paman dan bibi menuliskan disana bila mereka sedang ke pusat kota untuk berbelanja sesuatu. Ia pun mendaratkan bokongnya di samping Ran. Ia ikut merebahkan kepalanya juga dimeja membuatnya berhadapan dengan gadis itu.

Hangat. Selalu seperti ini bila ia menatap wajah Ran. Darahnya juga langsung berdesir kala ia menatap wajah itu. Emosi, rasa marah, benci, pokoknya tentang hal-hal kotor itu, serasa langsung menguap tak tersisa dari hatinya hanya dengan menatap wajah manis Ran. Disingkirkannya rambut yang menutupi wajah Ran. Dan kini wajah itu menjadi semakin terlihat dihadapannya. Ia tak akan bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti bila ia tak dapat melihat wajah ini lagi dalam hari-harinya. Tanpa gadis ini disampingnya.

Marcus bangkit dari duduknya. Ia kemudian menggendong Ran menuju sofa. Ia tak tega melihat gadis itu tertidur di kursi kecil. Direbahkannnya Ran disofa panjang. Setelah itu ia mengangkat kepala Ran dan diletakkannya dipangkuannya. Dengan begini ia bisa lebih leluasa memandangi wajah cantik Ran.

Dengan telaten ia menyisiri rambut coklat kelam Ran. Terasa halus. Dan beberapa menit kemudian. Ia pun ikut tertidur meyusul Ran.

=flowered=

“Arghhh…” Erang Marcus merasakan tubuhnya kaku. Sekujur tubuhnya terasa pegal pula. Dan ia semalaman tidur dengan posisi duduk. Dengan Ran yang sampai saat ini masih tertidur dipangkuannya. Ia tersenyum kala itu juga.

“Hey..” Bisik Marcus. Ia memainkan ujung hidung Ran. Membuat gadis itu geli. “Irona..” Bisik Marcus sekali lagi.

Berhasil. Ran kemudian membuaka matanya perlahan. Dan tangan gadis itu sibuk  mengusap-usap wajahnya kini. “OMO!” Ran langsung terperanjat dan bangun dari posisinya. Ia terkejut melihat Marcus yang menjadi bantalannya tidur semalaman. Oh my…bagaimana keadaan tulang pria itu? pasti bengkok-bengkok. Racaunya sendiri dalam hati.

“Eoh…mianhe…” Ucap Ran menyesal melihat Marcus yang merintih kesakitan. Benar, kan? Tulangnya pasti sekarang bermasalah. Batin Ran. “Aish..seharusnya kau membangunkanku, pabo!” Maki Ran. Tapi tangan gadis itu memijati kaki pria itu.

“Haha…bagaimana aku membangunkanmu. Sedangkan aku sendiri tertidur. Sudahlah…aku tidak akan mati hanya karena merelakan diri memangku kepala cantikmu itu.” Ucap Marcus, mencoba menggoda Ran.

“Cih! Masih saja bisa menggodaku..” Cibir Ran.

Saat ini mereka sarapan bersama. Dan masih berada dirumah paman dan bibi Shin yang berkata mereka akan menginap lagi seperti semalam dirumah kerabat mereka. Alhasil, tentu saja Ran dan Marcus yang harus turun tangan menjaga toko bunga ini.

“Kemarin kau dari mana saja? Kenapa lama sekai, eoh?” Tanya Ran disela-sela sarapan mereka.

“Aigoo…baru saja sebentar, kau sudah merindukanku, Kim Ran, hum?” Goda Marcus.

“Ck! jawab saja! Jangan menggodaku!” Marcus hanya tertawa melihat Ran yang kesal.

“Aku mencari pekerjaan.” Jawab Marcus singkat. Tapi cukup untuk membuat Ran tersedak saat sedang menelan roti panggangnya.

“Uhuk! Mwo? Kau mencari pekerjaan? Untuk apa?” Tanya Ran menyerbu. Ia hanya tak habis pikir dengan Marcus. Untuk apa mencari kerja?

“Ya tentu saja untuk hidup, pabo! Aku kan tak mngkin terus bergantung padamu!”  Jawab Marcus. “Dan kau tak bisa melarangku!” Ancam Marcus sebelum Ran mengajukan protes.

“Ya! Kau fikir aku akan melarangmu. Ck! ya sudah…tapi ngomong-ngomong, kau sudah mendapatkan pekerjaan?” Tanya Ran lagi. Ia sepertinya begitu penasaran dengan hal ini.

“Kau ini cerewet sekali. ini rahasia. Kau akan tahu nanti.”

“YAK! KAU!” Seru Ran. “Dasar menyebalkan…” Desis Ran kesal. Tapi Marcus cukup bisa mendengar umpatan gadis itu padanya.

=flowered=

Ini pekerjaan yang Marcus bicarakan dengan Ran tempo hari. Ia sudah  bekerja 1 minggu sebenarnya disini. Menjadi supir dari truk pengantar barang yang beroprasi disekitar kota Seoul saja. Alasannya mengambil pekerjaan ini adalah karena ia butuh mengawasi pergerakan Kris dan Victoria. Tapi ia harus pintar bersembunyi jikalau ia maish ingin hidup. Jadilah ia memilih pekerjaan ini karena ia pikir pekerjaan ini tak akan mungkin dicurigai oleh Kris maupun anak buahnya.

Dan saat ini ia dalam perjalanan menuju Lypco Company. Perusahaannya sendiri, sebelum Kris dan Victoria menginvasi semuanya. Ia mengunakan maskernya. Lalu menggunakan topi agar lebih aman. Ia membantu pekerja lain untuk mengangkat barang yang diketahui itu adalah peralatan kantor. Marcus masih hafal semua itu, dimana ia selalu memesan alat-alat ini. Jadi ketika teringat rencana ini, ia langsung mendatangi perusahaan dimana ia sering memesan barang-barang ini dulu.

Perasaan deg-deggan pasti selalu terasa. Bagaimanapun ia hanya manusia biasa yang pasti akan merasakan ketakutan bila masuk kedalam kandang musuhnya. Ia menaiki tangga menuju gudang yang ditunjukkan oleh staff gudang Lypco Company. Dan ketika staff itu pergi. Marcus mulai melancarkan aksinya. Ia menyusup melalui pintu darurat yang terhubung langsung kedalam sebuah ruangan berlift yang tak banyak orang tahu. Hanya ia dan beberapa orang kepercayaannya saja. Kris dan Victoria saja tidak tahu. Tentu, karena mereka bukan sama sekali orang kepercayaan Marcus!

Ia menutup pintu darurat itu lagi. Dan disana ada sebuah lift. Lift itu akan langsung tehubung dengan lantai utama gedung ini. lantai dimana ruang president direktur berada. Dan tepat atau mungkin sebuah keberuntungan. Tadi ia sempat melihat Kris dan Victoria pergi. Jadi kemungkinan besar, lantai utama sepi. Dan ia pun bisa leluasa untuk beraksi mendapatkan beberapa berkas berharga yang sudah direbut oleh Kris dari tangan Taemin karena paksaan. Beruntung Taemin tak menyerahkan semuanya. Ia harus berterimakasih pada asistennya itu. karena sudah terlibat terlalu jauh dan mengorbankan nyawanya pula!

TING

Ia sampai di lantai utama. Lantai 29 gedung Lypco Company. Marcus mengedarkan pandangannya pada seluruh lantai ini. sebelumnya ia sudah menghubungi Taemin untuk menjemputnya disebuah ruangan kecil yang pasti Taemin tahu. Karena Taemin tahu tentang rahasia Lift ini.

TOK TOK

Marcus menoleh pada pintu setelah beberapa saat ia mengunggu Taemin menjemputnya. Ya, tentu saja yang mengetuk pintu ruangan rahasia ini adalah Taemin. Lantas segera saja Marcus mengikuti langkah Taemin yang memberitahunya bahwa dilantai 29 ini sudah sepi dan sudah dijaga oleh orang-orang mereka. Namun Marcus hanya memiliki waktu sedikit saja sampai Kris kembali pukul 11.30 nanti. Jadi sekitar 40 menit dari waktu sekarang ia berdiri didepan pintu ruangan presidet direktur—ruangannya dulu, dan ia kaan merebut ruangan itu lagi.

CKLEK

Semua masih sama. Dekor, tata letak. Semua masih sama sesuai ingatan Marcus. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya. Tidak! Ia tidak punya waktu untuk mengingat hal seperti itu! Ck!

Dengan cepat ia bergerak menyusuri ruangan itu. dimulai dari meja kerja. Ia memeriksa dengan teliti berkas-berkas yang tertata rapi dimeja itu. Siapa yang tahu disana ternyata ada berkas yang ia cari. Ck! tapi ternyata tidak ada. Hanya berkas tak penting. Ya, mana mungkin Kris meletakkan berkas yang dicari musuhnya disembarang tempat.

“AH!” Seperti diberi petunjuk. Marcus baru saja teringat dengan brangkasnya. Brnagkas yang tak pernah digunakannya sebelumnya. Dan mungkin Kris menggunakan brangkas itu. Ia cepat menuju ruang priadi diruangan ini. Dan dipojokkan dengan mudah ia menemukan brangkas itu. Cepat ia kesana. Dan benar. Brangkas itu terkunci. Berarti memang ada sesuatu yang penting yang Kris simpan didalamnya.

“Sial!” Umpat Marcus. Kala ia tak kunjung dapat membuka brangkas itu. Sudah banyak kata kunci yang ia gunakan untuk membuka brangkas itu. Hingga ia teringat sesutau. Tapi mungkinkah?

18041989

TING

“Mwo?” Gumam Marcus tak percaya. Ternyata sandi yang digunakan Kris adalah tanggal ulang tahun Ran. Dan jangan tanya dari mana Marcus tahu tanggal lahir Ran. Ia tahu karena ia sudah bayak mengobrol dengan gadis itu. Dan ternyata semua itu sangat berguna. Ingin sekali saat ini Marcus memeluk Ran. berterimakasih atas semua celotehan yang sering dianggap Marcus tak penting. Dan ia juga maish saja tak mengira, ternyata Kris memang benar-benar mencintai Ran. sampai-sampai menggunakan tanggal lahit gadis itu.

Dan lupakan tentang hal-hal itu sementara ini. Karena ia harus fokus dengan berkas berharga yang harus dicarinya. Didalam brangkas itu ada beberapa tumpuk map. Dan itu cukup membuat Marcus mendesah frustasi karena dengan begini ia harus sedikit berdusah payah mencari keberadaan berkas itu.

“Bukan ini…bukan ini…bu—“

BINGGO! Ia mendapatkannya. Ia mendapatkan berkas itu. ditumpuk ditumpukan paling bawah. Ah…seharusnya iia tahu berkas itu pasti tersimpan dibawah! Namun baru ia merasa senag. Jantngnya kini sudah diajak untuk berpacu kembali. Karena Taemin baru saja mengiriminya pesan.

SAJANGNIM. MAAFKAN AKU, TAPI TERNYATA MANAGER KRIS KEMBALI KE PERUSAHAAN LEBIH AWAL. MEREKA SUDAH ADA DIDALAM LIFT MENUJU LANTAI 29. AKU HARAP KAU SUDAH MENEMUKAN BERKASNYA SAAT INI SAJANGNIM.

DEG!

Marcus langsung saja membereskan map-map yang berceceran lalu memasukkannya kembali kedalam brangkas dan menutupnya lagi. Namun saat Marcus hendak keluar dari ruang pribadi itu. Ia mendengar suara pintu ruangan terbuka. Dan nampaklah Kris dengan menundukkan kepalanya memasuki ruangan ini.

Jantung Marcus sudah berdetak tak karuan saat ini ketika Kris melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan. Namun setelah itu juga, ia bisa sedikit lega saat Kris terlihat menerima telepon dan terdengar marah-marah dari nada bicaranya dan pria itu tergesa-gesa keluar lagi dari ruangan ini. Dan segera saja Marcus menggunakan kesempatan ini untuk keluar dari ruangan ini. Namun sebelum itu ia mengirim pesan pada Taemin.

AKU SUDAH DAPATKAN BERKASNYA. DAN AKAN KELUAR SEBENTAR LAGI. AMANKAN DISEKITAR RUANGAN RAHASIA. AKU AKAN KESANA.

Setelah pesan itu terkirim. Cepat Marcus bergerak keluar dari ruangan itu. Ia sempat terkejut ketika ia berpapasan dengan seorang didepan pintu ruangan presdir dan ternyata itu orang kepercayaannya. Hampir saja membuat jantungnya copot. Marcus mengikuti orang kepercayaannya itu. yang pastinya akan mengamankannya sampai keruang rahasia berada.

“Taemin sajangnim berpesan ia akan segera menemui anda. Karena ia sekarang sedang mengalihkan perhatian Kris sajangnim.” Ujar salah satu orang kepercayaan Marcus.

“Bilang tidak udah pada Taemin. Nanti aku yang akan menghubunginya bila aku ingin bertemu.” Titah Marcus.

“Baik, sajangnim.”

Marcus menyuruh semua orang kepercayaannya untuk pergi dari sekitar lantai 29 setelah ia sudah masuk kedalam lift. Tentu agar menghindar kecurigaan  berlebih dari pihak Kris. Dan ia benar-benar mengacungi jempol untuk kerja taemin dan orang kerpercayaannya yang lain. Ia tak habis pikir bila ia harus mengerjakan ini sendiri tanpa bantuan mereka.

….

“BRENGSEK! Bagaimana bisa ini terjad, hah!” Umpat Kris didepan bawahannya. “MATA KALIAN DIGUNAKAN UNTUK APA?!” Maki Kris. ia sudah naik darah. Bagaimana bisa mereka luput akan keberadaan Kyuhyun didalam perusahaan ini. apa berbulan-bulan Kyuhyun tak berkeliaran dihadapan mereka. membuat mereka lupa rupa pria itu? Sehingga saat ini mereka kecolongan dan hasru menerima fakta pahit bila Kyuhyun sudah menyusup kedalam perusahaan ini dnegan mulus saat ia pergi menemui klien. SIALAN! Umpatnya dalam hati.

Tapi tunggu—

“Apa truk yang membawa pesanan alat kantor kita masih disini?” Tanya Kris.

“Ne, sajangnim.” Jawab salah satu bawahannya.

Lalu sebuah senyum seringai terbit diwajah tampannya itu. Jika truk itu masih ada dihalaman parkir perusahaan ini. bukan tidak mungkin berarti Kyuhyun juga masih disini? Dan apsti akan menghampiri truk itu? Ternyata pria itu tak secerdik yang ia kira.

….

Kyuhyun berjalan tergesa dan terus waspada didetiap jalan yang ia lewati. Bukan tidak mungkin keberadaannya sudah tercium oleh Kris. dan saat ini ia sedang diawasi. Saat ini tujuannya adalah menuju pintu belakang yang tadi dilewatinya. Dan itu tak jauh lagi.

Mulus sekali rencananya. Dipintu belakang tak ada satu penjaga pun. Apakah benar- hari ini keberuntungannya. Karena saking mulusnya ia bisa membawa pergi berkas berharga ini? menyenangkan sekali.

Namun saat ia hampir menuju truk yang dikendarainya. Sebuah suara langsung membuatnya membeku dan terdiam ditempatnya. suara yang sepertinya sudah memuluskan rencananya,  namun menghancurkan rencananya pada akhirnya juga.

“Sepandai-pandainya tupai melompat. Tupai pasti akan jatuh juga. Bukan begitu, Kyuhyun -ssi?”

Jantung Marcus langsung seperti serasa berhenti. Tak ada kalimat lain yang bisa menggambarkan situasi ini selain: IA TERTANGKAP BASAH!

Kyu-Ran || FLOWERED | A Fanfiction By Gorjesso@2015 All Right Reserved
 
FF ini pernah aku post di blog pribadi (www.gorjesso.blogspot.com) dalam versi lain. Jadi kalau menemukana kesamaan itu memang disengaja. Maaf jika typo bagaikan ranjau ada dimana-mana. Karena gg ada typo itu gg rame!

TBC

KYU-RAN “Past” part 2

PART 2

Author : Gorjesso (www.gorjesso.blogspot.com) atau (www.gorjesso.wordpress.com)
Tittle : PAST
Category : Romance, sad, Maybe NC 17, series
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Ran
Other Cast : Lee Donghae

Hehe kalau begitu
Happy Reading… (

Kyu-Ran || Past | A Fanfiction By Gorjesso@2015 All Rights Reserved

Ironi Cinta :
Wanita mencintai laki-laki yang menyakitinya.
Laki-laki menyakiti wanita yang mencintainya.
_Mario Teguh_

Ran kini tengah berjalan bersama Donghae disebuah taman diakhir pekan. Dan membiarkan Donghae menggengam tangannya. Hal yang baru pernah ia izinkan selama Donghae menjadi sahabatnya. Karena mulai sekarang ia akan menyambut Lee Donghae sebagai seorang pria dan bukan sebagai Lee Donghae sahabatnya lagi. Walau rasanya sangat tidak nyaman namun ia harus tetap mencobanya, ia harus secepatnya membuaka hati kembali agar tidak terjebak pada masa lalunya lagi.

“Kau ingin minum?” Tanya Donghae saat mereka berteduh dibawah sebuah pohon rindang.

Ran menggeleng. “Belikan aku ice cream coklat saja.” Pintanya.

“Arrata. Tunggu, ne?” Donghae pun menuju sebuah mini market diluar taman ini meninggalkan Ran yang kemudian menunduk dalam dengan pikirannya yang berkeliaran entah kemana. Sengaja ia menyuruh Donghae membeli ice cream karena ia benar-benar tak nyeman dengan posisi seperti ini. Ia lebih menyukai Donghae sahabatnya, karena ia bisa bermanja-manja, bisa melakukan banyak hal konyol didepan pria itu, beda dengan sekarang yang harus menjaga sikapnya didepan pria itu.

“Anyeonghaseyo..”

Ran mendongak dan terkejut ketika melihat badut kartun pororo yang berdiri menutupinya dari sinar matahari. Ia pun berdiri sehingga ia sekarang tengah berhadapan dengan badut itu. “Anyeonghaseyo..” Balas Ran ramah.

“Kau sedang sedih, ya?” Tanya badut itu dnegan suara yang dibuat lucu. Sepertinya suara pria. Pikir Ran.

“AH…bagaimana kau tahu aku sedang sedih?” Tanya Ran dengn suara yang dibuatnya lucu juga.

“Aku hanya menebak.” Jawab badut itu. Seketika Ran pun tertawa karena badut itu menajwab dengan sebuah aegyo yang begitu menggemaskan. Ran memegang kepala badut itu karena gemas.

“Kau sangat menggemaskan!”

“Gomapta!” Balas badut itu lagi-lagi disertai aegyo.

“Bolehkan aku memelukmu?” Tutur Ran yang seketika membuat badut itu gugup walau tak jelas terlihat oleh Ran sendiri. “Bolehkah? Emm…Aku hanya sedang merindukan seseorang..jadi mungkin dengan memelukmu rinduku akan terobati.” Tutur Ran menjelaskan maksudnya.

Sedetik kemudian badut itu menganguk-anggukan kepalanya. “Wah…” Teriak Ran senang dan langsung memeluk badut itu memeluknya dnegan senang. Badut itu pun membalas pelukan Ran walau dengan ragu-ragu karena ia tak menyangka akan mendapat sebuah pelukan.

Beberapa detik kemudian pelukan itu terlepas dan Ran berterimakasih pada badut itu sebelum badut itu berpamitan pergi dari hadapannya. Dan sesaat kemudian juga Donghae kembali dengan membawa permintaan Ran yaitu sepotong ice cream coklat.

“Kau tadi bermain dengan badut?” Tanya Donghae.

“Oh, kau melihatnya?”

“Oo..Kau sepertinya senang sekali.”

“Yah…sepertinya karena sudah lama aku tidak melihat badut.” Jawab Ran sekenanya karena ia masih berpikir keras ketika ia menemukan kesamaan suara badut itu dengan suara seseorang yang begitu familiar ditelinganya. Tapi kemudian ditepisnya, karena rasanya tak mungkin badut itu adalah orang yang ia maksud, mungkin suara mereka hanya mirip. Ya, hanya mirip.

Disisi lain seseorang tengah menatap Ran dengan berbinar dan penuh rasa bahagia hingga jantungnya merasa penuh sesak. “Syukurlah jika kau senang…” Gumamnya penuh rasa lega.

Dan itu Kyuhyun.

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

1 bulan sudah Ran menjalin kedekatan dengan Donghae ynag dulunya adalah sahabatnya sendiri. Ran mulai merasa nyaman walau tak dipungkiri masih ada rasa sedikit canggung ketika mereka bersama dan disaat ia menerima perhatian yang begitu manis dari pria itu. Seperti saat ini ketika Ran sedang makan malam bersama Donghae disebuah restaurant yang sudah dihias oleh Donghae disetai juga candle light juga musik romantis.

“Kenapa kau harus menyiapkan musik dan semua ini, Hae-ah?” Tanya Ran setelah mereka merampungkan makan malam.

Donghae mengusap bibirnya dengan lap. Lalu kemudian menjawab pertanyaan Ran yang ia yakini sudah ingin dilontarkan padanya sejak tadi. “Bukan apa-apa. Hanya ingin sesuatu yang berbeda dan spesial untuk seorang yang juga spesial bagiku.” Jawab Donghae yang membuat Ran sedikit terperangah.

“Hae—Aku..” Ran menghela nafasnya. “Kau terlalu berlebihan. Kau hanya akan membuang uangmu..” Lanjut Ran.

“Uangku tak akan habis hanya karena ini. Lagi pula tak selalu aku melakukan ini.” Sanggah Donghae. Ran hanya bisa terdiam lalu mengalihkan perhatiannya dengan melihat kesekelilingnya yang merupakan pemandnagan Seoul dimalam hari karena mereka berada diarea luar restaurant.

“Ran..” Panggil Donghae. Ran pun menoleh.

“Sudah beberapa waktu ini aku berpikir untuk memutuskan tentang akan kemana kita membawa hubungan kita saat ini. Kau tahu sendiri kita sudah lama saling mengenal dan bahkan bersahabat. Jadi kupikir kita sudah saling tahu diri kita masing-masing.” Donghae menghela nafasnya sebentar dan Ran hanya menatap Donghae yang sepertinya tengah berbicara serius padanya.

“Aku ingin mengatakan bahwa aku ingin menikah denganmu.” Ran terkejut. Ia menutup bibirnya rapat dengan matanya yang melebar. “Hae—“

“Dengarkan aku dulu.” Potong Donghae. “Aku melakukan ini karena aku pikir kita sudah tak pelru pendekatan lagi, dan aku juga berpikir kita tak perlu lagi melakukan pertunangan. Aku ingin langsung menikahimu.” Jelas Donghae.

“Tapi—ini terlalu cepat, Hae…aku tahu kita sudah saling mengerti, tapi pasti kau tahu bahwa selama itu pula aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku dan baru sekarang ini aku mencoba untuk membuka hatiku untukmu. Ini—ini terlalu cepat..” Ujar Ran ia sendiri kebingungan untuk mencari kata yang tepat karena rasanya otaknya mendadak kosong mendengar penyataan Donghae. Menikah?

Donghae menunduk dan tersneyum miris. “Aku tahu kau pasti akan menolak. Apa kau masih mencitainya?”

Ran mendadak bingung. “Mencintai siapa?” Tanya Ran. Selama ini Ran memang tak pernah mengatakan riwayat percintaanya pada Donghae.

“Cho Kyuhyun.”

“Hae..Kau—“ Bibir Ran terkatup. Bagaimana Donghae bisa tahu tentang Kyuhyun? Astaga! Seberapa banyak yang Donghae ketahui tentang pria masalalunya itu? “Bagaimana kau tahu?” Tanya Ran setelah mengkondisikan isi kepalanya yang mendadak seperti benang kusut.

“Aku tahu. Tentu saja aku tahu, karena aku mencari tahu.” Jawab Donghae.

Namun sebenarnya yang igin ia katakan adalah : Tentu saja aku tahu, dia selalu berada didekatmu dimanapun kau berada, tidakah kau menyadarinya, Ran? Dia bahkan sedang duduk direstaurant ini dan menatapku dengan marah!

“Hae—“

“Bisakah kau benar-benar mencobanya denganku? Aku bisa membantumu MELUPAKAN Kyuhyun. Aku bisa.” Pinta Donghae.

Ran menggeleng. “Itu tak akan mudah.”

“Aku akan tetap mencobanya.” Ucap Donghae kekeh dengan permintaanya.

“Hae, kau bisa terluka bisa jika nantinya aku tidak bisa melupakannya.” Bujuk Ran. Ia tak bisa memhami pemikiran Donghae saat ini. Ia harus mencegah Donghae yang sedang bertindak gegabah.

“Tapi kita belum mencobanya.” Ucap Donghae lagi-lagi tetap kekeh.

“Hae—“

“Kumohon..” Lirih Donghae memotong bantahan Ran.

Ran pun hanya bisa terdiam. Ia menatap Donghae nanar. Ya Tuhan…kenapa malah menajdi seperti ini. Bayangan pria masa lalunya bahkan belum menghilang, kini Donghae malah membuat permintaan yang sangat sulit ia kabulkan. Tapi apa daya dirinya ketika melihat Donghae yang menatapnya dengan mata penuh rasa sakit dan putus asa serta penuh permohonan. Ia tak ingin menyakiti pria ini. Tapi jika menenuhi permintaan Donghae, ia takut nantinya ia juga akan menyakit Donghae. Lalu apa yang harus dilakukannya?

“Aku akan memikirkannya lagi.” Ucap Ran setelah mempertimbangkannya. “Aku akan mencobanya.”

Donghae tersenyum senang. “Terimakasih, terimakasih.” Ucap Donghae.

Setelah menyantap makanan penutup. Mereka melakukan Dansa. Kedua tangan Donghae kini melingkari pinggang ramping Ran begitu juga dengan Ran yang kini tengah berpegangan pada pundak Donghae. “Bolehkah aku menciummu?” Tanya Donghae.

Ran melebarkan matanya, terkejut. “Ne?”

“Bolehkah?” Tanya Donghae lagi.

“Aku—“ Belum sempat Ran menyelesaikan kalimatnya Donghae sudah mencium tepat pada bibir gadis itu. Hanya mengecup sebenarnya. Dan kemudian melepasnya.

“Gomawo.”

PRANGGGG

Ran dan Donghae terkejut saat suara barang-barang pecah yang berasal dari area dalam restaurant begitu memekakan. Begitu juga orang-orang yang ada disana. Namun Ran hanya bisa melihat seorag pria tinggi yang tengah berjalan tergesa-gesa menjauh dari tempat yang sudah berantakan karena ulahnya. Pria yang Ran sadari begitu familiar untuknya melihat postur tubuh dan cara berjalan yang masih Ran hafal itu milik siapa.

“Jangan dilihat.” Ucap Donghae sembari menarik dagu Ran untuk menatap padanya dan kemudian mencium Ran kembali dan kini ciuman itu lebih berani karena Donghae sudah menyesap pelan bibir ranum Ran. Ran hanya diam membiarkan Donghae melakukannya. Walau tak dipungkiri ia masih terpikir dengan pria yang membuat kekacauan tadi.

Karena entah mengapa ia berharap bahwa pria itu adalah pria masa lalunya. Pria yang diam-diam masih dirindukannya.

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

“ARRRRGGGHHHHHH!!!” Teriak Kyuhyun melemparkan segala benda yang ada disekitarnya membuat ruangan tamu apartemennya begitu berantakan.

“BRENGSEK! BERANINYA DIA MENCIUM GADISKU!!!” Geramnya kini ia memecahkan sebuah vas bunga.

PRANGGG

“ARGHHHHH!!!!” Teriaknya lagi. Tapi kemudian seperti jely yang kenyal, Kyuhyun luruh diatas lantai dingin apartemennya. Memukul-mukul dadanya yang rasanya sesak sekali.

Ia dengar. Ia mendengar apa yang Donghae katakan pada Ran. Kyuhyun mendengar Donghae yang akan menikahi Ran. Gadisnya. Saat itu pula rasa amarahnya memuncak dan ingin muncul dihadapan mereka dan memukul Donghae hingga cacat karena berani melamar Ran, namun ia tak dapat apa-apa karena kemudian ia begitu dibayangi rasa takut bila Ran terkejut melihat kehadirannya yang terlalu tiba-tiba. Ia pun hanya diam dan terus mencoba bertahan melihat apa yang akan terjadi hingga disaat mereka berciuman. Ia sudah tidak tahan lagi. Rasanya hatinya seperti tercabik-cabik. Rasanya sakit.

Dan ia mempertanyakan sebuah pertanyaan pada dirinya sendiri. Kenapa dirinya harus se-pengecut ini?

Lihatlah, Donghae saja bisa melamar Ran. Kau? Bagaimana dengan dirimu yang hanya bisa melihat gadis yang kau anggap adalah milikmu dari jauh? Sebenarnya siapa dirimu?

Kyuhyun termenung dengan rasa sakit yang begitu menyesakan dalam hatinya. Memikirkan kisah cintanya yang begitu rumit dan menyedihkan. Ia mencintai gadis itu, tapi ia tak berani mengakui kesalahnya dimasa lalu hingga kini ia menjadi pengecut atau mungkin maha pengecut.

“Hiks…Hiks…Ran…” Lirihnya disertai isakan tangis yang akhirnya kembali pecah selama beberapa tahun tak pernah lagi dilakukannya.
  
Kyu-Ran || Past | A Fanfiction By Gorjesso@2015 All Rights Reserved
 
Kyuhyun kini sedang bersiap di ruangannya dan menatap cermin yang menampakan dirinya dalam balutan jas armani hitam yang terlihat elegan dan menaikan kadar ketampanan yang memang tak usah lagi dihitung. Ia kemudian memberikan sedikit gel diatas rambut tebal hitamnya dan merapikannya sedikit hingga kini keningnya yang lebar terlihat. Ia terlihat seperti pria dewasa saat ini. Walau kenyataannya demikian. Ia yakin ketika ia keluar dari ruangannya nanti ia akan melumpuhkan ratusan jantung wanita yang melihatnya.

Ia pun keluar dengan langkah percaya diri dan kemudian berjalan seperti model dengan Sungmin dibelakangnya yang berdandan tak kalahh tampan dan rapi darinya. Apalgi pria itu kini sudah mempunyai istri pastilah ada yang merawat pria itu. Ck! Kyuhyun iri jika mengingat hal ini.

“Kau sudah susun rencananya, Hyung?” Tanya Kyuhyun menoleh pada Sungmin yang berdiri disebelahnya ketika mereka ada didalam lift menuju lantai 20 untuk melakukan rapat rutin bersama para pemimpin proyek dalam perusahaannya termasuk juga dari anak perusahaannya. Yang artinya DELCO juga ikut dalam pertemuan rutin kali ini.

Sebelumnya, Kyuhyun baru saja menceritakan perhilal Donghae dan Ran pada Sungmin. Dan kemudian Sungmin memberi usul agar Kyuhyun muncul saat rapat rutin para pemimpin proyek besoknya. Karena memang Kyuhyun jarang sekali muncul dalam pertemuan rutin itu. Kyuhyun mulanya ragu untuk menyetujui usul ini karena hatinya masih terasa sakit melihat apa yang baru saja dilakukan Donghae pada Ran. Dan ia memang masih belum siap bertemu dengan Ran. Tapi lagi-lagi Sungmin memberi masukan pada Kyuhyun agar segera muncul atau tidak sama sekali dan yang kemudian Sungmin mengatakan jika Kyuhyun masih takut maka jangan sekalipun berniat untuk muncul dihadapan gadis itu karena pasti Donghae akan segera memiliki Ran. Kyuhyun pun panik dengan masukan dari Sungmin itu, setelah berpikir keras, ia akhirnya menyetujui usul tersebut. Lalu kemudian ia dan Sungmin merundingkan rencana munculnya Kyuhyun dihadapan Ran agar tidak terkesan bahwa pria itu selama ini sudah memonopoli adanya Ran di DELCO yang merupakan anak perusahaan milik Kyuhyun. Walaupun kenyataannya berkata demikian.

Sungmin mengangguk mantap. “Ya, tentu saja. Persiapkan saja dirimu. Jonghyun baru saja memberitahuku jika Ran sudah tiba 5 menit yang lalu.”

“Baiklah.” Kyuhyun menghela nafasnya untuk mengurangi kegugupannya. Saat ini ia merasa seperti sedang berdiri ditepian jurang atau ditepian terbing yang terjal.

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

Suasana ruang rapat riuh oleh percakapan karyawan yang sednag bertegur sapa. Karena setiap 1 tahun sekali Lypco Group akan menjalankan sistem pertukaran karyawan dalam perusahaanya sehingga terkadang para karyawan juga harus berpisah dengan karyawan lain yang selama 1 tahun mereka bekerja. Moment inilah yang kadang membuat mereka bisa bertemu dan saling menyapa.

Namun disebuah sudut seorang gadis duduk dengan malas karena ditempat ini ia sendirian. Tak mengenal siapapun terkecuali dengan rekan kerjanya dikantor yang saat ini malah meninggalkannya untuk mengobrol dengan yang lainnya. Menyebalkan sekali. membuatnya merutuki adanya sistem pertukaran karyawan yang dilakukan oleh Lypco Group.

“Eishh…” Desisnya kesal.

CKLEK

Suara pintu ruang rapat terbuka disana nampak beberapa ajudan berjalan mendahului seseorang yang berada dibelakang mereka. seorang pria tampan dengan setelan jasnya yang menambah beberapa kali lipat ketampanannya. Suasana riuhpun mendadak menjadi senyap ketika melihat ternyata Presiden direktur mereka datang. Jarang sekali, dan ini sesuatu yang langka bagi para karyawan dari anak cabang untuk bertemu langsung dengan presiden direktur mereka yang tampan dan juga misterius. Oh Tuhan! Lihatlah para wanita yang mengangakan mulutnya karena tak sanggup melihat pesona presiden direktur mereka.

Para karyawan pun dalam bebrapa detik langsung berdiri berjejer pada posisi mereka lalu membungkukan badannya sebagai rasa hormat pada pimpinan tertinggi mereka.

“Selamat Pagi.”

“Pagi…” Jawab semua karyawan serempak menjawab salam dari asisten presiden direktur mereka Lee Sungmin yang juga tak kalah tampan, tapi sayangnya pria itu sudah beristri membuat para karyawan wanita gigit jari iri pada istri pria itu yang begitu berutung.

“Hari ini kita akan mengadakan rapat rutin yang mungkin terasa berbeda karena kita akan dipimpin langsung oleh Cho Kyuhyun sangjanim.” Sungmin memberi isyarat pada Kyuhyun untuk menyapa para karyawannya. Namun belum melakukannya para karyawan wanita sudah memekik tertahan karena impian mereka untuk bertemu CEO tampan negri ini tercapai.

“Selamat pagi.” Ucap Kyuhyun menyapa.

“Pagi!!!” Jawab mereka serempak namun lebih didominasi oleh suara para karyawan wanita yang masih belum teralihkan dari keterpesonaannya pada Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum tipis melihatnya. “Ini pertama kalinya setelah sekian lama aku tidak memimpin rapat ini. Jadi buat rapat ini menyenangkan.” Ujar Kyuhyun dnegan pengucapan khas para CEO namun berbeda jika CEO Cho Kyuhyun yang tampan sekaligus misterius yang mengucapkannya dengan suaranya yang bass dan terkesan—seksi?

Oh, untuk kata yang terakhir itu mungkin hanya berlaku untuk para wanita.

Kyuhyun menyuruh semua karyawan untuk duduk melingkari meja rapat yang panjangnya bukan main karena jumlah karyawannya memang sangat banyak. Disamping kanan Kyuhyun duduk Sungmin disebelah kirinya ada Direktur dari salah satu anak cabangnya. Pria itu bersikap tenang atau sedang berusaha tenang sedangkan seorang gadis yang membuatnya ada dirapat ini tengah menatapnya dnegan wajah yang tidak bisa diartikan. Entah terkejut, marah, atau apa. Kyuhyun tidak bisa menjelaskannya. Dan saat pandangan mereka bertemu, gadis itu akan membuang wajahnya kearah lain seolah Kyuhyun adalah seorang pria dengan wajah buruk rupa.

Bukan! Bukan wajahnya! Melainkan semua yang ada ditubuh Kyuhyun itu buruk rupa dan tak pantas baginya itu melihat Kyuhyun. Dan hati ini seperti diremas kuat menangkap kenyataan itu.

Kyuhyun mencoba fokus pada presentasi setiap perwakilan anak perusahaan dengan masing-masing divisi. Tapi sebenarnya ia sama sekali tidak memperdulikannya. Karena matanya sedari tadi sesekali akan melirik pada Ran yang terlihat fokus pada kertas-kertas yang disuguhkan sebagai bahan presentasi dari anak perusaan lainnya. Hingga tibalah giliran DELCO yang akan mempresentasikan. Dan kini semua orang yang ada diruangan itu terlihat menuggu siapa yang akan mempresntasikannya.

Terjadi sedikit kegaduhan karena karywan berbisik-bisik siapa perwakilan dari DELCO kenapa bisa-bisanya tidak maju untuk melakukan presentasi. Padahal rapat rutin ini dipimpin langsung oleh presden direktur mereka. berani-beraninya perwakilan dari DELCO bersikap demikian.

Sedangkan pihak dari DELCO sedang pusing karena sedari tadi perwakilan dari mereka enggan untuk beranjak dari tempatnya untuk berdiri dan maju mempresentasikan proyek mereka yang patut dibanggakan dibanding anak perusahaan milik Lypco Group  yang lain.

“Nona Kim, cepatlah..kenapa kau hanya diam???!!” Geram Shin Nayoung karena sejak tadi rekan kerjanya itu tidak mau melakukan tugas dari direktur mereka untuk melakukan presentasi entah apa yang membuatnya begitu. Karena disaat Kim ran dipasrahi untuk tugas ini gadis itu terlihat sangat bersemangat namun kenapa sekarang ini berbeda?

“Bisakah kau menggantikanku?” Tanya Ran akhirnya berbicara setelah ia diam cukup lama. Dadanya tengah bergemuruh dan rasanya ia ignin meledak. Ingin memecahkan segala apapun yang ada disekelilingnya. Lihatlah roknya yang sampai kusut karena ia menggenggamnya sebagai pelampiasan rasa yang sedang bergejolak didadanya.

“N-nde? Kau bercanda? Ini tugasmu. Aku sama sekali tidak bersiap-siap untuk tugas itu. aku tidak mau!” Jawab Shin Nayoung menolak.

Ran mendesah pelan. “Aku  hanya merasa tiba-tiba tidak enak badan. Ku mohon, gantikan ak, ne?” Pinta Ran pada Nayoung.

Nayoung pun refleks menyentuh dahi Ran mengecek suhu tubuh gadis itu. Dan benar, suhu tubuh ran memang nampak hangat tapi tidak hangat seperti suhu normal manusia.

“Ada apa dengan perwakilan DELCO?” Suara Sungmin memecah ketegangan yang terjadi didalam rapat itu. “Apakah tidak akan ada proyek yang akan disampaikan dalam rapat ini? Bukankah prospek kerja  kalian sangatlah baik tahun ini?” Tanya Sungmin.

Perwakilan dari DELCO yang lain hanya bisa berharap-harap cemas mendengar pertanyaan asisten presiden direktu mereka yang terdengar seperti teguran dan alarm agar mereka cepat menyampaikan presentasi.

“A—i—itu, perwakilan dari kami tiba-tiba merasa tidak enak ba—“

“Susah, aku akan melakukannya.” Potong Ran ketika Nayoung menjelaskan mengenai keadaan dirinya yang ia sendiri bingung kenapa dalam sekejap tubuhnya seperti tidak berdaya seperti ini hanya karena ia bertemu dengan pria masalalunya?

“Tapi nona Kim—“

“Sudahlah.” Setelah mengabaikan kekhawatiran rekan kerjanya itu Ran beranjak dari kursinya dan melangkah menuju podium yang terletak cukup jauh dari posisinya. Ini sangat menyusahkan untuknya karena untuk melihat kedepan saja Ran tiba-tiba merasa pusing dan berkunang-kunang. Jalan didepannya seolah sangat banyak dan bebrapa kali ia terseok dalam perjalannanya menuju podium.

Karyawan lain yang melihat itu tiba-tiba menjadi khawatir. Karena Ran tadi hampir terjatuh jika tidak ada karyawan yang langsung dengan sigap membantunya kembali berdiri tegak. Namun Ran mengatakan jika ia tidak apa-apa. Dan tetap melanjutkan perjalanannya menuju podium dengan susah payah. Ia kemudian sampai pada anak tangga menuju podium itu, tangga yang baginya terasa sangt tinggi dan ia seperti sudah tidak sanggup lagi untuk melangkahkan kakinya karena tiba-tiba saja ia merasa seperti dihantam sesuatu yang sangat keras pada kepalanya.

“Ya Tuhan…” Lirihnya merasakan sakit yang amat sangat dikepalanya. Ia berjalan sambil memegangi kepalanya itu menuju podium. Ia benar-benar sudah tidak sanggup tapi hati kecilnya tetap memaksanya untuk berjalan menuju podium bukan karena kewajibannya untuk menyampaikan presentasi ini, walau itu sebagian kecil alasannya. Tapi alasan terbesarnya adalah ingin membuktikan apda seseorang yang kini tengah memndangnya khawatir dan terlihat gelisah bahwa ia baik-baik saja.

Dan ia berhasil sampai dipodium walau dengan susah payah. Ia meletakan kertas yang dibawanya pada podium itu lalu sekali lagi meringis menahan sakit yang sekali lagi menghantam kepalanya dan kali ini terasa lebih sakit dari sebelumnya.

“Oh…Ya Tuhan..”Lirihnya. Ia menghembuskan nafasnya mencari oksigen yang hilang entah kemana membuat penderitaanya menjadi berkali lipat bertambah.

“Selamat pagi.” Ucapnya dengan susah payah persiapannya beberapa hari yang lalu agar bisa tampil dengan baik untuk pertama kalinya terasa sia-sia sekarang ini. suaranya benar-benar tercekat ditenggorokan seperti seorang orator amatir yang baru pertama kali melakukan pidato.

Ran kembali memegangi kepalanya. Ya Tuhan… lagi lagi Ran mengucap, memohon pada Tuhannya agar mengurangi sedikit rasa sakitnya. “Maafkan aku karena terlalu lama melakukan persiapan sehingga membuat kegaduhan. Sekali lagi aku meminta maaf selaku perwakilan dari DELCO corporation.” Ucap Ran susah payah dengan suara bergetar dan sama sekali jauh dari harapan ketika ia latihan beberapa hari yang lalu.

Audiens terlihat tidak memperdulikan hal itu. Mereka kini justru tengah khawatir dnegan kondisi Ran yang tak terlihat baik-biak saja. Terutama untuk Kyuhyun yang terlihat sangat khawatir, semua yang ada disana bisa melihat ekspresi dari president direktur mereka itu. sesekali Kyuhyun ingin sekali maju dan menyuruh Ran untuk duduk kembali melihat beberapa kali gadis itu memegangi kepalanya, tapi kemudian Sungmin mencegahnya dengan mencekal tangan Kyuhyun agar tidak melakukan hal macam-macam karena saat ini mereka berada dalam rapat dan karyawan lain pasti akan menyalah artikan sikapnya nanti.

Tapi persetan dengan yang Sungmin katakan, Kyuhyun sudah tidak tahan lagi melihat Ran yang beberapa kali terhuyung dan seperti akan jatuh. Hal itu membuat jantung Kyuhyun hampir berhenti berdekat karena terkejut melihatnya.

“Baiklah, untuk menyingkat waktu. Saya akan langsung menyampaikan prospek kerja dari DELCO corporation tahun ini.” Layar dibelakang Ran kemudian menyala menunjukan diagram hasil kerja keras karyawan DELCO yang sangat membanggakan.

Ran membalikan badanya, namun sekali lagi kepalanya terasa dihantam dan kali ini benar-benar sangatlah sakit. Ia tak sanggup. Sungguh sangat tidak sanggup lagi. Persetan dengan pembuktianya, ia merasa ia akan ambruk sebentar lagi. Dan benar, semuanya tiba-tiba terasa gelap setelah sekali lagi kepalanya dihantam rasa sakit.

BRUGH

“YA TUHAN!!!” Pekik semua orang yang ada dalam ruangan itu. Tak terkecuali Kyuhyun yang langsung berlari menghampiri Ran yang sudah tergeletak dilantai.

“Ran!” panggilnya menepuk pipi gadis itu. “Kim Ran! Kim Ran!” Kyuhyun tetap memanggil gadis itu mencoba menyadarkannya tetapi Ran sama sekali tidak merespon.

“APA DISINI TIDAK ADA YANG BERINISIATIF UNTUK MENGHUBUNGI AMBULANCE?!” Pekik Kyuhyun marah. Bahkan sangat marah karena orang lain sama sekali tidak peduli melihat ada orang yang tengah dalam keadaan darurat. “CEPAT PANGGILKAN ATAU KALIAN KUPECAT SEKARANG JUGA!” Teriak Kyuhyun lagi penuh emosi.

Karyawan lain terlihat sibuk mengambil ponsel mereka untuk mengubungi ambulance. Namun Sungmin mengintruksi bahwa ia sudah menghubungi ambulance. Sungmin pun mendekati Kyuhyun yang sedang memangku tubuh Ran. “Aku sudah menghubungi ambulance, mari kita bawa dia keluar.”

Kyuhyun langsung dengan sigap mengendong Ran dengan kedua tangannya. Membawanya keluar dari ruangan itu berjalan cepat menuju lift yang akan mengantarkannya menuju lantai dasar gedung Lypco Group. Dilantai 1 terlihat para perawat sudah bersiap menuggu pasien mereka. Jadi ketika Kyuhyun muncul dari lift mereka langsung sigap membantu pria itu yang ternyata sama sekali tidak membutuhkan tandu dan menolak untuk dibantu untuk membawa seorang gadis yang menyebabkan mereka ada disini.

Kyuhyun meletakan Ran pada ranjang sementara didalam ambulance. Sementara mobil itu berjalan menyusuri jalanan Seoul yang ramai, dokter spesialis yang selalu sigap untuk menangani keluarga Cho memeriksa gadis ini. Sebetulnya dokter Park—Dokter keluarga Cho—juga sempat dibuat bingung ketika Sungmin menghubunginya dan mengtakan untuk datang ke Lypco Group segera dengan membawa ambulance, dia pikir diantara keluarga Cho ada yang sedang membutuhkan penanganan cepat tetapi ternyata bukan salah satu dari keluarga bangsawan ini yang sakit. Melainkan seorang gadis cantik yang bahkan pewaris kekayaan keluarga Cho mau menggendongnya menuju ambulance, Dokter Park menjadi tersenyum dalam diam karena menyadari gadis ini pasti sangat spesial untuk Kyuhyun. Sebuah kemajuan karena selama ini kedua orang tua Kyuhyun mengeluh tentang Kyuhyun yang sama sekali tidak pernah mau untuk dekat dengan wanita manapun.

“Dia hanya merasa sedikit shock dengan keadaan atau ada trauma yang membuatnya merasakan sakit di kepala namun karena dipaksakan ia menjadi seperti ini. Dengan istirahat selama 1 hari ia bisa sembuh.” Ujar dokter Park pada Kyuhyun yang sejak tadi tidak berhenti memandang khawatir gadis yang tengah diperiksanya. Dan, oh..jangan lupa dengan tangan Kyuhyun yang terus menggengam tangan gadis itu. Manis sekali.

Kyuhyun menghela nafas lega. Walau sama sekali tidak mengurangi kekhawatirannya pada keadaan Ran saat ini. “Ya Tuhan…kau membuatku hampir mati.” Gumam Kyuhyun lalu mengecup tangan gadis itu, membenamkan bibirnya cukup lama disana.

Dokter Park yang melihatnya hanya bisa memalingkan muka karena merasa tidak pantas melihat hal yang terlalu pribadi seperti ini, namun ia tersenyum senang melihat Kyuhyun yang terlihat lebih manusiawi dari sikap dingin dan angkuhnya yang seolah hilang. Ini akan menjadi berita bagus jika saja kedua orang tua Kyuhyun mengetahui bila anak bungsunya bahkan bisa terlihat khawatir pada seseorang. Saat Tuan Cho sakit saja Kyuhyun hanya bersikap biasa saja. Karena memang diantara ayah dan anak itu terlihat kurang akur.

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

Setitik cahaya menghampiri kedua bola mata Ran yang akhirnya kembali menutup karena silau. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba membiasakan dengan cahaya disekelilingnya. “Ah..” Ringisnya mersakan perih dikepalanya karena mencoba bangun untuk melihat sekelilingnya. Namun ia urungkan, jadi ia kembali berbaring, mengamati sekelilingnya yang putih dan dari penciumanya ia mengetahui bau obat-obatan mnyapanya. Ia bisa menyimpulkan bahwa ia berada di rumah sakit atau klinik saat ini. Ia mengingat kejadian tadi pagi saat rapat. Dan ia menjadi meringis sendiri mengingat betapa tidak berdayanya ia.

Saat ia hendak mengusap kepalanya, ia merasakan tangannya yang tertahan oleh sesuatu. Ia melirik kesisi kiri tubuhnya dan mendapati seseorang ada disana tengah menelungkupkan kepalanya dengan mata terpejam—tidur. Dan jantung Ran kembali bergemuruh karena hal ini. Matanya mendadak mengabur karena airmata yang dalam sekejap memenuhi rongga matanya. Sejumput rasa sakit perlahan-lahan merambati dadanya, dadanya benar-benar sangat sesak saat ini untuk beberapa alasan yang Ran tak mengerti sama sekali.

Namun Ran terdiam memandangi wajah pria yang tertidur lelap sambil memegangi tangannya ini. Dipergelangan tangannya ia mampu merasakan kehangatan yang akhirnya merambat kesekujur tubuhnya namun tidak bisa mengalahkan rasa sakit yang mendera dadanya. Namun sedikit rasa rindu muncul tiba-tiba disana. Rindu akan memandangi wajah tampan milik pria ini. Cho Kyuhyun.

Ran mengusap airmata yang jatuh dengan tangan yang satunya.

Tak mau berlama-lama larut dalam kesakitan, ia mencoba menarik tangannya. Namun siapa sangka pergerakannya ini ternyata malah membangunkan Kyuhyun yang langsung sigap berdiri dengan mata melebar terkejut seperti baru saja mendapatkan jackpot besar.

“Kau sudah sadar?” Tanya Kyuhyun, yang langsung meraih kedua bahu Ran mengguncangkan tubuh gadis itu pelan.

Ran hanya terdiam melihat reaksi pria ini. “Ya Tuhan…terimakasih kau sudah sadar..” Ucap Kyuhyun bersyukur, kemudian ia hendak memeluk Ran namun dengan segera Ran mendorong tubuh Kyuhyun menjauh dan menatap Kyuhyun tajam cenderung—benci?

Kyuhyun terdiam beberapa saat setelah menerima penolakan gadis dihadapannya ini. “Ran..”

“Apa  yang kau lakukan? Kau ingin melakukan hal kurang ajar padaku?” Tanya Ran sakartis. Matanya kini benar-benar menatap Kyuhyun dengan benci.

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

TBC

Hehe….sampai jumpa di part selanjutnya…

KYU-RAN “Past” part 1

PART 1

Author : Gorjesso (www.gorjesso.blogspot.com) atau (www.gorjesso.wordpress.com)
Tittle : PAST
Category : Romance, sad, Maybe NC 17, series
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Ran
Other Cast : Lee Donghae

Kyu-Ran || Past | A Fanfiction By Gorjesso@2015 All Rights Reserved

Ironi Cinta :
Wanita mencintai laki-laki yang menyakitinya.
Laki-laki menyakiti wanita yang mencintainya.
_Mario Teguh_

Seorang gadis sedari tadi masih terpaku ditempatnya setelah berpapasan dengan seorang dari masa lalunya. Ia menunduk bingung dengan respon tubuhnya ini. sebegitu berpengaruhkah orang itu baginya? Pikir gadis ini sendiri.

Namun kedatangan seorang teman yang langsung dengan hebohnya memeluk dirinya membuat gadis berdarah campuran ini tersadar dari lamunannya.

“Kim Ran…wae?” Tanya Jung Soori yang memang sedari tadi memperhatikan teman semasa high schoolnya itu. “Kau tidak terlihat baik-baik setelah bertemu dengan manusia tengil itu.” Tutur Soori dengan dagunya menunjuk pada seorang pria yang dimaksud olehnya sebagai ‘manusia tengil’.

“Molla..” Jawab Ran tak peduli. Namun ia sedikit terkekeh ketika mendengar panggilan ‘manusia tengil’ yang sudah dari dulu disematkan oleh Soori pada pria yang tadi berpapasan dengannya, pria masa lalunya, pria yang pernah ada dalam hatinya, atau…mungkin sekarang juga masih sama.

Molla.. Batinnya tak mengerti dengan perasaannya sendiri.

“Kau tahu? Manusia tengil itu menjadi sangat dingin dan angkuh sejak lulus dari high school. Dia menjadi benar-benar menyebalkan setelahnya, karena kami masuk dalam jurusan yang sama di universitas. Sial sekali aku!” Cerita Soori. Ran lagi-lagi terkekeh. Tak menyangka rasa benci Soori pada ‘manusia tengil’ itu masih membara hingga saat ini.

“Berarti kau cukup dekat dengannya, kan?” Celetuk Ran seketika membuat Soori menatap tajam padanya.

“YAK! Kami ini selalu menjadi saingan di universitas!” sangkalnya.  “Dia bahkan seperti tidak mengenalku!” Tambahnya dengan wajah yang sudah memerah karena marah. “Untung saja dia lulus dengan cepat dan pindah keluar negeri.”

“Dia sempat belajar keluar negeri?” Tanya Ran.

Soori mengangguk mengiyakan. “Tepatnya di Amerika, ia melanjutkan S2 nya disana. Dan setelah itu dia langsung menjabat menjadi CEO di perusahaan ayahnya.”

Ran tersenyum sembari duduk ditepi jalan dekat apartemennya. Memang sudah malam, tapi tiap ia melewati jalan menuju apartemnnya ia menyempatkan untuk sekedar duduk dan meminum latte atau coklat panas yang ia beli dari cafe yang letaknya berseberangan dengan tempat yang didudukinya.

“Bintangnya tidak banyak.” gumamnya sembari menatap langit yang  hitam dengan beberapa bintang yang menggantung.

Kim Ran adalah seorang penata ruang profesional. Sudah banyak karya design interior milik Ran yang dipublikasikan dan hasil yang diperoleh sangat memuaskan karena antusias publik dengan hasil rancangan Ran selalu tinggi. Berlomba-lomba berbagai perusahaan ingin menggunakan keahlian Ran dari luar maupun dalam negerinya yang sudah lama sekali ditinggalkannya selama ia belajar di Prancis lalu ia lanjutkan di Jerman. Hingga akhirnya ia memilih sebuah perusahaan ternama di Korea Selatan karena kontrak kerja yang ditawarkan begitu menjanjikan.

Ran berdarah campuran antara Korea dan Belanda yang ia dapat dari ayahnya, dan darah Jepang dari ibunya yang kini mereka lebih memilih tinggal di Amsterdam dan tinggallah Ran di negara ini sendirian walau pun sudah terbiasa sejak ia lulus dari high school dulu.

Namun ketika ia hendak memutuskan kembali ke Korea, gadis bermata coklat ini sempat bingung dan ragu. Pertemuannya tadi dalam acara reuni dengan seorang dari masa lalunya membuat dirinya kembali melayang dalam masa lalu. Mengingat kembali sebuah kisah cinta monyet yang sempat terjadi dimasa ia masih di high school. Pria masa lalunya bernama Cho Kyuhyun. Pria yang tampan dan pintar. Mereka pertama berkenalan semasa mereka duduk dibangku kelas 2 dan memilih club ekstra yang sama yaitu basket.

Ran dulunya adalah pemain basket tim putri saat di junior high school. Namun sebuah cedera dibahunya membuat dirinya mengubur impiannya dalam-dalam untuk menjadi pemain basket profesional. Maka dari itulah ia memilih untuk menjadi menager tim basket demi menyalurkan rasa cintanya pada bidang olah raga itu. Dari sana ia dan Kyuhyun mengenal dan semakin dekat. Lalu dibulan ke 4 mereka menjadi teman dekat, Kyuhyun menyatakan cintanya dihadapan banyak orang pada Ran, yaitu disaat tim basket sekolahnya baru saja memenangkan piala gubernur. Romantis bukan?

Ran tersenyum lagi, namun ketika ia mengingat sebuah kisah lagi, kisah dibalik perpisahan mereka yang dilihat baik-baik saja diluarnya, Ran tersenyum kecut.

Saat itu, ia bahkan tak baik-baik saja. Ia terpuruk hingga ia meminta ayahnya untuk menyekolahkannya di luar negeri hingga akhirnya ia bersekolah di Prancis saat itu dan sejak itu pula ia bertekad akan melupakan semua tentang Kyuhyun, tentang cinta mereka yang ia pikir memang hanya cinta monyet. Ran kemudian tumbuh menjadi wanita yansg sukses dan menjadi incaran banyak pria yang kelasnya bukan main-main lagi. Bahkan pangeran Hary adik pangeran William dari kerajaan Inggris itu pernah meliriknya. Namun kemudian tak ada kabar lagi.

Selalu seperti itu, pria-pria yang datang mendekatinya tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar bahkan setelah mereka berkenalan dan berkencan selama 1 bulan. Mulanya Ran tidak merasa aneh, namun sekarang ia patut merasa curiga karena mereka selalu menghilang tepat pada 1 bulan ia dan pria-pria itu saling mengenal.

Sejenak, Ran berpikir adakah yang salah dengan dirinya, namun setiap kali ia bertanya pada Lee Donghae, temannya yang sama-sama dari Korea saat ia berkuliah di Prancis. Pria itu bahkan mengatakan ia terlalu sempurna untuk takaran seorang wanita, Donghae sendiri selalu memanggilnya ‘Angel’. Namun, dulu juga Donghae sempat menghilang dan menghindar darinya hingga ketika Ran meyakinkan pria itu bahwa tak kan terjadi apapun jika pria itu dekat dengannya, Donghae pun kembali dekat dengannya dan mereka akhirnya bersahabat hingga sekarang.

CKLIK!

Sebuah gambar dirinya sedang memegang gelas latte dan latar gambar langit di post olehnya di akun media sosial miliknya. Disana juga ia menulis “Malam dengan sedikit bintang ***”

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

Cho Kyuhyun menyunggingkan sebuah senyum di bibirnya kala ia melihat pada ponselnya dan disana ia melihat sosok orang yang dicintainya baru saja meng-upload foto didekat tempatnya kini memberhentikan mobilnya. Seperti penguntit yang profesional, sudah selama 7 tahun ini Kyuhyun melakukan kerja sampingannya ini. Menguntit seorang gadis yang beberapa waktu lalu berpapasan dengannya disebuah acara reuni.

Betapa gembiranya ia ketika gadis itu akhirnya kembali ke Korea karena artinya Kyuhyun tak uasah bersusah payah lagi untuk memantau dan mengawasi gadis itu dari pria-pria yang hendak mendekatinya. Karena baginya gadis itu masihlah miliknya, masih menjadi kekasihnya walau itu hanya dalam pandangannya saja. Dalam keegoisannnya. Karena ada sesuatu yang sudah Kyuhyun miliki dari gadis itu.

Biarlah, toh selama ini gadis itu tak tahu bahwa selama ini yang menjauhkan gadis itu dari pria-pria yang melirik gadisnya itu adalah dirinya. Seorang yang dulu adalah masa lalu gadis itu. Masa lalu yang kadang Kyuhyun pikir adalah sebuah penyesalan karena dulu kenapa ia tidak mengatakan maaf dan semua masalahnya tak akan sepanjang ini. Hingga ia bahkan harus mengenyahkan pria sekelas pangeran Hary.

Setelah dilihatnya gadis itu kembali masuk kedalam mobil tepat dijam 23.30 lalu melajukan mobilnya menuju apartemennya. Kyuhyun juga mengikutinya. Bahkan terus memantau gadis itu sampai masuk kedalam unit apartemen yang sebenarnya berhadap-hadapan dengan unit apartemennya.

Begitulah Kyuhyun, sebenarnya dirinya tak ada bedanya dengan pengecut. Iya, kan?

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

Pagi menjelang, rutinitas yang sudah 1 minggu ini Ran jalani setiap paginya adalah bangun pukul 6 dan joging mengelilingi gedung apartemennya lalu dipukul 7 tepat, ia akan kembali ke apartemennya dan selama seminggu ini pula ia selalu menemukan note didepan pintu apartemennya serta bunga mawar putih yang juga tertempel bersamaan dengan note itu.

“Sebenarnya siapa kau, heum?” Tanya Ran pada secarik note bertuliskan ‘SELAMAT PAGI’ yang dipegangnya. Lalu tanpa pikir panjang lagi ia pun masuk dengan membawa serta 2 benda itu.

Disisi lain diwaktu yang hampir bersamaan sejak seminggu ini. Kyuhyun selalu datang kedepan apartemen gadis bernama Kim Ran pada pukul 6.50 hanya untuk sekedar meletakkan bunga mawar putih kesukaan gadis itu dan secarik note bertuliskan ‘SELAMAT PAGI’. Lalu setelahnya ia akan kembali ke dalam apartemennya dan mengamati layar interkomnya yang kebetulan juga memuat gambar didepan pintu apartemen Ran. Disana, ia selalu mengamati ekspresi gadis itu setiap paginya saat menerima bingkisan darinya. Dan hal itulah yang menjadi semangat Kyuhyun.

Dan sebenarnya selama ini pun Kyuhyun selalu memasang CCTV di beberapa tempat tertentu seperti didepan rumah Ran selama gadis itu bersekolah diluar negeri. Ia juga menempatkan orang-orangnya disana yang bertugas melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan gadis itu. Dan itu sudah 7 tahun Kyuhyun lakukan.

Bisa gambarkan bertapa berartinya gadis ini untuk Kyuhyun?

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

Sampai ditempat kerja barunya, Ran langsung memimpin sebuah rapat kecil dalam divisinya. Ia bekerja disebuah perusahaan bernama DELCO Corporation yang lebih memusatkan bisnisnya pada bidang design interior.  Satu minggu bekerja ditempat ini pun Ran sudah bisa beradaptasi karena semula Ran begitu khawatir bila ia akan memiliki banyak hambatan entah dari faktor rekan kerja hingga kekhawatiran tentang culture shock sempat ia pikirkan. Tetapi ternyata itu semua tidak terjadi.

Sekarang ini DELCO tengah menangani klien mereka dari sebuah perusahaan yang tengah membangun sebuah apartemen mewah di Seoul yang sebenarnya sudah sangat padat ini. Tapi itu merupakan tantangan tersendiri bagi Ran. Dan ia pun didaulat menjadi pemimpin proyek bernilai ratusan juta dolar ini. Sebuah kehormatan yang tinggi sebenarnya. Pikir Ran.

“Ya! Kenapa kau tidak memberi tahuku jika sudah pulang ke Korea, hah?!” Maki Donghae begitu ia dan Ran keluar dari ruang rapat digedung milik DELCO. Dan ternyata klien dari proyek ini adalah perusahaan tempat Donghae bekerja, bukan sebenarnya, karena memang perusahaan itu milik Donghae namun selama 2 tahun Donghae harus menjalani masa pelatihan dari ayahnya sendiri. Menggelikan.

“Ya, Lee-Dong-hae. Bisakah kau tidak berteriak?” Sungut Ran. “Kupingku sakit jika kau tidak tahu!” Tambahnya.

Donghae mendorong kening Ran dengan telunjuknya dan memasang tampang murka dan kesal. “Oh..ya ampun. Kau bahkan sudah 1 bulan ini tak bisa ku hubungi. Kemana saja kau?” Tanya Donghae.

“Bisakah kita tak usah bersungut-sungut seperti ini. Kita baru bertemu selama 1 tahun ini, dan disaat aku datang kau bahkan tak memberiku pelukan hangat. Astaga!” Tutur Ran kesal.

“Eiyyyy..nona Kim…Jika menginginkan pelukan hangat dariku kenapa tidak bilang dari tadi, eoh?” Ujar Donghae lalu menarik Ran kedalam pelukannya. Ran yang tidak siap dengan tindakan sahabatnya ini pun terkejut.

“Yak! Yak! Yak! Kau membuatku sesak nafas, bodoh!” Ucap Ran meronta ingin dilepaskan dari pelukan Donghae.

“Bagaimana? Apa pelukanku masih sehangat dulu?” Tanya Donghae sambil menaik turunkan alisnya menggoda Ran.

“Oh, astaga! Kau bahkan masih menjadi Donghae yang selalu tebar pesona itu!” Cibir Ran. Lalu pergi dari hadapan Donghae.

“Yak kau mau kemana nona Kim?” Donghae pun menyusul Ran. Dan setelah sejajar dengan gadis itu ia pun merangkul pundak gadis itu tanpa ragu walaupun Donghae sebenarnya tahu ada seseorang yang mengamati mereka sejak tadi. Menatapnya tajam dan tidak suka. Tapi Donghae tak peduli, ia sudah terbiasa dengan ancaman yang diberikan orang itu agar tidak  terlalu dekat dengan Ran.

“SIAL!” Umpat seorang dan meremas kaleng minumannya yang sudah kosong hingga tak berbentuk.

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

“Sudah 7 tahun ini kau menjadi penguntit, Kyu.. Apa kau tidak lelah, hah?” Tanya Sungmin begitu menemukan wajah frustasi sepupunya disofa ruangannya. Ruangan yang masih satu gedung dengan tempat Kyuhyun bekerja. Di Lypco Group, dan Kyuhyun adalah pemimpinnya disini. Tapi jika sedang dalam keadaan seperti ini, Kyuhyun akan menjadi adik yang manis dan penurut jauh dari kesan dingin dan galak yang selama ini menjadi topeng Kyuhyun.

“Dia sudah di Korea, apa lagi yang kau tunggu? Bukankah Ran bahkan sudah bekerja di cabang perusahaan kita, di DELCO, kan?” Tanya Sungmin. 

Ya, DELCO memang anak perusahaan dari Lypco Group dan dalang dari perekrutan Ran kedalam DELCO tentu saja Kyuhyun. Mulanya Sungmin sangat tidak setuju dengan ide Kyuhyun yang merekrut Ran dengan harga kontrak kerja yang begitu menggiurkan bagi siapapun. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa melunakan Kyuhyun jika sudah keras kepala dan menginginkan sesuatu.

Kyuhyun hanya membalasnya dengan menganggukan kepalanya. Ia terlalu malas menggunakan suaranya saat ini ketika ia teringat kembali saat Donghae merangkul dan memeluk Ran tanpa ragu padahal jelas-jelas Donghae sudah tahu Kyuhyun ada disana dan menatap hal itu dengan tidak suka. Tapi Donghae tetap melakukannya. Harus dengan apa lagi Kyuhyun mengancam pria itu agar tidak terang-terangan menyentuh gadisnya, Ran-nya.

“Sialan..” Desisnya kesal karena memikirkannya saja membuatnya pusing. Dan Sungmin hanya menggeleng tak mengerti.

“Hyung.” Panggil Kyuhyun.

“Ne.” Sahut Sungmin.

“Kau ada ide lain untuk menyingkirkan pria sialan bernama Lee Donghae itu?” tanya Kyuhyun yang akhirnya mengutarakan keresahannya.

Sungmin duduk disamping Kyuhyun dan menyerahkan sebotol minuman dingin untuk sepupunya itu berharap emosinya menurun. Ketahuilah, Kyuhyun adalah pria dengan emosi yang selalu meledak-ledak apa lagi jika menyangkut gadis bernama Kim Ran.

“Aku? Sepertinya tidak.” Jawab Sungmin acuh seketika Kyuhyun pun menoleh pada Hyungnya itu dan menatapnya tajam.

“Kau—“

“Dengar Kyu,” Potong Sungmin. “Saat ini perusahaan Donghae sedang menjalin kerjasama dengan DELCO, anak perusahaanmu sendiri, dan nilai kerjasamanya tidaklah main-main. Apa kau akan menyingkirkan pria itu begitu saja sedangkan proyek itu sudah mulai berjalan dan Ran sendiri yang memimpin proyek itu?” Tutur Sungmin menasehati.

Kyuhyun mendengus jengah. Apa lagi ini? Pikirnya.

Kenapa ia tidak tahu tentang hal ini?

“Jadi Daehan Group adalah milik Lee Donghae sialan itu?” Tanya Kyuhyun memastikan.

“Belum, tapi akan segera diwariskan oleh tuan Lee Daehan pada putra semata wayangnya itu.”

BANG! Pantas saja Kyuhyun tidak tahu.

Jadi ternyata Lee Daehan adalah ayah Lee Donghae. Jika sejak awal Kyuhyun tahu tentang satu fakta ini, Kyuhyun tidak akan menerima kontrak kerjasama sekalipun Daehan Group adalah klien yang patut untuk diperhitungkan. Tidak, selama itu berkaitan dengan Lee Donghae.

“Lalu apa aku harus selalu melihatnya berkeliaran disamping Ran?” Protes Kyuhun karena otaknya juga buntu memikirkan cara agar Donghae bisa menjauh dari samping Ran.

“Hah…Cara satu-satunya yang bisa kau lakukan hanyalah muncul dihadapan Ran, yakinkan gadis itu. Aku yakin 7 tahun adalah waktu yang cukup untukmu menjadi penguntit seperti ini, Kyuhyun-ah.” Ujar Sungmin lagi-lagi tak peduli jika Kyuhyun akan memukulnya sekalipun. Ia hanya sudah bosan dengan keluhan Kyuhyun yang selalu sama. Ia juga tak mengerti jalan pikiran Kyuhyun yang tak mau muncul dihadapan gadis yang dicintainya tapi selalu menyingkirkan siapa saja pria yang hendak mendekati Ran. Lucu bukan?

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

2 minggu kemudian, kerjasama antara Daehan Group dan DELCO Corp. Berjalan lancar tanpa hambatan apapun, bukan apa-apa. Tetapi Donghae hanya khawatir saja dengan fakta bila ternyata DELCO adalah anak perusahaan dari Lypco Group yang dipimpin oleh Cho Kyuhyun. Dan satu fakta lagi yang membuatnya khawatir adalah Kim Ran yang menjadi pemimpin proyek dari kerjasama mereka.

Cho Kyuhyun, Donghae sudah mengenal pria itu sejak 5 tahun yang lalu saat mereka bertemu di Prancis dan Kyuhyun yang langsung mengancamnya agar tidak berdekatan lagi dengan Ran. Yang ternyata adalah mantan kekasih Kyuhyun. Lucu sebenarnya, melihat bagaimana Kyuhyun selalu mengawasi Ran yang hanyalah mantan kekasih pria itu. Tapi juga patut untuk diacungi jempol. Melihat bagaimana sampai saat ini Kyuhyun masih melakukan hal yang sama pada Ran.

Jujur, Donghae juga menaruh hati pada gadis bermata bulat itu. Bagaimana tidak, Ran adalah gadis Asia tercantik di kampusnya dulu, dan mereka bahkan sudah mengenal orang tua masing-masing. Jika saja Donghae memiliki sedikit keberanian, mungkin saat ini Ran sudah menjadi miliknya. Namun entah karena faktor apa, selama ini Donghae hanya diam dan seolah tak memiliki perasaaan apapun pada gadis itu. Menyiksa sebetulnya, tapi demi alasan klasik, yaitu ‘demi persahabatan’ kata keramat berupa ‘saranghae’ belum pernah bisa terlontar dari bibir Donghae.

Seperti saat ini, Donghae sebenarnya ingin sekali tertawa melihat betapa tajamnya Kyuhyun menatapnya dari sudut yang tak mungkin diketahui oleh Ran yang kini sedang duduk berhadapan dengannya menikmati makan siang disebuah restaurant didekat DELCO.

“Wae, Hae-ah?” Tanya Ran bingung. Sedari tadi Donghae tersenyum seperti menahan tawa. Ran pun menoleh kebelakangnya dan tak menemukan apapun yang bisa ditertawakan. “Hey, apa kau sedang menertawakanku?”

“Memangnya apa yang harus ditertawakan darimu, eoh?” Tanya Donghae balik.

“Mungkin ada noda diwajahku…….misalnya?” Tanya Ran ragu, memperlihatkan wajahnya pada Donghae.

Donghae berpikir sejenak. Sebuah ide muncul diotaknya, namun ia ragu untuk melakukannya. gila saja, tadi ia sempat memikirkan untuk mencium Ran didepan Kyuhyun. Tapi apa itu tidak keterlaluan?

“Mungkin ada. Kemarilah, lebih dekat lagi.” Perintah Donghae. Ran pun mencondongkan wajahnya pada Donghae.

CUP

Tanpa disangka akhirnya Donghae melakukan apa yang sempat terlintas dipikirannya tadi. Mencium Ran. Hanya saja niat awalnya akan dibibir, tapi ia hanya berani melakukannya dipipi. “Sudah hilang.” Ucapnya kemudian melanjutkan makannya tak melihat bagaimana ekspresi Ran sekarang.

Ran mengerjapkan kedua matanya terkejut. Apa tadi?

Diusapnya pipi kanannya dan masih jelas terasa bagaimana bibir Donghae mendarat disana tadi. Oh, astaga! Ia melirik pada Donghae yang fokus dengan makanan dihadapannya. Apa Donghae benar-benar tak merasa bersalah sudah mencium seorang gadis? Rutuk Ran.

Disudut lain, Kyuhyun tak henti-hentinya mengumpat ia bahkan sudah melempar buku menu yang digunakannya untuk bersembunyi. Kesal dengan yang dilihatnya.

“SIAL! Ia bahkan sudah berani mencium gadisku?” Umpat Kyuhyun lalu beranjak dari tempat itu sebelum emosinya meledak dan memukuli Donghae hingga cacat permanen saat ini juga.

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

BRAKK

“Ma—maaf sajangnim, tuan ini memaksa masuk.” Ucap sekertaris Donghae menyesal karena seorang pria berpakaian formal baru saja menerobos pintu ruangan direkturnya.

“Tidak apa. Tinggalkan kami, nona Jung.” Ucap Donghae memaklumi, lalu kini ia beralih dengan seorang yang menerobos ruangannya tadi. “Ada apa Kyuhyun-ssi?” Tanya Donghae berbasa-basi.

Ya, orang itu Kyuhyun yang datang dengan wajah yang mengeras dan tangan yang sepertinya sudah siap untuk melayangkan bogem mentah bagi siapapun yang berani menaikan lagi emosinya. “SIALAN kau Lee Donghae! Beraninya kau mencium gadisku!” Maki Kyuhyun dengan berjalan mendekat hingga berhadapan dengan Donghae yang masih duduk dikursi singasananya.

“Maksudmu Ran?” Tanya Donghae. “Hey, bukankah dia hanya mantan pacarmu? Bukankah tak sepantasnya kau masih menganggapnya gadismu?”

Kyuhyun merangsek maju dan meraih kerah kemeja Donghae. Lalu—

BUGH

Satu pukulan dilayangkan pada Donghae oleh Kyuhyun. “Persetan dengan hal itu, dia tetaplah gadisku!” Ucap Kyuhyun penuh amarah. Kyuhyun meraih kerah kemeja Donghae lagi dan memukulnya lagi dengan kekuatan yang sama hingga kini sudut bibir Donghae terkoyak dan mengeluarkan darah segar.

“Kuperingatkan lagi padamu, jangan pernah menyentuh gadisku barang se-inci pun!”

Setelah puas melampiaskan kemarahannya akibat kejadian di restaurant tadi yaitu dimana Donghae mencium Ran. Kyuhyun langsung pergi dan meninggalkan Donghae yang tersungkur dilantai dengan luka diwajah tampannya.

“Kyuhyun-ssi…terimakasih karena ancamanmu saat ini aku menjadi benar-benar ingin memiliki Ran.” Gumam Donghae sesekali meringis karena luka dibibirnya cukup lebar.

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

“Ya! Bisakah kau melakukannnya dengan penuh perasaan, nona Kim?” Protes Donghae kala Ran tengah memberi obat merah diluka yang terletak disudut bibir Donghae.

“YYYAAA!!!” Bukannya memelankan gerakan tangannya Ran malah menekan jarinya disudut bibir Donghae hingga pria itu mengaduh kesakitan. “Kau ini kejam sekali, hah!” Protesnya lagi.

“Aku kesal padamu! Dan itu hukuman buatmu karena berani mencium pipiku kemarin.” Ujar Ran ketus. Namun ia tetap fokus mengobati luka Donghae.

“Memangnya kenapa jika aku menciummu?” Tanya Donghae, seketika Ran menghentikan gerakan tangannya dan menatap pria yang jaraknya tak jauh darinya.

Ran tahu, didalam persahabatan antara pria dan wanita tidak akan pernah ada yang namanya persahabatan murni. Karena tanpa disadari pasti akan ada salah satu pihak yang mulai menumbuhkan bibit asmara, atau bahkan bisa saja keduanya. Dan sudah beberapa belakangan ini Ran tahu, Donghae mulai memberikannya perhatian yang sejujurnya tidak membuatnya nyaman karena Donghae bersikap seolah seperti kekasihnya dan bukan sahabatnya lagi itulah yang membuatnya selama 1 bulan kemarin menghindari Donghae karena takut bila pria itu benar-benar akan menunjukan perasaannya nanti.

Namun Ran ternyata salah, selain terjebak lagi dalam masa lalunya karena bertemu dengan pria yang ternyata masih bisa membuat hatinya berdebar. Ran juga terjebak dalam ikatan persahabatan yang tak murni lagi dengan Donghae.

“Sejujurnya tidak.” Jawab Ran. “Karena kau tahu kan jika kita—“

“SSSttt..” Donghae menutup bibir Ran dengan jari telunjuknya. “Sudah jangan dilanjutkan. Aku tahu apa yang akan kau ucapkan.” Tambah Donghae. Lalu tersenyum kecut, ia tahu reaksi Ran pasti seperti ini.

Namun Ran menggelengkan kepalanya menepis jari Donghae dari bibirnya. “Dengarkan aku dulu.” Ran Menghela nafasnya sesaat. “Sudah berapa tahun kita bersahabat, tuan Lee?” Tanya Ran.

“Mungkin 6?” Jawab Donghae. Menaikkan alisnya seraya berpikir.

“Yah…dan sudah berapa lama kau menyukaiku?” Donghae terperanjat karena pertanyaan Ran yang sungguh tak terprediksi olehnya.

“Kenapa kau bertanya demikian?”

“Sudah, jawab saja.”

Donghae mengdengus pasrah. “Lima..” Ucapnya pelan dan menunduk. Ia malu karena akhirnya gadis yang dicintainya tahu bahwa sudah selama itu ia mencintainya.

Ran terkekeh melihat Donghae yang gugup dan malu. “Kau malu mengakui perasaanmu?” Tanya Ran. Seketika Donghae mendongak kembali dengan mata yang melebar.

“ANI” Bantahnya. “Yah…tapi sedikit.” Lanjutnya kemudian.

PLETAK

“YAK!” Jerit Donghae kesakitan karena baru saja Ran memukul kepala Donghae kebiasaan Ran jika Donghae mulai plin plan. “Neo—Aishhh” Desisnya kesal tapi akhirnya hanya mengaduh sakit.

“Kenapa baru mengatakannya sekarang?” Tanya Ran menyelidiki.

Karena Kyuhyun mengancamku agar tidak mendekatimu. Batin Donghae.

“Karena aku tidak mau persahabatan kita hancur.” Jawab Donghae.

“Cih! Alasan..” Cibir Ran.

“Lalu untuk apa kau bertanya sebanyak ini, hum? Kau sudah beralih profesi menjadi seorang detektif?”

PLETAK

“YAK! Bisakah tidak menggunakan kekerasan jika berbicara denganku?” Pekik Donghae kesal.

“Itu semua karena aku harus menanyai maksud setiap pria yang menyukaiku. Aku pikir aku harus memiliki data yang akurat dari pria-pria yang akan menjadi kekasihku.” Ujar Ran namun matanya kini terlihat fokus pada berkas-berkas dihadapannya membiarkan Donghae terkejut sekaligus bingung dengan ucapannya.

“Ran..”

“Jam makan siang sudah lewat. Sekarang pulanglah keperusahaanmu, Tuan Lee Donghae!” Perintah Ran dengan sebuah penggaris besi ditangannya.

“Tap—tapi aku masih butuh penje—“

“Pilih keluar atau benda ini melayang ke kepalamu, tuan Lee?” Ancam Ran.

Donghae pun ahirnya keluar dari ruangan Ran dengan lari terbirit-birit ia tahu Ran tidak pernah main-main dengan apa yang dikatakannya jadi ia lebih memilih untuk pergi dari rungan itu.

Ran duduk kembali dan memposisikan kepalanya pada meja kerjanya. Rasanya lelah sekali mengetahui fakta tentang Donghae yang menyukainya. Ia hanya khawatir tidak akan ada lagi seseorang yang akan bernar-benar mendengar keluh kesahnya dengan tulus juga tanpa beban dan bukan karena unsur cinta ataupun lainnya. Karena dulu dia berpikir ia bisa menjadikan Donghae sebagai kakak laki-laki baginya. Namun sekarang ia sadar, Donghae juga pria normal yang bisa mencintai dan juga ingin dicintai namun sayangnya kenapa Donghae harus mencintainya, mencintai dirinya yang tak bisa mencintai pria itu.

Karena satu alasan.

Karena satu hal yang sampai saat ini tak bisa ia mengerti.

Kenapa ia masih mencintai pria masal lalunya?

Kenapa ia masih mencintai pria yang sudah menyakiti hatinya hingga luluh lantak?

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

PRANGG

Kyuhyun membanting sebuah vas bunga yang ada dimeja kerjanya dengan emosi yang meluap luap. Baru saja ia melihat adegan yang ingin sekali membuat dirinya kembali melayangkan bogem mentah pada wajah Donghae seperti kemarin.

Baru saja Kyuhyun melihat itu di layar komputer diruagannya yang terhubung dengan CCTV yang ada diruangan Ran. Hal ini Kyuhyun lakukan tentu saja tanpa sepengetahuan Ran, yang mungkin Ran pikir CCTV itu hanya sekedar fasilitas dari kantornya. Tetapi ternyata CCTV itu hanya bisa dilihat oleh Kyuhyun karena ia tak akan rela Ran menjadi bahan tontonan para pegawai bidang informasi. Posesif sekali.

“Periksa laporanmu, Kyuhyun-ah!” Ucap Sungmin mengagetkan Kyuhyun yang terlalu fokus dengan layar komputer hingga tak menyadari kedatangannya sejak 5 menit yang lalu. “Kau selalu saja seperti ini.” Ujar Sungmin sambil melirik apa yang sedang Kyuhyun lihat dilayar komputernya.

“Lypco Group tak akan bangkrut hanya karena ini, Hyung…” Belanya. Ia pun kemudian meraih map hijau yang berisikan berkas yang perlu ditandatangani oleh Kyuhyun. Lalu menyerahkan kembali pada Sungmin setelah ditandatanganinya.

“Lalu apa aku harus selalu mengingatanmu agar tidak lupa memeriksa laporan yang masuk, hum?” Tanya Sungmin sakartis.

“Aku tahu..aku tahu…kau pasti akan membujukku untuk segera pensiun menjadi penguntit. Tetapi sayangnya aku masih terlalu betah dengan pekerjaan ini.” Jawab Kyuhyun ia menyeringai mendapati wajah kesal Hyungnya.

“Cih! Terserah saja padamu!” Cibir Sungmin sejurus kemudian pergi dari ruangan adik sekaligus atasannya itu.

Kyuhyun beranjak dari Kursinya dan menatap sebuah gedung dari jendela kaca ruangannya. Gedung yang merupakan anak perusahaannya, tempat dimana orang yang dicintainya bekerja. “Hahh…” Desahnya.

Lelah. Sangat lelah, sebenarnya menjadi seorang yang hanya bisa memandangi seorang yang dicintai dari jauh karena rasa bersalah yang rasanya sudah masuk kedalam hati yang paling terdalam. Seandainya saja dulu kesalahan itu tak pernah dilakukan oleh Kyuhyun, semuanya pasti tak akan menjadi sesulit ini. namun rasanya akan sia-sia bila ternyata waktu bahkan sudha berjalan sangat jauh dan tak bisa kembali pada saat yang ia inginkan. Kyuhyun terus mencoba menanamkan sebuah keyakinan untuk bisa muncul dihadapan Ran, namun yang terjadi ia selalu terbayang dengan reaksi Ran yang pasti akan terkejut dan ia takut bila Ran akan menolaknya. Saat di acara reuni kemarin saja ia hanya berani untuk berjalan melewatinya walau yang sebenarnya niat awalnya adalah ingin mendekat dan menyapa gadis itu, sebagai teman lama. Bukan sebagai kekaih yang pernah menyakiti gadis itu.

Namun Kyuhyun takut. Ia selalu takut.

BRUGH

Kyuhyun meninju kaca didepannya. Namun tak menghasilkan apapun karena kaca jendelanya memang sangat tebal dan menrupakan kaca anti peluru  dengan kualitas terbaik yang pernah diproduksi didunia ini. Kemudian ia berbalik untuk melihat ruangan Ran dari layar Komputernya, dan disana ia melihat gadis itu tengah duduk dengan meletakkan kepalanya di meja. Sepertinya gadis itu kelelahan. Pikir Kyuhyun.

“Kenapa harus sesulit ini untuk mengatakan maaf padamu, Ran?” Gumam Kyuhyun dengan lirih.

Past || Gorjesso
(www.gorjesso.wordpress.com)

Gimana part pertamanya? Adakah yang tertarik dengan FF ini?
Ternyata bikin ff kayak begini dengan karakter KYU yang udah terlalu MAESTREAM ternyata susah.
Salut deh untuk author-author yang bikin ff kyuhyun yang begini. 
Sampai jumpa di part selanjutnya…. #kecupbasah haha 

Flowered (Kyu_Ran Version) 2

flowered kyuran vers

Author : Gorjesso

Tittle :Flowered

Category : Romance, PG 17, Chapter

Cast :Cho Kyuhyun, Kim Ran

Other Cast : Kris Wu, Victoria Song

 

FF ini pernah aku post di blog pribadi (www.gorjesso.blogspot.com) dalam versi lain. Jadi kalau menemukana kesamaan itu memang disengaja. Maaf jika typo bagaikan ranjau ada dimana-mana. Karena gg ada typo itu gg rame!

 

Ok deh, Happy reading All.

Part 2

Kyu-Ran || FLOWERED | A Fanfiction By Gorjesso@2015 All Right Reserved

Setelah Marcus puas berbicara dengat Taemin. Ia pun keluar dari ruang kerja milik pria itu. Dan ketika ia berada didalam lift. Sesuatu yang tidak diduganya terjadi. Ia bertemu dengan Kris dan Victoria. Mereka berdua terlihat sangat senang.

Marcus menundukkan kepalanya dalam. Ia takut 2 orang ini mengenalinya seperti yang terjadi pada Taemin tadi walau ia sudah menggunakan masker. Ia memposisikan dirinya disudut belakang lift. Dan ia menajamkan pendengarannya ketika Kris dan Victoria terdengar tengah bercakap serius tentang sesuatu. Sesuatu yang pasti bisa Marcus ketahui dengan cara seperti ini.

“Sebentar lagi. Semua saham, aset, pegawai, dan semuanya. Akan menjadi milik kita.” Ucap Victoria, tersenyum sinis setelahnya.

“Tentu saja. Kita hanya menunggu waktu 1 bulan lagi. Saat pengaca Cho Kyuhyun bodoh itu menyerahkan apa yang seharusnya diserahkan dari dulu. Sayangnya pengacara itu dipayungi hukum…ckck..meyusahkan.” Ujar Kris mengiyakan.

“Lalu apa yang akan ita lakukan setelah ini, Kris?” Tanya Victoria.

“Kita akan….

Marcus mengepalkan kedua tangannya kuat. Amarahnya sudah sampai diubun-ubun saat ini karena mendengar tiap kata yang terucap dari bibir kedua manusia biadap didepannya. Jika bukan karena untuk membalas dendam. Jika bukan karna ia harus membayar telak apa yang sudah dirasakannya. Jika bukan karena ia ingin merebut lagi apa yang menjadi miliknya. Marcus bisa saja menusuk punggung 2 orang ini mengingat ia membawa pisau lipat yang digunakan untuk merapikan bunga disaku celananya.

“Marcus!” Ran berteriak memanggil seorang pria yang sedari tadi menguras pikirannya karena saking khawatirnya. Ia langsung mengahmpiri pria itu dan memukul pelan perutnya.

“Kemana saja kau? Membuatku khawatir!” Maki Ran. Tapi tetap terselip nada khawatir disana.

“Aigoo..baru kutinggalkan sebentar ke toilet saja kau sudah sekhawatir  ini?” Ucap Marcus menggoda.

“Ck! Mimpi saja kau!” Cibir Ran. Ia memukul sekali lagi perut Marcus. Membuat pria itu mengaduh. “Rasakan!” Umpatnya. Lalu meninggalkan pria itu dan menghampiri paman dan bibi Shin yang sedang berbicara dengan pemilik acara ini.

=flowered=

Titik embun mulai meleleh menetes pada tanah. Dedaunan tampak basah karenanya. Tapi suasana pagi ini begitu menyejukkan. Marcus berjalan menghampiri Ran yang sedang merapikan beberapa pot bunga mawar didalam ruangan pembenihan. Ia berdiri diambang pintu ruang itu dengan melipat kedua tangannya didepan dada. Mengamati tiap gerak-gerik gadis itu yang belum juga menyadari kehadirannya.

Ran bersenandung kecil. Menikmati kegiatannya seperti biasa. Hanya bedanya sekarang ia harus bekerja ekstra karena kemarin semua bunga yang ia punya dipesan paman Shin jadi sekarang ia harus cepat memindahkan benih-benih pohon yang sudah tumbuh pada tanah yang aslinya. Setiap memindahkan benih-benih itupun ia selalu berharap semoga bunganya selalu bermanfaat bagi siapapun yang melihat, menciumnya, ataupun menggenggamnya.

“Eoh..kau?” Ucap Ran terkejut. Ia menemukan Marcus yang tengah berdiri diambang pintu. Sejak kapan pria itu ada disana?

“Kenapa tidak membangunkanku?” Tanya Marcus. Ya, tadi ia bangun kesiangan. Dan Ran tidak membangunkannya.

Ran mengedikkan bahunya. “Hanya tidak tega. Kau terlihat kelelahan.” Jawabnya. Ia pun kembali mengurusi benih-benih bunga yang sudah siap untuk dipindahkan.

“Kau ingin terus disana atau ingin membantuku?” Tanya Ran retoris.

Marcus pun akhirnya mengekori Ran keluar dari ruangan pembenihan dan berjalan menuju ladang bunga. Ladang bunga itu kini nampak sepi karena bunganya sudah dipetik habis kemarin. Hanya ada beberapa jenis bunga saja yang masih tersemat ditangkai pohonnya.

Marcus dan Ran mulai menanam benih-benih bunga itu pada lahan yang kosong. Setelah selesai menanam. Lalu Ran mengambil selang air dan menyiraminya dengan telaten.

Bukannya membantu Ran menyirami benih yang sudah ditanam. Marcus malah mengamati gadis itu dengan duduk didekat kran air berada karena tadi Ran memintanya untuk menyalakannya. Dan ia pun dengan senang hati melakukannya. Lagi pula ia senang sekali melihat Ran ketika berada pada kegiatan ini. Merawat bunga yang ditanamnya. Gadis itu terlihat sangat lembut, anggun, jujur, dan cantik natural. Sangat sempurna bukan. Apalagi diguyur oleh sinar matahari pagi yang mampu menambah poin plus dari gadis itu. Benar-benar.

Namun kemudia ia tersenyum miring. Dalam tempurung kepalanya kini terbersit sebuah ide jahil. Segera saja ia bangkit dari duduknya. Dan ia melihat sekilas pada Ran yang masih tak bergeming sedikitpun. Gadis itu tetap serius melakukan kegiatannya. Marcus pun berniat ingin membuat gadis itu sedikit santai. Dengan kejahilannya ini. Dan ia pun memutar kran air menuju arah ‘off’. Lalu ia menilik pada Ran. melihat reaksi gadis itu.

“Eoh…kenapa berhenti?” Gumam Ran bingung. Ia pun memeriksa selang yang digunakannya untuk menyiram bunga. Tapi air yang yang seharusnya keluar dari selang itu. tak kunjung ada. Ia pun mencari sosok Marcus. Dan ya, ia menemukan pria itu masih duduk ditempatnya—didekat kran air.

“Ya! Marcus! Kau apakan kran airnya?” Teriak Ran bertanya pada Marcus.

“Aku? Aku tidak melakukan apapun..memangnya ada apa?” Sahut Marcus. Lalu bertanya balik.

“Airnya tidak keluar. Kau mematikannya?” Tuduh Ran.

“Mematikan? Untuk apa aku mematikannya? Kran airnya masih menyala, Ran.” Jelas Marcus. Walau ia sedang mengulum tawanya. Melihat Ran yang kebingungan.

Dan saat Ran mengarahkan ujung selang itu kedepan wajahnya. Saat itu juga Marcus menyalakan lagi kran air itu. BYURRR

“AAAA!!!” Pekik Ran terkejut. Ia mundur beberapa langkah dan hampir jatuh kedalam semak pohon bunganya. Itu karena air yang tadi tak kunjung keluar dan saat ia ingin melihat kedalam selang itu. Airnya tiba-tiba keluar dan akhirnya menyembur kewajahnya.

Namun sedetik kemudian. Ia tersadar karena suara tawa seseorang yang membahana. Suara Marcus. Siapa lagi. Pria itu…. Batin Ran geram.

“Ya! kau sengaja melakukannya, eoh?!” Tuduh Ran. Hah..ia yakin pasti Marcus sedang mengerjainya. Apa-apaan ini. Amarahnya seketika hampir sampai diubn-ubun. “YAAA!!!! Berhenti tertawa!!!” Pinta Ran kesal. Ia berteriak sekeras mungkin.

“Heuh..” Marcus masih saja tertawa walau tak sekeras tadi. Cukup terkejut juga mendengar Ran berteriak sekeras itu.

Ran pun menghampiri dimana Marcus berada. Ia bersumpah, jika ia sampai disana. Maka habislah pria itu! Ran mematikan kran air begitu sampai disana. Dan ia menatap penuh ketajaman layaknya pembunuh berdarah dingin pada pria bernama Marcus ini.

“Kau…” Geram Ran. selang air yang dipegangnya saja sampai melengkung karena saking kuatnya ia menggenggam. Dan Marcus. Pria itu nampak tak berkutik melihat Ran yang kini tengah ber-amarah.

“Mi—mianhe” Ucap Kyuhyun.

Ran tak menghiraukannya. Ia memegang pemutar kran air menuju arah ‘on’ kemudian dihadapkan pada Marcus. BYURR

“Ya! ya! Hentikan, Ran!” pinta Marcus dengan susah payah karena Ran terus menyemprotkan air kearahnya. Membuatnya kesusahan barang untuk berdiri saja menghindari semprotan air itu.

“YA! RAN!” Ran hanya tertawa. Pria ini harus menerima pembalasan. Batinnya. Maka dari itu ia terus megarahkan selang air itu kearah Marcus.

Setelah puas menyemprot Marcus dengan air hingga tubuh pria itu basah kuyup. Ran akhirnya mematikan kran air dan meletakkan selangnya. Ia duduk didekat kran air. Dan masih tertawa melihat wajah Marcus yang begitu kusut karena kesal ia kerjai.

“Kau tega sekali..” Keluh Marcus. Ia ikut duduk disamping Ran. Tangannya sibuk merapikan rambutnya yang basah.

“Kau yang memulainya lebih dulu. Jadi terima saja balasanku. OK?” Sahut Ran tak merasa bersalah. Marcus hanya mendecak sebal.

“Arra.”

Suasana menjadi hening. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. “Masuklah. Dan berganti pakaian. Kau bisa sakit kalau memakai pakaian basah itu terus.” Ucap Ran memberi nasihat.

“Jika aku sakit. Maka aku akan menyalahkanmu.”

“Cih! Masih saja menyalahkanku. Gurrom. Aku akan masak makan siang sekarang.” Ran langsung saja beranjak dari tempat itu dan masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan Marcus yang masih menggerutu.

Ran sudah selesai menyiapkan sarapan dan ia hednak memanggil Marcus untuk memberitahu pria itu bahwa makan siang sudah siap. Tapi saat ia sudah sampai didepan pintu kamar pria itu. Ran mendengar Marcus seperti sedang berbicara dengan orang lain. Tapi siapa?

“Tentu saja kita akan memulainya. Dan jangan sampai rencana kita terendus oleh pihak mereka. kita harus memulainya dengan perlahan. Hingga pada saatnya kita akan merebut apa yang seharusnya dan menjatuhkan mereka kedalam jurang.” Ini suara Marcus. Batin Ran ketika mendengar. Namun adda suara lain. Nampak seperti sebuah percakapan dalam telepon.

“Baik, sajangnim. Saya akan berusaha semampu saya. Dan sebaik mungkin. Untuk membalikkan semuanya. Saya akan terus melaporkan kelanjutan rencana kita setiap saat.”

“Arra. Aku harap aku bisa mempercayaimu, sekertaris Lee.”

“Ne. Sajangnim. Anda bisa membunuh saya jika saya mulai menyimpang dari rencana dan berpihak pada lawan.”

Ran benar-benar tak mengerti dengan percakapan yang baru saja didengarnya. Perlahan langkahnya mundur dari pintu kamar Marcus. Memandang pintu itu tak mengerti. Rencana? Menjatuhkan? Sekertaris Lee? Melaporkan? Membunuh? Apa semua itu?

Ran terus mundur hingga ia menabrak sofa. Dan terguling.

“Eoh..apa yang kau lakukan?” Ran mendongak dan mendapati Marcus sudah berganti pakaian dan menatapnya dari ambang pintu kamar pria itu.

Ran membenahi posisinya. Malu sekali.. “A-aniyo. Hanya tak sengaja menabrak sofa dan terguling.” Jawab Ran sekenanya walau memang benar.

“Aneh sekali…mmm…tapi ngomong-ngomong apa makanannya sudah siap?” Tanya Marcus. Ia menghampiri Ran.

“Oh, ne. Tentu saja sudah.”

=flowered=

Akhir pekan ini Marcus dan Ran diminta oleh paman dan bibi Shin untuk membantu mereka yang tengah merenofasi toko bunga mereka.

“Ran, bisakah kau dan Marcus pergi membeli kopi kesukaan pamanmu dicafe biasa?” Perintah bibi Shin.

Dan tanpa menolakan Marcus dan Ran pun segera pergi membeli kopi disebuah cafe teerdekat.

“Emm.. Ran, aku akan ketoilet sebentar.” Ucap Marcus memberitahu . Sedangkan kini Ran sedang mengantri pesanan kopinya sembari duduk.

Namun tanpa Ran sadari. Sedari tadi ada seorang pria yang memandanginya dari jauh. Melihat gadis itu menelisik. Berharap dugaannya benar. Bahwa gadis itu adalah gadis yang dikenalnya. Ia pun bangkit dari kursi, menghampiri dimana Ran duduk.

Dan setelah ia melihat dengan jarak yang lebih dekat. Ia tahu dan mengenali siapa gadis ini. “Boleh saya duduk disini, nona?” Ucap pria ini.

Seketika Ran mendongak. Dan—“Kris..” Lirihnya terkejut. Ia tak percaya dengan yang dilihatnya kini. Ia bangkit dari duduknya.

“Ne, ini aku Kris. Kau masih mengingatku?”

Bukannya menjawab. Ran malah menundukan kepalanya dalam. Gadis ini sudah tak sanggup lagi untuk membendung airmatanya yang hendak keluar. Dan akhirnya air mata itu keluar juga. Mengaliri pipi mulusnya.

Kris langsung saja memeluk gadis itu. Erat. Sangat erat. “Boghosippo..” Bisiknya ditelinga Ran. Ran hanya mendengarnya dalam isakan. Ya. ia juga merindukan pria ini.

Marcus selesai dari toilet. Dan langsung disuguhi pemandangan yang sama sekali tak diduganya. “Kris? Ran?” Gumamnya tak mengerti. Skeligus terkejut bukan main.

Otaknya seperti membeku melihat ini. Kris dan Ran saling mengenal? Bagaimana bisa?  Kenapa sakarang mereka berpelukan? Sedekat apa Ran dengan si keparat Kris? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar diotaknya. Membuat Marcus pening seketika.

Jika bukan karena rencana balas dendamnya. Mungkin sekarang ia akan menghampiri kedua orang itu dan menarik Ran dari pelukan Kris. Lalu menghujami Kris dengan pukulan-pukulan telak karena telah berani menyentuk Ran nya. Ya, Marcus menafsirkan emosinya saat ini adalah karena CEMBURU. Jadi seperti inikah rasanya?

Marcus menarik nafasnya panjang. Guna meredakan emosinya yang sudah sampai ubun-ubun. Lebih baik sekarang ia keluar dari tempat itu. Dan menunggu Ran selesai dengan Kris.

“Kau terlihat baik.” Ucap Kris. Memandang seorang gadis didepannya dengan memuja. 1, 2, 3, 4 atau sudah berapa tahun ia berpisah dengan gadis ini? dan sekarang keajaiban atau apa. Ia bisa bertemu dengan seorang yang begitu dirindukannya.

“Kau juga.” Balas Ran. ia sedikit salanh tingkah dengan tatapan Kris yang terus tertuju padanya. “Emm…Bukankah kau seharusnya di Cina? Kenapa kita bertemu di Korea?” Tanya Ran.

“Aku menjalankan sebuah perusahaan di Korea saat ini Ran.” Jawab Kris.
“Tapi kenapa tidak pernah mengabariku. Kau bilang kita akan terus berhubunga walau jarak kita sangat jauh.” Keluh Ran. Memandang Kris kecewa.

“Aigoo..mianhe…ponselku hilang. Dan akhirnya semua kontaknya pun ikut hilang. Jadi aku tidak bisa menghubungimu. Ran..” Ujar Kris. Menjelaskan yang sebenarnya saat itu. apa yang akhirnya membuat mereka terpisah.

“Ne. Arraseo.” Ran mengangguk mengerti.

“Kalau begitu bisa aku minta nomor ponselmu. Agar aku tetap bisa menghubungimu.” Pinta Kris. Dengan senang hati. Ran pun memberikan nomor ponselnya.

Setela memberikan nomor ponselnya pada Kris. Ran berpamitan pada pria itu. dan kini ia tengah merutuki dirinya sendiri. Dan untung saja Marcus mengirim pesan padanya. jika tidak. Maka ia pasti akan lupa waktu. Marcus? Ya, Ran baru menyadari ia melupakan pria itu. Astaga!

“eoh..mianhe…tadi ada sesuatu. Dan maaf juga karna membuatmu menunggu.” Ucap Ran menyesal begitu ia berada dihadapan Marcus yang sudah menunggunya diaas sepeda.

Marcus baru keluar dari kamarnya. Dan melirik pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 17.30. Tapi kenapa rumah terasa begitu sepi? Dimana Ran? Biasanya ia akan menemukan gadis itu bersliweran didapur. Untuk menyiapkan makan malam. Tapi tak nampak sedikitpun batang hidungnya.

Akhirnya ia memutuskan untuk mencari dikamar gadis itu. Dan saat Marcus baru membuka setengah pintu kamar. Ia melihat gadis itu tengah duduk ditepi ranjang membelakangi dirinya yang kini berdiri diambang pintu kamar. Lalu gadis itu juga tengah menggengam ponselnya. Sepertinya sedang bebincang dengan seseorang melalui telepon.

“Ne. Tentu saja. Kau boleh mengunjungi rumahku. Akan kukirim alamat rumahku lewat pesa. Ne. Anyeong.”

Marcus langsung menutup pintu kamar itu kembali mendengar Ran sepertinya hendak menutup pembicaraan itu. Namun sebelum ia benar-enar meninggalkan kamar itu. ia sempat mendengar Jessicca mengucapkan sebuah nama. Nama yang sama sekali tak ingin ia dengar. Apalagi itu terucap langsung dari bibir Ran.

“Ne. Kris. Selamat malam.”

Kris? Batin Marcus. Ia terlihat tak percaya dengan yang didengarnya. Yang seadng berbicara dengan Ran adalah Kris. Pria keparat itu? dan Kris juga akan mengunjungi rumah ini? rumah dimana sekrang ia berada? Sebenarnya ada hubungan apa Kris dan Ran? Ia rasa ia harus menanyakannya pada Ran.

“O, Marcus.” Marcus pun tersadar dari lamunannya. “Oh..ne. Aku Pikir kau sudah tidur.” Ujar Marcus. Sekenanya.

“Aniyo. Ah…sudah jam berapa sekarang. Ayo kita makan!” Ajak Ran. Ia langsung menarik pergelangan tangan Marcus untuk mengikutinya menuju ruang makan.

“Kau membeli makanan?” Tanya Marcus karena melihat beberapa makanan khas Italia tertata dihadapannya kini.

Ran mengangguk mengiyakan. “Kenapa? kau tidak suka?”

“Oh..Aniyo. aku suka makanan apapun.”

Setelah itu. mereka berdua tenggelam dalam kenikmatan makan malam yang disuguhi menu italia. Namun dipikiran Marcus kini masih terbersit jelas dengan Kris dan Ran. sepertinya ia benar-benar menanyakannya pada Ran. sebelum ia menjadi gila karena dihanti rasa penasaran.

“Ekhem.. Ran!” Panggil Marcus. Membuka percakapan setelah makan malam mereka selesai.

“Ne?” Sahut Ran.

“M..bukannya aku ingin lancang. Tapi aku tadi melihatmu terlihat sedang berbicara dengan seorang didalam cafe. Siapa pria itu?” tanya Marcus langsung pada topik yang membuatnya penasaran.

“Oh..itu. dia hanya temanku. Namanya Kris.” Jawab Ran. Namun Marcus terlihat belum puas dan percaya dengan jawaban Ran. Teman? Marcus rasa itu tak mungkin.

“Teman?” Ulang Marcus.

“Mmm…sebenarnya bukan teman. Lebih dari teman..Mmmm…ia adalah mantan kekasihku…ah..bukan juga…ka—“

“Ran.” Potong Marcus. Karena Ran mulai emnjelaskan dengan berbelit. Dan ia tak mengerti. “Eoh..mianhe..mEkhem! begini. Sebenarnya kami pernah menjalin hubungan. Saat kami kuliah di Amerika. Namun setelah kami lulus kuliah.. Kris harus segera pulang ke Cina. Dan setelah itu kami lostcontack. Kami tak pernah saling berkomunikasi. Apalagi bertemu.” Jelas Ran panjang lebar.

Marcus terlihat mengagguk-anggukan kepalanya mengerti. Sangat mengerti. Walau didalam dadanya seperti ditikam oleh belati. Rasanya sakit mendengar kenyataan ini.

Marcus berbaring di ranjangnya dengan mengadahkan kepalanya keatas. Seolah ia tengah melihat hal yang sangat menarik diatas sana. Namun tak bisa dipungkiri hatinya kini tengah meringis. Kenapa ia bisa merasakan rasa sakit ini lagi. Sakit karena cinta. Tapi kali ini rasanya lebih menyakitkan dibanding saat ia dikhianati oleh Victoria. Ran, gadis yang bahkan belum menjadi miliknya. Gadis itu sudah mampu membolak-balikkan perasaannya. Dimana ia harus menghadapi kenyataan bila Ran dan Kris sudah sedekat itu. Mereka pernah saling mencintai. Pantas Ran terlihat bersikap biasa saja padanya. ternyata karena didalam hati gadis itu masih ada Kris. Pria yang ia benci. Ia masih saja mendesis tak percaya. Mendengar mantan kekasih gadis sebaik Ran adalah sikeparat Kris.

Brengsek! Umat Marcus dalam hati.

=flowered=

Beberapa hari ini Victoria melihat Kris yang selalu tersenyum. Bahkan sering tersenyum sendiri. Ada apa dengan pria itu? Batinnya bertanya. Namun saat ia akan bertanya pada pria itu. Ia selalu mengurungkan niatnya itu. ia tahu ia dan Kris hanyalah sepasang partner kerja. Dan ia pun tak ingin mengetahui lebih jauh tentang kehidupan pria itu diluar saa. Yang terpenting baginya Kris tetap bisa bersikap profesional. Dan focus untuk mencapai rencana mereka yang sudah 85 % untuk menghancurkan CEO mereka Cho Kyuhyun yang walaupun sudah hilang atau bahkan mati. Tetapi tongkat kekuasaannya masih terasa mendominasi didalam perusahaan Lypco COMPANY ini.

Kris menyambar cepat jas hitamnya dan langsung menuju lift yang akan mengantarkannya menuju lantai 1. Lalu setelah ia masuk kedalam mobilnya. Ia langsung saja menancapkan gas dengan kecepatan tinggi. Rasa bahagianya yang terkira membuatnya ingin cepat sampai memenuhi undangan Ran untuk datang kerumah gadis itu.

Berkali-kali Kris menghentika laju kendaraanya untuk bertanya pada beberapa orang tentang alamat yang Ran berikan padanya. Ya, tentu saja alamat gadis itu. dan ketika ia sampai didepan sebuah rumah yang berdiri kokoh ditepi pantai. Seolah seluruh dahaga yang dirasanya lenyap seketika. Dadanya serasa membuncah. Dan ia sudah tak sabar untuk bertemu gadis itu. Ran.

TING TONG

Ia tekan bel untuk yang ke 3 kalinya. Namun belum ada seseorangpun yang muncul dan menyambutnya. Yang ia harap ini benar rumah Ran.

Maka dari itu ia menekan bel rumah tersebut sekali lagi. TING TONG

“Iya. Sebentar!” Terdengar Jelas suara seorang wanita yang berteriak dari dalam rumah itu. Dan seketika membuat raga Kris menegang dan dadanya bertalu keras.

“Anyeong!” Sapa Kris dengan senyum cerahnya yang mengikuti. Begitu bahagia ia kini berhadapan dengan Ran.

“Kris! Kau datang!” Ucap Ran tak percaya. Ia langsung saja menghambur kedalam pelukan pria itu. Menghapuskan rindu yang tak tertahankan walau baru tempohari mereka bertemu.

Ran mengajak Kris masuk kedalm rumahnya. Menyuruh pria itu duduk disofa yang terletak diruang tv. Sementara ia menyiapkan minuman dan beberapa snack untuk pria itu.

Namun Kris tak mengindahkan perintah Ran. Ia malah kini tengah melihat-lihat rumah itu. Sangat bersih dan terasa nyaman walau ini pertama kalinya ia kemari. Tetapi angin pantai yang bertiup langsung terasa menenangkan menampra wajahnya. Ia tak akan mendapati semua ini dikota. Dan pantas Ran betah tinggal disini.

Ia berjalan menuju jendela kaca yang mungkin berfungsi juga sebagai pintu karena ada kenop untuk menggesernya. Ia berdiri disana mengamati indahnya hamparan bunga. Ternyata Ran benar-benar mewujudkan mimpinya untuk mempunyai ladang bunga. Sesuai yang tersaji dihadapannya kini. Namun saat itu juga Kris menemukan hal yang aneh. Ada seorang pria dengan seekor anjing tengah berdiri disuatu sudut ladang bunga itu. Sebenarnya bukan karena keberadaan pria itu yang mengganggu pemandangannya. Tapi lebih karena ia merasa mengenali pria itu.

Ia mengucek kedua matanya. Semoga saja ia salah melihat. Namun berkali-kali ia melakukannya. Ia tetap melihat pria itu. pria yang ia yakin pria itu sudah mati 2 bulan yang lalu. Tapi—kenapa sekarang pria itu ada disana? Batin Kris.

Marcus. Pria itu kini sedang bersama anjing putih Ran. bermain ditengah ladang bunga. Sedangkan Ran tengah mengambil sesuatu didalam rumah. Jadi tinggalah mereka berdua disana.

DRRTTT DRTT

Marcus langsung menempelkan ponsenya pada telinganya untuk mendengar taemin yang ternyata menghubunginya. “Ne. Taemin.” Jawabnya.

‘Sajangnim. Saya rasa anda harus waspada.’ Ujar Taemin dari ujung sana.

“waspada? Memangnya ada apa? Apa rencana kita sudah tercium oleh Kris dan Victoria?” Tanya Marcus.

‘Bukan sajangnim. Tapi anak buah kita yang mengikuti Manager Kris baru saja memberitahuku bahwa Manager Kris tengah menuju tempat sajangnim berada.’ Jawab Taemin.

“MWO? Kau serius Sekertaris Lee?”

‘ne sajangnim. Apa mungkin manager Kris sudah mengetahui tempat anda bersembunyi?’ Tanya Taemin. Yang langsung berefek pada tubuh Marcus. Apa mungkin?

Ya, tentu. Bukankah tempo hari ia mendengar percakapan Ran saat ditelpon dengan Kris? Dan Ran berkata akan memeberikan alamat rumahnya? Rumah dimana ia berada sekarang. Ne, mungkin memang begitu.

‘Sajangnim. Apa anda mendengar saya?’ Panggil Taemin.

“Kita bicara lagi nanti.” Sahut Marcus. Dan langsung mematikan sambungan teleponnya.

Mungkin Kris memang belum menyadari keberadaannya kini. Maih belum, sampai Marcus melihat sorot sepasa mata yang terlihat terkejut melihatnya. Lalu. Sepertinya hanya akan ada kata terlambat untuk bersembunyi atau lari dari tempat ini. Setelah Kris menyadari keberadaannya. Dan ia pun tak akan kabur. Karena takdirpun berkata lain untuknya.

Marcus menatap tajam Kris yang kini terlihat berddiri menegang dibawah atap rumah Ran. Ia sampaikan sebuah senyuman yang lebih layak disebut seringai. Seolah ingin memberitahu pada Kris bahwa ini Cho Kyuhyun.

Namun kontak mata mereka terputus saat Marcus melihat Ran menghampiri Kris. Dan  mungkin sekarang sudah saatnya juga ia untuk muncul dihadapan Kris dengan sosok baru, sebagai. MARCUS.

Kyu-Ran || FLOWERED | A Fanfiction By Gorjesso@2015 All Right Reserved

 

FF ini pernah aku post di blog pribadi (www.gorjesso.blogspot.com) dalam versi lain. Jadi kalau menemukana kesamaan itu memang disengaja. Maaf jika typo bagaikan ranjau ada dimana-mana. Karena gg ada typo itu gg rame!

TBC

Flowered (Kyu-Ran Version)

flowered kyuran vers

Author : Gorjesso

Tittle :Flowered

Category : Romance, PG 17, Chapter

Cast :Cho Kyuhyun, Kim Ran

Other Cast : Kris Wu, Victoria Song

  

FF ini pernah aku post di blog pribadi (www.gorjesso.blogspot.com) dalam versi lain. Jadi kalau menemukana kesamaan itu memang disengaja. Maaf jika typo bagaikan ranjau ada dimana-mana. Karena gg ada typo itu gg rame!

 

Ok deh, Happy reading All.

Ini seperti bunga. Dari benih, lalu tumbuh, dan berbunga indah. Namun semua pertumbuhan itu terkadang melewati hambatan yang berarti. Dan mungkin, cinta juga layaknya seperti itu.

Kyu-Ran || FLOWERED | A Fanfiction By Gorjesso@2015 All Right Reserved

 

PART 1

 

“Marcus, kita akan pergi kemana sekarang?” Tanya Ran.

“Bagaimana bila berkeliling kota?” Tawar Marcus.

“Itu terdengar bagus.”

Suasana masih pagi. Sejuk ditengah kota Seoul yang cukup sibuk. Tentu, karena hari ini hari Senin. Hari paling sibuk dalam 1 minggunya. Ran sebenarnya sedari tadi tengah memandangi pria yang memboncengnya dengan sepeda saat ini. Namanya Marcus. Pria tampan dan berkepribadian sangat lembut dan tentunya baik. Setidaknya itulah yang Ran ketahui mengenai pria ini, selama 2 bulan mereka tinggal bersama.

Tinggal bersama?

Mungkin kalian akan berpikir mereka ini sepasang suami istri? Atau sepasang kekasih? Bukan. Mereka bukan sama sekali termasuk dalah kedua perkiraan itu. Mereka bahkan tak sengaja bertemu. Bukan bertemu juga. Tapi lebih tepatnya, Ran yang menemukan Marcus.

#Flashback

Ran adalah gadis yang biasa saja, seperti gadis pada umumnya. Namun mungkin ia lebih tertutup dan lebih menyukai suasana yang lengang. Dan tinggalah ia sekarang disebuah pinggiran kota. Lebih tepatnya disebuah desa dekat pantai. Disana ia tinggal sendiri namun ia memelihara seekor anjing putih yang besar. Kegiatan sehari-harinya adalah merawat bunga. Ya, dia seorang petani bunga. Kegiatan ini baru dilakukannya sejak ia hijrah dari Amerika ke Korea. Tinggal di tempat kelahiran kedua orangtuanya.

Setiap pagi Ran akan mengantar bunga-bunga segar yang baru dipetiknya untuk dibawa kekota. Disebuah toko bunga milik keluarga Shin. Keluarga yang begitu dekat dengannya. Bahkan karena keluarga Shin tidak memiliki anak. Ran hendak diangkat sebagai anak mereka. Tapi Ran dengan halus menolaknya, karena ia jujur ingin tinggal sendiri.

“Eoh..Ran. kau sudah datang?” Sapa paman Shin. Menghampiri Ran yang masih berdiri disamping sepeda putihnya.

“Ne, paman.” Sahut Ran disertai senyum manis.

“Hah…sekarang-sekarang ini pesanan untuk bungamu sedang banyak. Apa kau bisa menambah pasokannya?” Tanya paman Shin. Mereka kini sedang merapikan bunga-bunga ditoko bunga itu. Memilah mana yang masih segar dan yang tidak.

“Sepertinya aku belum bisa memberi pasokan lebih, paman..lahan dirumahku terbatas. Mianhe.” Ujar Ran menyesal.

“Ani. Gwenchanayo…kau tak perlu meminta maaf. Kajja, kita selesaikan ini. Bibi pagi ini sedang memasak banyak makanan. Kita sarapan bersama.”

“Arraseo. Aku pasti akan menghabiskannya.”

Setelah sarapan. Biasanya Ran akan langsung berpamitan pulang pada sepasang suami istri itu. Dengan mengayuh sepeda putihnya. Ia kembali kerumahnya yang cukup luas didaerah pinggiran kota .

Sorenya, Ran selalu mengajak anjing peliharannya untuk bermain dipantai. Seperti kali ini. Ia mengajak Dogie—anjing putih peliharaan Ran —berlarian  ditepi pantai yang tak jauh dari rumah mereka. Ran mencoba melemparkan piringan dan kemudian Dogie akan mengambilnya kembali untuknya.

“Tangkap ini, Dogie!” Perintah Ran pada anjing putihnya. Lalu dilemparnya sebuah piringan berwarna biru keudara.

BYUR

Piringan itu terjatuh ditepian air. Akhirnya membuat anjing putih itu enggan untuk mengambilnya. Ran tahu, anjingnya itu benci sekali pada air. Maka dari itu ia pun segera menghampiri dimana Dogie berada bersama piringan yang kini mengambang diair.

“Aigoo…kau ini…” Gumam Ran. ia merasa gemas pada anjingnya itu.

“Kajja kita mulai lagi!” Ajak Ran seraya mengusap dagu anjingnya memberi ajakan.

Namun bukannya Dogie menuruti perintah Ran untuk mengikutinya. Anjing itu malah berlari menghampiri sesuatu yang tercium oleh indra penciumannya yang tajam. Dogie kemudian menggonggong memanggil Ran yang sudah berjalan berlalu darinya.

GUK GUK

Ran menoleh kebelakang. Dan ia mendapati anjingnya tak mengikutinya. Kemana anjing itu? Pikirnya.

Ia pun kembali berjalan ketempat tadi ia berpisah dengan anjingnya. Dan perlahan ia pun bisa mendengar gonggongan anjingnya. Hatinya pun ikut lega. Ia kira, ia akan kehilangan anjing kesayangannya itu.

“Aigo…apa yang kau lakukan disini?” Tanya Ran khawatir.

Anjingnya itu tak berkutik pada belaian yang Ran berikan. Bahkan kini anjingnya itu berlari meninggalkannya. Memaksa Ran mengikuti kemana anjing itu akan pergi. Dan sampailah ia disuatu tempat. Diatas batuan ditepi pantai. Dogie berhenti disana dan menjilati sesuatu  yang membuat Ran begitu terkejut ketika menyadari apa yang ditemukan oleh anjingnya itu.

“Astaga!” Pekiknya terkejut.

Seorang pria kini tengah tergeletak diatas batuan. Bajunya basah kuyup dan bahkan masih menggunakan pakaian kerja yang lengkap. Segera saja Ran menghampiri pria itu. Lalu meletakkan kepala pria itu diatas pangkuannya. Pria ini dalam keadaan tidak sadarkan diri.

“Aigo..bagaimana ini?” Gumam Ran. Ia menoleh kekanan dan kekiri memastikan seseorang ada disekitar mereka. Tapi bahkan ditepi pantai itu kini hanya ada mereka. Sepi seperti biasanya.

Ran membopong pria itu dan direbahkannya disofa. Setelah lebih dulu mengambil selimut dikamarnya. Ran kini tengah membuka pakaian yang digunakan pria itu. Tentu saja tidak dengan celananya. Setelah menyelimutinya, Ran meletakkan kompres pada dahi pria itu.

“Siapa pria ini? Kenapa bisa pingsan ditepi pantai?” Gumam Ran, mencoba menerka.

Merasa tak mungkin mendapatkan jawaban atas gumamannya. Ia pun lebih baik beranjak kedapur untuk memasak sesuatu untuk dimakannya nanti malam.

“Arghh…” memegangi kepalanya yang terasa pening ketika ia sudah siuman.

Hal pertaman yang ia rasakan. Adalah ia berada ditempat yang belum pernah ia datangi. Ia tak mengenali tempat dimana ia sekarang. Dan, apa yang terjadi padanya? Pikirnya ketika ia mendapati ia bertelanjang dada. Namun celananya basah kuyup. Lalu selimut tebal yang membungkus dirinya. Serta sebuah kompres yang ada diatas dahinya.

Dengan sedikit sempoyongan. Pria ini mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang sudah terkumpul banyak dalam tempurung kepalanya. Langkahnya berbelok ketika ia mendengar suara seorang wanita yang tengah bersenandung kecil. Suara yang imut dan lembut.

Dan benar saja. Kini ia menemukan seorang wanita tengah berkutat dengan peralatan dapurnya. Dengan celemek biru yang membungkus tubuh mungil wanita itu. Wanita yang cantik. Setidaknya itu yang dapat pria ini tangkap dari ambang pintu ruangan ini.

“Oh..kau sudah sadar?”

Pria ini tersentak. Ia terkejut ketika wanita ini bahkan sudah ada dihadapannya. Sejak kapan? Apa mungkin karena ia terlalu lama melamun—mengagumi kecantikan wanita ini?

Pria ini pun hanya bisa mengangguk. Dan kini seluruh darahnya tengah berdesir hebat ketika tangan wanita itu menempel pada dahinya. “Well…kau sudah lebih baik dari 2 jam yang lalu.” Ujar wanita itu. Disertai senyuman manis dari bibir tipisnya.

“Kau lapar?” Pria ini beberapa kali mengerjapkan matanya. Wanita ini langsung mengajaknya makan? Bahkan mereka belum saling mengenal? Hey! Apa yang baru saja dilewatkannya beberapa jam yang lalu? Kenapa ia bahkan tak mengingatnya sama sekali?

Ran makan dengan tenang bersama seorang pria yang ditemukannya ditepi pantai tadi. Ya, pria ini sudah siuman. Dan langsung makan dengan lahap. Seperti tidak pernah makan selama 1 bulan saja. Ran pun hanya bisa memakluminya.

Tapi, walau bagaimanapun didalam tempurung kepala Ran hanyalah pertanyaan-pertanyaan mengenai pria ini. Siapa? Darimana? Kenapa? dan lain-lain.

“Ekhem..” Ran berdehem kuat. Alhasil membuat pria itu berhenti dari aktivitasnya dan menatap Ran bingung.

“Mmm…sebagai permulaan. Mungkin kita bisa berkenalan. Namaku Ran Kim. Dan kau?” Tanya Ran langsung pada point yang beberapa jam ini mengganggu kerja otaknya.

Namun pria ini hanya menatap Ran dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara bingung, tidak tahu, dan pokoknya pria ini seperti sedang kebingungan dengan pertanyaan Ran. “Hey..kau mendengarku, bukan? Atau aku tidak boleh mengetahui nama—“

“Tidak! Bukan begitu!” Potong pria itu. Ran pun menautkan alisnya.

“Wae?”

“A-aku…aku hanya tidak tahu siapa namaku. Aku kira kau mengenalku.” Jawab pria itu dengan gugup.

“Mwo?” Ran pun hanya bisa melongo. Jika ia tidak salah dengar, bukankah pria ini tadi mengatakan bila ia tidak tahu namanya sendiri? Hey! Ini bukan waktunya untuk bergurau?

“Ya! kau jangan bercanda! Kau tidak mungkin kan, tidak mengetahui namamu sendiri?” Tanya Ran tak percaya.

“Tapi sungguh, aku tidak tahu siapa aku.” Jawab pria itu. dan tetap sama.

“Kau yakin?” Tanya Ran memastikan.

Dan pria dihadapannya ini hanya menganggukan kepalanya. Membuat Ran mendesah frustasi. Ia hanya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Apa mungkin pria ini kehilangan ingatannya? Lalu, sekarang bagaimana?

“Kau ingat darimana kau berasal?” Tanya Ran. Suatu pertanyaan yang mungkin akan sangat membantu bila pria ini ingat dimana ia tinggal.

Tetapi hanya gelengan kepala yang Ran dapat.

Ya, kesimpulannya pria ini tengah hilang ingatan. Pria ini sepertinya mengalami benturan yang keras dikepalanya sebelum pria ini akhirnya hanyut dan berhenti ditepian pantai dekat rumahnya. Dan akhirnya, Ran pun membiarkan pria itu sementara tinggal dengannya. pria itu kini sudah beristirahat dikamar tamu rumahnya ini. Beruntung rumah ini tidak hanya memiliki 1 kamar.

Dan besok. Ia akan membawa pria ini pada dokter setempat. Untuk memeriksakan keadaannya. Siapa yang tahu ada luka-luka lain pada tubuh pria yang Ran pikir cukup tampan.

=Flowered_Gorjesso=

FF ini pernah aku post di blog pribadi (www.gorjesso.blogspot.com) dalam versi lain. Jadi kalau menemukana kesamaan itu memang disengaja. Maaf jika typo bagaikan ranjau ada dimana-mana. Karena gg ada typo itu gg rame!

Ran dan pria itu sudah kembali kerumahnya setelah pergi kedokter. Dan hasil yang Ran peroleh memanglah sesuai dugaannya. Pria ini mengalami berturan dan guncangan yang cukup keras yang berakibat fatal pada sistem otaknya. Beruntung tak ada luka serius lain setelah 1 hal itu. Hanya lecet-lecet pada kulit putihnya.

Ran juga cukup terkejut ketika dengan cepat anjing peliharaannya akrab dengan pria itu. Bahkan mereka sedang bermain bersama dikebun bunga dimana ia sekarang tengah merawat bunga-bunga yang ditanamnya. Dan sekarang terpikir oleh Ran untuk memberi nama pada pria itu.

“Hey! Kemarilah!” Perintah Ran. Memanggil pria itu untuk makan siang dikebunnya. Dibawah pohon yang rindang dengan tiupan angin yang menyejukkan. Benar-benar suasana yang menyenangkan.

“Mmmm…ngomong-ngomong..apa kau ingin punya nama?” Tanya Ran hati-hati.

Pria itu tersenyum. Lalu merubah posisinya menghadap Ran.

“Ne. Kau ingin memberiku nama?” Ujar pria itu. Ran pun hanya dapat terhenyak.

“Oh…emm…jika boleh, kita bisa mendiskusikannya..” Ucap Ran.

“Tentu saja boleh. Jujur saja, aku cukup risih mendengar kau memanggilku dengan ‘HEY’ terus menerus.” Tutur pria itu. tentu membuat Jesisca langsung salah tingkah karena merasa bersalah.

“Mianhe…Tapi, aku sudah memikirkan satu nama..”

“Mwo?” Tanya pria itu.

“Marcus. Otte?” Tanya Ran meminta pendepat atas usulan nama yang ia berikan.

“Marcus…tidak buruk. Baiklah. Sekarang namaku Marcus.” Gumam pria itu. terlihat menimbang-nimbang.

Sejak itu. Ran memanggil pria itu dengan Marcus. Sebuah nama yang diusulkannya. Dan dengan itu pula. Ia sudah terbiasa dengan kehadiran pria itu disekitarnya. Dari mulai Marcus yang membantunya merawat bunga. Juga ikut mengantarkan bunga-bungan itu kekota bersamanya.

Marcus juga sempat membuat paman dan bibi Shin bertanya-tanya. Mengira Marcus adalah kekasih Ran. Tapi dengan sedikit pernjelasan dan cerita. Akhirnya mereka mengerti. Bila ternyata Marcus adalah seorang pria yang Ran temukan tak sadarkan diri ditepian pantai tempo hari. Dan pria itu kehilangan iangatannya.

#Flashbackend

Ran dan Marcus sudah sampai disebuah taman hiburan yang 2 minggu yang lalu mereka kunjungi juga. Setelah memarkirkan sepeda. Mereka pun bergegas memasuki taman hiburan itu dengan bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Namun mereka berdua tak menyadari hal ini sama sekali.

“Kau ingin bermain wahana apa?” Tanya Marcus. Menoleh pada gadis disampingya yang wajahnya begitu berseri ketika ia memustuskan untuk mengajak gadis itu ketaman hiburan.

“Terserah kau saja.” Jawab Ran.

“Baiklah.” Tanpa basa-basi lagi. Marcus mengajak Ran menaiki roller coaster. Mereka sama-sama berteriak ketika wahana pemacu adrenalin itu bergerak cepat dilintasannya yang berkelok-kelok dan naik turun.

Diakhir perjalanan mereka hari ini. Mereka memutuskan untuk membeli ice cream dan memakannya ditepian pantai yang bahkan sudah dekat dengan rumah mereka. Lebih tepatnya rumah Ran.

“Mataharinya sangat indah.” Gumam Ran, mengagumi sunset yang tercipta kala itu.

Marcus pun hanya ikut tersenyum melihat Ran yang terlihat sangat senang hingga tak menyadari ada noda ice cream diwajahnya.

“Ran.” Panggil Marcus. Ran pun menoleh pada pria yang duduk disebelahnya itu.

Ran kini tengah merasakan kebekuan. Ketika pria ini tiba-tiba saja mengusap pinggiran bibirnya  dengan ibu jari pria itu. dengan jarak yang sedekat ini. Bahkan nafas pria itu saja terasa menampar wajahnya. Astaga!

“Berapa umurmu? Sperti anak kecil saja.” Ujar Marcus. Yang saat itu juga langsung membelalakan bola mata Ran menjadi bulat sempurna ketika mendengarnya.

“M—Mwo?” Pekik Ran tak terima. Baru saja Ran dibuat melayang oleh perlakuan lembut pria ini. Sekarang sudah dijatuhkan dalam jurang yang melucuti harga dirinya. Membuat nya dengan enteng melayangkan kepalan tangannya pada dada Marcus.

“Yak! Appo-ya!” Rintih Marcus tak terima. Demi Tuhan! Biarpun tangan gadis ini begitu kecil. tapi kekuatannya bahkan dapat disetarakan dengan petinju. Benar-benar mengerikan.

=Flowered_Gorjesso=

Hari ini Marcus mengantar sendirian bunga kekota karena Ran tengah sakit. Entah kenapa gadis itu bisa sakit. Padahal tadi malam gadis itu baik-baik saja. Pikirnya tak mengerti.

“Kau sendirian, Marcus?” Tanya paman Shin ketika ia melihat Marcus masuk kedalam toko bunganya tanpa Ran.

“Ne. Paman. Ran tengah sakit hari ini.” Jawab Marcus. Lalu ia menyerahkan bunga yang dibawanya pada paman Shin guna dirangkai dan dibersihkan kembali.

“Sakit? Bukankah kemarin ia baik-baik saja?” Tanya paman Shin lagi. Ia tak percaya mendengar kabar ‘putrinya’ itu sakit.

“Entahlah, paman. Saat aku menghampiri kamarnya. Ran sedang merintih kesakitan pada daerah perutnya. Tapi ia berkata, ia baik-baik saja. Dan menyuruhku agar mengatarkan sendiri bunga-bungan ini ketoko paman.” Jelas Marcus panjang.

“Mungkin Ran sedang datang bulan.” Celetuk bibi Shin. Membuat suaminya juga Marcus menoleh dengan alis yang bertaut.

“Hey! Bukahkan memang benar? Kemungkinan Ran memang sedang datang bulan. Jadi, bawakan saja ini padanya.” Ujar bibi Shin, dan menyerahkan sebotol minuman yang tak Marcus ketahui apa namanya.

“Ck. Kalian para kaum adam memang tidak mengerti.” Cibir bibi Shin. Lalu meninggalkan kedua pria itu denan raut bingung yang masih saja tercetak pada wajah mereka.

KRINGGG

Suara bel dipintu masuk toko membuat kedua pria itu sadar dari lamunannya. Ternyata ada pembeli. Segera saja paman Shin mengahampiri pembeli itu. Dan Marcus pun mengekori dibelakang paman Shin karena ia hendak pulang, dan tentu saja ia pun harus melewati pintu yang sama dengan pintu yang dimasuki pembeli tadi. Namun..

TAP

Langkah Marcus berhenti. Wajahnya langsung menegang ketika melihat siapa yang menjadi pembeli ditoko  paman Shin ini. Ia langsung mencari tempat. Tempat yang bisa menyembunyikan seluruh tubuhnya.

“Kris. Victoria.” Gumam Marcus.

Pembeli ditoko paman Shin saat ini adalah orang yang Marcus kenal. Orang yang dulu berada diurutan pertama dalam prioritas hidupnya. Namun kini..dihati Marcus bahkan hanya ada rasa benci ketika ia melihat wajah kedua orang ini. Ia muak. Ia marah. Ia kecewa. Dan ia benci.

Jika ia bisa membunuh kedua orang itu saat ini dengan kedua tangnnya. Marcus ingin bisa melakukannya. Amarahnya sudah sampai diubun-ubun ketika mengingat apa yang sudah dilakukan 2 orang itu hingga ia kini harus berpura-pura hilang ingatan didepan Ran dan orang disekitar gadis itu.

Tunggu! Berpura-pura?

Ya! Marcus memang hanya berpura-pura. Ingatanya masih normal. Dalam termpurungnya tak ada yang salah. Ia masih ingat namanya. Ia masih ingat dimana ia tinggal dan berasal. Ia masih ingat kejadian hingga ia terdampar didaerah ini.

Namanya yang sesungguhnya adalah Cho Kyuhyun. Seorang direktur muda dari perusahaan mobil terkemuka dinegeri Gingseng ini. Lypco COMPANY. Kekuasaan. Harta. Dan faktor-faktor penunjang lainnya ternyata membuat orang-orang disekitarnya yang dulu ia percaya berubah menjadi seorang yang tak ubahnya tikus yang pintar menjilat, pintar bersembunyi, dan bahkan menghianati dirinya yang sudah begitu percaya pada mereka. ‘Mereka’ mereka yang dimaksud adalah Kris dan Victoria.

Sebelum ini, Victoria adalah kekasihnya. Kekasih yang juga sahabatnya. Ia begitu percaya pada gadis ini. Hingga ia sudah sangat terbuka dengan segala hal apapun pada gadis itu. Yang ternyata semua berbanding terbalik dengan perkiraannya. Gadis itu ternyata hanya memanfaatkannya. Gadis itu ternyata memiliki tujuan lain dengan menjadi kekasihnya. Tentu, jawaban yang paling tepat adalah karena harta Kyuhyun. Kekuasaan Kyuhyun. Dan Victoria melakukan itu tidak sendirian. Victoria melakukan itu bersama Kris. Sahabat Kyuhyun.

Benar-benar hebat bukan? Mereka bahkan tak memikirkan perasaan Kyuhyun yang sudah begitu percaya. Namun mereka hianati dengan mentah-mentah. Memulai perlahan untuk menggerogoti Kyuhyun. Lalu menjatuhkannya ketempat paling dalam.

Marcus —yang nama aslinya Cho Kyuhyun —pria itu kini tengah mengepalkan kedua tangannya yang bahkan buku-buku tangannya terlihat memutih karena menahan emosi yang bergejolak dan sudah sampai pada ubunnya. Namun jika sekarang ia keluar dan menghajar habis-habisan 2 orang itu. yang ada pastilah ia akan dibenci oleh paman dan bibi Shin. Dan tentu Ran juga akan membencinya. Dan ia tak mau. Ia tak mau Ran membencinya.

Sadar atau tidak. Marcus menyadari. Ia meyukai gadis itu. Gadis yang bahkan berbeda dan juga istimewa menurutnya. Dan karena Ran jugalah, ia tetap mempertahankan jati dirinya untuk menjadi Marcus yang Ran kenal selama ini. Karena Marcus ingin lebih lama bersama Ran. Dan ia ingin bersembunyi lebih lama untuk memulai rencana balas dendamnya lagi.

Marcus menemukan Ran tengah duduk dihalaman belakang rumah ditemani Dogie yang berputar-putar mengelilingi  tempat Ran duduk.

GUK GUK

Anjing putih itu langsung berlari menghampiri Marcus begitu menyadari  majikannya sudah kembali. Dan karena itu Ran pun menoleh mencari penyebab Dogie menggonggong. Dan ternyata itu karena Marcus.

“Kau sudah pulang?”

Marcus tak menjawab. Ia langsung saja duduk disebelah Ran. “Kau sudah lebih baik?” Tanya Marcus.

“Tentu.” Jawab Ran singkat. “Apa itu?” Tanya Ran, melihat Marcus yang memabaw botol minuman ditangannya.

“Oh..ini…bibi Shin memberikannya tadi. Dan ini untukmu.” Jawab Marcus.

Ran hanya ber-oh ria. Karena tadi ia sempat curiga, kenapa Marcus membawa botol minuman pereda haid? Tapi ternyata hal yang dipikirkannya salah. Botol minuman itu justru untuknnya.

Suasana hening setelahnya. Matahari sudah mulai tenggelam dihadapan mereka. Itu terlihat jelas karena rumah Ran yang memang langsung menghadap ke pantai. Angin sore yang bertiup juga memberi ketenangan tersendiri. Membuat siapapun yang merasakannya dapat terbuai. Marcus menoleh pada Ran. Dan mendapati gadis itu tengah memejamkan kedua matanya.

Dilihat dari jarak seperti ini. Ran memanglah cantik. Gadis yang baik dan istimewa. Dengan rambut coklat dan bergelombang. Serta wajah yang mengungguli kecantikan boneka barbie. 1 bulan tinggal bersama gadis ini. Membuat Marcus tahu seperti apa gadis itu.

Namun, ia berpikir. Bagaimana jika Ran tahu bahwa ia hanya berpura-pura hilang ingatan? Apa reaksi gadis itu? Apakah ia akan kehilangan gadis itu?

Kehilangan? Memang siapa dirinya?

Marcus sadar. Ia sudah cukup keterlaluan dengan membohongi gadis baik ini. Mungkin bila yang menemukan dirinya bukanlah Ran. Semua ini akan berbeda. Tak akan ada perasaan yang ikut terlibat kedalam rencana hidupnya. Tapi inilah yang terjadi. Yang menyelamatkannya kala itu adalah Ran. Ia dirawatnya, dan diperlakukan baik oleh gadis itu. Siapa yang tak jatuh hati? Ia pun pria normal yang bisa merasakan terpesona.

Ran melambaikan tangannya didepan wajah Marcus. Berkali-kali namun pria itu tak kunjung sadar dari manunannya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memukul pelan kepala pria itu. Membangunkan pria itu dari lamunannya, karena pria itu melamun dengan mengahadap pada dirinya. Membuat Ran salah tingkah.

“Yak! Kenapa memukulku?!” Umat Marcus tak terima.

“Kau yang melamun terus. Ayo masuk kedalam.” Ujar Ran lalu ia beranjak dari posisi duduknya.

Marcus pun mengikuti Ran masuk kedalam rumah karena hari yang hampir gelap. Namun saat mereka sampai diambang pintu. Marcus menahan langkah Ran.

Ran pun menoleh. Dan..

CUP Kau pernah merasakan tersetrum oleh jutaan volt listrik? Ya, aku sedang merasakannya kini. Batin Ran.

 

Ran masih berdiri bak pahatan patung yang sempurna usai Marcus mengecup ringan pipinya. Dan kini pria itu sudah meninggalkannya diambang pintu. Pipi Ran pun kini muncul oleh semburat merah. Apa yang pria itu sednag lakukan? Pikir Ran tak percaya.

Marcus sesekali terkekeh dan menahan tawanya, ketika melihat tingkah Ran yang aneh. Gadis itu terlihat salah tingkah sejak mereka duduk bersama dimeja makan untuk menikmati sarapan.

“Aku tahu kau ingin tertawa.” Ucap Ran kesal. Demi apa, Ran tahu Marcus sedang menertawakan salah tingkahnya kini. Tapi salahkan saja pria itu. Pria itu yang lebih dulu membuatnya seperti ini.

Pagi tadi, saat mereka tak sengaja berpapasan saat melewati pintu dapur. Marcus sekali lagi mengecup pipi Ran. Dan terntu saja gadis ini selalu membeku. Ia sendiri bingung dengan tingkah Marcus ini.

“Ya!” Pekik Ran marah karena kini Marcus malah tertawa terbahak-bahak.

Ran beranjak dari kursi makannya dengan mendecak lidah karena kesal melihat Marcus yang tak kunjung menghentikan tawanya. Ia pun berencana ingin mengantarkan sendiri saja bunga-bunganya ke toko paman Shin.

“Hey! Tunggu aku!”

“Mianhe..” Ucap Marcus menyesal. Dan ia sudah mengucapkan kata maaf itu berkali-kali. Bahkan sepanjang perjalanan mereka menuju toko paman Shin. Namun Marcus tak kunjung mendapatkan kata ampun dari bibir Ran. Haishh..!

“Ada apa dengannya?” Tanya paman Shin pada Marcus saat ia melihat wajah murung Ran. Namun Marcus hanya mengedikkan bahunya. Dan berjalan melewati pria paruh baya itu.

“Kau apakan dia?” Tanya Paman Shin dengan nada yang seperti mengajak adu tarung. Demi apa, Marcus kini tengah bergidik ngeri. Bunuh saja dia karena berani mengusik ketenangan paman Shin. Asataga!

___

“Ran….” Rengek Marcus. Ia mengekori Ran kemanapun gadis itu pergi. Bahkan ketika gadis itu hendak merebahkan tubuhnya untuk tidur dikamar.

“YAK! KENAPA KAU MENGIKUTIKU TERUS!?” Bentak Ran kesal. Bahkan kini pria itu ikut berbaring disampingnya. Apakah pria itu sedang minta dibunuh olehnya.

“Ayolah…kenapa kau masih marah padaku?” Ujar Marcus. Lalu mendudukan dirinya disamping Ran yang berbaring didepannya.

“Ck! salahkan saja dirimu!” Cibir Ran. Kemudia ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.

“YA! tapi aku sudah meminta maaf, kan?!” Pekik Marcus kesal. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Ran. Dan itu benar-benar membuat singa ditubuh Ran terbangun sektika. Pria ini… Batinnya geram.

“YA! APA SIH MAUMU?!” Bentak Ran kesal. Dengan kasar ia membuka mrnyingkap selimut yang menutupi wajahnya.

“Aku ingin kau memaafkanku. Mudah, bukan?” Ucap Marcus dengan aegyo, yang kini membuat Ran bergidik ngeri melihatnya. Apa-apaan ini..

“Ck! terserah saja padamu!” Cibir Ran sekali lagi. Dengan acuh ia kembali mengurung dirinya dibawah selimut.

SRETT

“YA! APA-APAAN K—KAU?” Pekik Ran terkejut. Matanya membulat sempurna kala Marcus menyingkap selimut yang digunakannya. Dan kini pria itu berada diatas tubuhnya.

“Maafkan aku!” Ucap Marcus tegas tak terbantah. Membuat Ran melongo dibuatnya.

“Hey! Kau sedang meminta maaf atau sedang memaksa aku memaafkanmu? Licik sekali..” Desis Ran kesal. Ia mendorong dada pria itu agar menjauh darinya. Tapi Kyuhyun malah menekan tubuhnya. Tentu saja itu semakin membuat Ran sesak napas. Selain karena berat tubuh Kyuhyun yang menindihnya. Juga karena jarak wajah mereka yang tak bisa dibilang sebagai jarak normal untuk berbincang. Apa pria ini sedang gila? Batin Ran memekik.

Bukannya Jawaban yang berarti. Marcus hanya mengedikkan bahunya acuh. Lalu ia menatap kembali wajah cantik dibawahnya. Sebenarnya, Marcus sendiri tidak tahu ia mendapat keberanian dari mana untuk melakukan ini. Tapi entahlah. Yang terpenting, sesuatu yang ada dilubuk hatinya kini tengah meletup-letup bahagia. Menerbangkan ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya.

“H-hey!” Ucap Ran terbata. Kedua tangannya kini tengah bekerja keras untuk menahan tubuh Marcus yang sekin turun. Dan akhirnya berdampak pada jarak wajahnya dan wajah Marcus semakin terhapus. Aigoo…

Batin Ran berteriak gugup. Ia bingung harus melakukan apa saat ini. Hidung mereka berdua kini sudah saling bersentuhan. Dan tatapan Marcus kini menggelap—sendu. Ran tak tahu apa yang sedang dipikirkan Marcus saat ini. Hingga pikirannya pun ikut kacau ketika bibir mereka sudah bersentuhan.

CUP

Ran kacau. Ia membulatkan matanya semakin lebar. Tentu ia terkejut. Tidak! Ini bahkan maha dahsyat dari terkejut. Darahnya berdesir lebih cepat dari sebelumnya. Dan detak jantungnya mulai bergemuruh seperti kumandang perang ketika Marcus mulai menyapu bibirnya dengan bibir menawan pria itu. Ran Lemas dibuatnya.

Marcus semakin menekan tubuhnya pada tubuh Ran ketika ia tak mendapat respon apapun dari gadis itu setelah cukup lama ia hanya menempelkan bibirnya diatas bibir tipis Ran. Akhirnya ia pun memulai untuk menyapu bibir Ran pelan. Memberi kesan pertama yang lembut bagi gadis itu. Sangat lembut. Ia melumat pelan bibir tipis Ran.

Tolakan tangan Ran didada Marcus mulai mengendur. Gadis ini mulai terbuai dalam ciuman ini. Membuat kelegaan dihati Marcus mulai membuancah. Ia pikir Ran akan menolaknya dan mungkin akan ada reaksi yang lebih buruk lagi. Tapi yah… Marcus tersenyum tipis dalam ciumannya. Ia menggigit-gigit kecil bibir Ran. Memancing Ran untuk melakukan hal serupa—membalas ciumannya.

Ran tahu. Ia sudah mulai terbuai dengan apa yang dilakukan Marcus sekarang. Ia akui ciuman yang diberikan pria ini begitu lembut. Sangat lembut. Dan terkesan hati-hati. Ran menebak, bila Marcus pasti ingin ia membalas ciuman pria itu karena Marcus kini tengah menggigit kecil bibirnya. Dan perlahan. Ran pun mulai membalasnya.

Marcus terkejut. Ran membalasnya?

Dengan senyum bahagia yang masih terpatri. Marcus semkin memperdalam ciuman itu. Menekan tengkuk Ran. Tak memberikan jarak sedikitpun untuk tubuh mereka.

=Flowered_Gorjesso=

Suasana menjadi sangat canggung keesokan harinya disaat mereka sudah diduduk bersama dimeja makan untuk sarapan. Mungkin bagi Marcus, kejadian kemarin malam hanya biasa untuknya. Namun berbeda dengan Ran. Kejadian malam itu benar-benar berdampak dahsyat untukku. Bahkan tadi malam ia tak bisa terlelap tidur dengan tenang. Dan terus saja memegangi bibirnya ang ia yakin memerah setelah ciuman intens itu berakhir dengan Marcus dan dia yang tidur seranjang.

Lihat saja sekarang. Marcus melahap sarapannya dengan tenang. Bandingkan dengan Ran yang terlihat uring-uringan dengan pikirannya sendiri. Gadis ini terus saja mendesah frustasi. Karena ingatannya tentang ciuman tadi malam tak enggan untuk segera enyah dari tempurung kepalanya.

“Gwenchana, Ran?” Tanya Marcus khawatir. Sejujurnya ia beberapa kali mencuri pandang pada gadis itu. Dan ia terus mendapati Ran yang tak nyaman. Gelisah diatas kursinya.

“Ah—o—ne. Nan gwenhanayo.” Balas Ran. Sempat linglung. Namun cepat ia mengendalikan dirinya.

“Kalau begitu cepat habiskan makananmu. Atau…” Perintah Marcus, namun pria itu masih menggantung kalimatnya. Membuat Ran menunggu apa yang ingin dikatakan pra itu.

Atau? Batin Ran berseru penuh tanya.

“Atau aku akan menciummu lagi.”

MWO? Ran terbelalak. Pria ini mengucapkan kalimat ancamannya itu didepan wajah Ran persis. Membuat Ran memundurkan wajahnya.

“M-MWO? K-kau gila.” Protes Ran. Tapi hasilnya ia kehilangan pita suaranya. Karena wajah Marcus yang tak kunjung pergi dari hadapannya. Malah semakin dekat saja.

“Aku serius. Jadi habiskan makananmu.”

Setelah Marcus duduk di kursinya lagi. Ran mendesis kesal. Merutuki pria yang duduk menikmati sarapan bersamanya.

Sepanjang perjalanan menuju kota. Ran masih saja terus menggerutu karena Marcus kini menggunakan ‘aku akan menciummu jika tidak menuruti perintahku’ untuk mengancam Ran. Alhasil Ran langsung diam bak patung karena mendengar kalimat itu berseru dari bibir pria laknat itu. Ya! Ia benci Marcus!

Karena ia sudah tahan. Dan karena tangannya sudah terlalu gatal untuk memukul pria yang kini memboncengnya dengan sepeda. Dengan sedikit ancang-ancang Ran mencubit pinggang Marcus. Menghasilkan rintihan yang kuat. Membuat burung-burung pantai yang tengah berjemur di batasan pantai langsung beterbangat karena mendengar teriakan rintihan Marcus yang menggelegar. Eoh..

“YAK! APA-APAAN KAU?!” Ucap Marcus tak terima. Ia menghentikan kayuhannya. Dan menatap Ran yang menatap datar padanya seperti tidak melakukan papa-apa seperti yang Marcus tuduhkan padanya.

“Aku tidak melakukan apapun.” Ujar Ran.

Marcus mendesah kesal. Ia geram dengan jawaban Ran.

“Jika saja ini bukan di jalanan. Aku akan menciummu lagi.” Ancam Marcus. Membuat bibir Ran membentuk ‘O’ karena tak percaya dengan apa yang diutarakan pria itu barusan. Pria ini mesum sekali ternyata?

“Yak! Dasar mesum!” Pekik Ran. Ia memberondong Marcus dengan pukulan kuat ditubuh pria itu. Dan terjadilah peristiwa yang mirip dengan kisah TOM & JERRY. Yeah..

“Kenapa kalian baru tiba?” Tanya paman Shin ketika melihat Marcus dan Ran tiba didepan tokonya.

“Salahkan saja dia!” Tuduh Ran. Jari telunjuknya menunjuk tepat didepan hidung Marcus. Lalu setelah berhasil mengintimidasi pria itu. Ia melenggang masuk kedalam toko dnegan tampang acuh.

Paman Shin hanya bisa melihat kepergian Ran dengan waja bingung. Alis bertaut. Ada apa lagi dengan 2 anak muda ini?

Lalau kini tatapannya bergilir menuju Marcus. Memberi pria itu tatapan horor dan tajam yang bisa menusuk mata lawan bicaranya. “Kau apakan lagi dia?” Tanya Paman Shin dengan geram.

“A-aku. Aku tidak melakukan apapun.” Okey! Sepertinya ia harus mendapat ceramah lebih panjang dari paman Shin dari sebelumnya. Great! Ran sudah berhasil membawanya menuju kandang singa!

Dimeja makan keluarga Shin. Kini ditempati oleh 4 orang. Tidak seperti biasanya. Karena ada Ran dan Marcus yang ikut makan siang bersama mereka.

“Ah…serasa aku memiliki keluarga yang bahagia.” Gumam bibi Shin membuaka percakapan.

Ran dan Marcus hanya tersenyum kecil. disini mereka duduk bersebelahan dengan aura kesal milik masing-masing yang masih mendominasi.

“Sebenarnya, kemarin paman mendapat seorang pembeli yang memesan banyak bunga untuk acara peresmian perusahaan mereka. Tapi paman tak yakin bila paman dan bibi akan menyelesaikan itu dengan cepat.”

“Kalau begitu paman bisa meminta bantuanku.” Celetuk Ran.

“Aih…memangnya tidak papa?” Ujar bibi Shin.

“Ck! Tentu saja! Aku siap kapanpun kalian membutuhkan bantuanku.” Ucap Ran meyakinkan. “Tapi..dimana letak perusahaannya, paman? Di Seoul juga?”

“Ne. Sedikit Jauh dari toko paman. Dan ini nama perusahaannya.” Ujar paman Shin menyiyakan dan menyerahkans ebuah kartu  nama untuk Ran lihat.

“Lypco COMPANY..” Gumam Ran. Tapi berbeda dengan Marcus. Pria itu langsung terlihat menegang. Ia terhenyek mendengar nama itu didebutkan.

“Pa-paman..apakah aku boleh ikut membantu kalian?” Tanya Marcus. Semuanya terlihat melihat padanya. Termasuk Ran yang melihat Marcus seperti tegang dan menahan sesuatu. Ada apa dengan pria ini? Batin Ran bertanya-tanya.

“Tentu saja. Bukankah semakin banyak personel akan semakin cepat selesai?”

Kalian tentu tahu apa yang membuat Marcus sempat menegang tadi. Pria ini mendengar nama perusahaan yang tak lagi asing di telinganya. Nama perusahaannya sendiri. Dan paman Shin tadi mengatakan bahwa akan diadakan peresmian? Peresmian apa? Apa yang ingin dilakukan Kris dan Victoria pada perusahaannya? Apakah 2 sahabatnya. Bukan! Mantan sahabatnya itu akan membuat perusahaannya menjadi milik mereka?

Pikiran Marcus terus tertuju pada hal-hal itu. Kepalanya semakin pening untuk memikirkan kemungkinan buruk akan terjadi pada perusahaan keluarganya itu. Ia ingin sekali sekarang juga menemui kedua orang itu—menemui Kris dan Victoria. Meminta penjelasan tentang semua ini. Dan terakhir, ingin membunuh kedua orang itu dengan tangannya sendiri. Namun ia tak bisa apa-apa. Posisinya bahkan sudah dianggap mati. Ya, Kris dan Victoria pasti mengira ia sudah mati saat mereka menyeburkan dirinya dilaut.

BRUK

Skali lagi ia memukul tembok dengan kepalan tangannya. Amarah pria ini benar-benar memuncak. Ia sudah tidak sabar untuk segera melampiaskannya pada sahabat yang menghianatinya itu. Menghianatinya secara perlahan. Dan Marcus bersumpah! Ia akan menjatuhkan Kris dan Victoria kedalam lubang yang sama dengannya. Dan berharap mereka tak akan muncul lagi kehadapannya. Secara perlahan. Ya, secara perlahan. Hingga 2 orang itu tak menyadari pembalasan yang mulai mengikuti mereka.

“Marcus…” Suara lembut menyadarkan Marcus dari lamunannya. Ia menoleh kebelakang dan menemukan Ran dengan alis bertaut. Gadis itu. Dalam sekejap saja mampu meluluhkan emosinya. Benar-benar menakjubkan. Ia yakin. Ia akan terus membutuhkan gadis ini disampingnya.

“Ne?” Sahut Marcus dan berjalan menghampiri Ran. “Kau terbangun?”

Ran menganggukan kepalanya. “Apa yang kau lakukan tengah malam begini?

“Aku hanya tidak bisa tidur.” Jawab Marcus. “Kau pasti terbangun karenaku. Kalau begitu aku akan memelukmu sampai kau tertidur.”

Marcus langsung menarik tubuh Ran dan memeluknya dengan erat setelah mengucapkan kalimat itu.

“A— Marcus..” Lirih Ran. Ia masih terkejut dengan tarikan Kyuhyun yang tiba-tiba. Jantungnya langsung berdegup kencang sebagai respon atas tindakan pria ini.

“Tidurlah..Aku akan memelukmu seperti ini.” Tutur Marcus. Ia mengusap punggung v dan semakin mengeratkan pelukannya. Dan sesekali mengecup puncak kepala Ran. Membuat gadis ini semakin didera penyakit jantung yang tak kunjung usai. Tangannya pun ikut menegang karena gugup. Dan Ran berpegangan pada ujung kaus yang Marcus pakai.

“Ta—tapi ji—ka berdiri mana bisa aku ter—tidur.”  Ucap Ran dengan tergagap bukan main. Lidahnya bahkan terlalu kelu.

“Eoh..begitu ya..berarti kajja, kita kekamar!”

Ran membulatkan kedua matanya. Tapi belum sempat ia memprotes. Tubuhnya sudah diangkat ala bidalstyle oleh Marcus dan langsung membawanya menuju kamar. Pria itu tidak dengan susah payah membuka dan menutup pintu karena kakinya yang bekerja. Suara debaman pintu yang cukup keras sempat membuat Ran menutup matanya sekejap.

“Kau gila!” Komentar Ran. Memandang Marcus tak percaya. Tapi pria itu hanya menatapnya seolah tidak terjadi apapun.

Setelah itu Marcus membawa Ran menuju ranjang. Dan merebahkan tubuh gadis itu disana. Sedangkan saat ia hendak ikut merebahkan tubuhnya sendiri disana. Ran langsung mendorongnya membuat ia berdiri tegak lagi disamping ranjang.

“Wae?” Tanya Marcus bingung.

“Ya! Mana bisa kau ikut tidur disini?! Kau sudah punya kamar sendiri! Tidurlah disana!” perintah Ran mendorong Marcus menjauh dari jaraknya. Namun pria itu masih kekeh berdiri disamping ranjangnya.

“Ck! Tidak! Aku ingin tidur disini!” Ujar Marcus.

“Yak! Kau pikir ini apa?” Protes Ran.

“Aku hanya ingin menidurkanmu. Karena aku yang membuatmu terbangun. Apa itu salah?” Jelas Marcus. Dengan tampang polos seolah tak tahu apa yang telah menyulut emosi Ran.

“Aigoo…Jadi kau ingin tidur seranjang denganku lagi, begitu? Yak! Enyahlah mesum!” Umpat Ran lalu menarik selimut dan menimbun diri dibawahnya.

“Arra..arra…aku bisa saja melakukan yang waktu itu lagi.” Gumam Marcus bermaksud menggoda. Dan berhasil. Ran langsung membuka selimutnya. Dan menatap Marcus curiga. Apa yang akan dilakukan pria itu? Melakukan yang waktu itu? Oh…jangan…Jangan… Batin Ran menebak.

“O..O…Oh…jika kau berani melakukan itu lagi. A—aku jamin kau akan tidur diluar selamanya.” Ancam Ran tapi terasa gagal karena suaranya seperti tercekik melihat tatapan tajam Marcus yang tertuju padanya.

“Gurrae?” Marcus mulai mendekat kearah Ran berada. Menaiki tepian ranjang. Semakin membuat degup jantung gadis itu berpacu bak genderang perang. “Yak—yak!” Protes Ran kala Marcus kini mulai memposisikan diri diatas tubuhnya.

Marcus terrsenyum miring. Ran itu ccepat sekali ia kuasai. Sekalipun gadis itu tengah marah besar sekalipun padanya. Dan ia sangat menyukai expresi gadis itu bila tengah ketakutan seperti ini. Menggemaskan.

“A— Marcus…Menyingkirlah…” Pinta Ran dengan tergagap. Ia terus mencoba menahan tubuh Marcus agar tak sempurna menmpel dengan tubuhnya.

“Shireo!” Tolak Marcus dan terus memajukan wajahnya. “Maafkan aku dulu. Dan biarkan aku tidur disini bersamamu.” Tutur Marcus memberi syarat.

“Ck! Picik sekali. Tidak! Aku tidak akan memafkanmu..apa lagi mengizinkanmu tidur disini bersamaku!” Tolak Ran. Apa-apaan ini..

“Well…kalau begitu aku harus menciummu.” Ucap Marcus santai dan langsung memajukan wajahnya sedekat mungkin dengan Ran. Hingga kening mereka kini bersentuhan.

Ran tergagap. Nafasnya tercekat kini. Pria ini selalu saja memaksakan apa yang ia inginkan! Okey..baiklah…lebih baik ia memaafkan pria itu. dan ia selamat dari ciuman Marcus yang ia akui begitu lembut dan memabukkan. Memikirkan hal ini membuat pipinya memanas.

“Ba—baiklah..” Ran menghela nafasnya. “Aku memafkanmu. Jadi segera turun dari tu—mmfff“ Kalimat Ran terpotong begitu saja oleh bungkaman yang Marcus lakukan dengan bibirnya. Tidak bergerak hanya diam diatas bibir tipis Ran. Namun memberi tekanan agar bibir itu tak bisa menolaknya.

Sedikit lama. Hingga Ran dapat menyadarinya dan mendorong dada Marcus meminta memberi jarak karena oksigen sudah terasa sangat tipis diantara mereka. Setelah Marcus melepas ciumannya itu. Ran langsung menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Aigoo…ini benar-benar mengerikan. Pria itu…Aishhhh.. Batinnya merutuki.

Marcus hanya tersenyum melihat wajah Ran yang memerah dan kini gadis itu tengah menghirup udara sebanyak mungkin. Dan itu karena ulahnya. Ia masih bertahan diatas tubuh gadis itu. Menikmati pemandangan yang pasti hanya ia yang bisa melihatnya. Dan ia bisa pastikan itu.

“Ke—kenapa melihatku seperti itu?” Ran saat ini hanya bisa merutuki dirinya yang selalu saja kehilangan suaranya disaat seperti ini. Disaat ia dipermainkan oleh Marcus.

“Aniyo. Hanya sepertinya menarik untuk kupandangi.” Jawabnya enteng.

Ran langsung menyilangkan tangannya didepan dadanya. Pria ini mesum sekali. Jika tangannya itu mampu berkutik seperti biasanya. Ia ingin sekali memukuli pria yang menindihnya ini sepuasnya. Tapi ia tidak bisa. “Sudah puas. Jadi turunlah dari tubuhku. Kau pikir kau tidak berat, heum?” Maki Ran. mendorong Marcus agar menyingkir dari atas tubuhnya.

Namun sebelum meyingkir dari atas tubuh itu. Marcus mengecup sekilas kening Ran. Membuat gadis itu kini membeku ditempatnya. “Jaljayo.” Ucapnya sebelum ia keluar dari kamar gadis itu.

Ran memegangi wajahnya yang memanas setelah mendengar pintu kamarnya tertutup. Ia berteriak tertahan setelahnya. Ia merutuki dirinya sendiri karena tak bisa menolak setiap perilaku Marcus padanya. Imun tubuhnya benar-benar payah!

=Flowered_Gorjesso=

Beberapa hari kemudian. Dengan persiapan yang sudah selesai. Dan kemudian hari berikutnya mengemasi beberapa barang yang hendak dibawa. Termasuk bunga-bunga yang sudah dirangkai. Paman dan bibi Shin serta Marcus dan Ran naik ke mobil. Lalu siap untuk meluncur menuju tempat pelanggan mereka berada.

Didalam mobil tak hentinya paman dan bibi Shin mengoceh tentang cerita masa muda mereka. Sedangkan Marcus dan Ran hanya diam mendengarkan. Beberapa kali Ran melirik pada pria disebelahnya. Dan menemukan Marcus yang melamun. Pria itu beberapa hari ini lebih sering melamun. Ran yakin pria itu sedang memiliki masalah. Dan sepertinya begitu memeras kerja otak pria itu. Membuat Ran menghela nafasnya karena ia tak berani bertanya kenapa, dan ia pun tak ingin mencampuri urusan pria itu.

“Cah! Kita sudah sampai.” Teriak paman Shin memberi tahu. Lalu mereka berempat pun turun dari mobil dan mulai menurunkan barang-barang yang mereka bawa dan dimasukkan kedalam gedung yang menjadi tempat pelanggan mereka mengadakan acara. Gedung yang tinggi dan besar. Baik paman dan bibi, Ran juga ikut mendecak kagum melihatnya.

Mereka diantar menuju ke sebuah ruangan yang menjadi tempat utama penyelenggaraan acara. Mereka berempat mulai menatap bunga-bunga pada setiap menja yang sudah tertata rapi. Serta pata tempat-tempat lain yang sudah direncanakan dihias dengan rangkaian bunga milik toko paman Shin.

Marcus memutar matanya menatap kesekeliling. Semua masih sama. Batinnya menilai. Ia membetulkan posisi masker yang digunakannya. Sengaja menggunakan masker karena ia tahu. Semua orang yang bekerja ditempat ini pasti mengenalnya. Mengenalnya sebagai Cho Kyuhyun. Direktur mereka. Dan Marcus tidak mau. Karena ia harus tetap menjadi Marcus hingga rencananya berhasil. Hingga ia bisa menggulingkan Kris dan Victoria. Lalu merebut kembali apa yang memang menjadi miliknya.

“Lee Taemin..” Lrihnya. Saat seorang pria berjalan melewatinya. Lee Taemin. Pria itu adalah salah sau tangan kanan Marcus digedung ini. Sorang pria yang Marcus yakini. Taemin bukanlah salah satu bagian dari Kris maupun Victoria.

Temin terkejut bukan main saat mengenali seorang pria yang menyeretnya menuju sebuah tempat sepi. “Sajangnim..” Gumamnya tak percaya. Segera ia menunduk hormat pada pria yang ia panggil sajangnim.

Marcus membuka maskernya. Dan tersenyum pada Taemin. “Aku pikir kau sudah melupakanku.” Ucap Marcus.

“Tidak! Tentu saja tidak, sajangni! Mana mungkin saya melupakan anda. Tapi bukankah seharusnya anda sudah me—“

“Aku tahu. Kalian semua pasti mengira aku sudah meninggal, bukan?” Potong Marcus. Taemin mennganggukan kepalanya. Mengiyakan. “Dan ada sesuatu yang aku bicarakan denganmu, Sekertaris Lee.” Sambung Marcus.

“Oh..Ne sajangnim. Mari kita keruanganku.”

Ran baru menyadari Marcus tidak ada disekitar mereka. “Kemana pria itu?” Gumamnya, metanya menelisir tempat itu dengan teliti. Tapi ia tak menemukan Marcus dimanapun.

“Wae Ran?” Tanya bibi Shin.

“A—aniyo.” Jawab Ran berbohong. Da ia pun mulai menyibukkan diri  dari pada memikirkan pria bernama Marcus itu. Walau sejujurnya ia sangat khawatir. Khawatir bila Marcus tersesat ditempat ini karena pria itu kehilangan ingatannya.

“Maafkan saya sajangnim. Saya sudah encoba mencari anda. Tetapi anak buah mereka selalu memboikot apa yang saya lakukan.” Tutur Temin menyesal.

“Aku mengerti, sekertaris Lee. Dan aku berterimakasih karena kau masih berpihak padaku.” Ucap Marcus.

“Tentu saja, sajangnim. Saya akn terus berada dipihan anda.”

Setelah Marcus puas berbicara dengat Taemin. Ia pun keluar dari ruang kerja milik pria itu. Dan ketika ia berada didalam lift. Sesuatu yang tidak diduganya terjadi. Ia bertemu dengan Kris dan Victoria. Mereka berdua terlihat sangat senang.

Marcus menundukkan kepalanya dalam. Ia takut 2 orang ini mengenalinya seperti yang terjadi pada Taemin tadi walau ia sudah menggunakan masker. Ia memposisikan dirinya disudut belakang lift. Dan ia menajamkan pendengarannya ketika Kris dan Victoria terdengar tengah bercakap serius tentang sesuatu. Sesuatu yang pasti bisa Marcus ketahui dengan cara seperti ini.

“Sebentar lagi. Semua saham, aset, pegawai, dan semuanya. Akan menjadi milik kita.” Ucap Victoria, tersenyum sinis setelahnya.

“Tentu saja. Kita hanya menunggu waktu 1 bulan lagi. Saat pengaca Cho Kyuhyun bodoh itu menyerahkan apa yang seharusnya diserahkan dari dulu. Sayangnya pengacara itu dipayungi hukum…ckck..meyusahkan.” Ujar Kris mengiyakan.

“Lalu apa yang akan ita lakukan setelah ini, Kris?” Tanya Victoria.

“Kita akan….

Marcus mengepalkan kedua tangannya kuat. Amarahnya sudah sampai diubun-ubun saat ini karena mendengar tiap kata yang terucap dari bibir kedua manusia biadap didepannya. Jika bukan karena untuk membalas dendam. Jika bukan karna ia harus membayar telak apa yang sudah dirasakannya. Jika bukan karena ia ingin merebut lagi apa yang menjadi miliknya. Marcus bisa saja menusuk punggung 2 orang ini mengingat ia membawa pisau lipat yang digunakan untuk merapikan bunga disaku celananya.

“Marcus!”

Kyu-Ran || FLOWERED | A Fanfiction By Gorjesso@2015 All Right Reserved

 

FF ini pernah aku post di blog pribadi (www.gorjesso.blogspot.com) dalam versi lain. Jadi kalau menemukana kesamaan itu memang disengaja. Maaf jika typo bagaikan ranjau ada dimana-mana. Karena gg ada typo itu gg rame!

TBC

Kyu-Ran || A Loved One Part 1

A loved one

 

Kyu-Ran || A Loved One | A Fanfiction By Gorjesso@2015 All Right Reserved

Main Cast : Cho Kyuhyun-Kim Ran-Choi Siwon

Other Cast : Lee Sungmin, Jung Soori

Author : Fatmawati Kartika [gorjesso]

Rate : PG-15

Genre : Romance, Hurt

 

PART 1

 

Gak ada typo gak KECE! Happy reading..

 

A Loved One || Gorjesso

 

_Saat bening suasana ini menyapa | When the atmosphere is clear greet _

“Bogoshipo..”

Kyuhyun menerima pelukan kakaknya kala baru saja menjejakan kakinya dikampung halamannya Seoul, Korea Selatan. Membalas pelukan kakaknya itu dengan rindu. Cho Ahra nama kakaknya. Seorang pemain biola dan juga seorang pengacara. 2 profesi yang berbeda. Tapi keluarga Cho memang tak pernah mempermasalahkan itu. Sedangkan Kyuhyun, putra bungsu keluarga Cho lebih memperlihatkan bakat bisnis namun juga tak memungkiri bahwa ia punya suara indah yang menenangkan.

“Selamat, kau akan menjadi CEO Lypco Group setelah ini.” Ucap Ahra sembari menggandeng lengan adik laki-lakinya itu.

“Eiy, seharusnya kau yang mendapat jabatan ini. Kau kan anak pertama.” Ujar Kyuhyun.

“Ck! Karena kau yang belajar bisnis, bukan aku!” Balas Ahra. “Cha! Sekarang kita akan menemui appa dan eomma yang sudah membuat penyambutan besar-besaran untukmu.”

“Nde?”

Kyuhyun hanya pasrah ditarik oleh kakanya yang langsung membawanya menuju mobil. Sedangkan otaknya sedang berpikir penyambutan besar-besaran seperti apa yang disiapkan oleh orang tuanya. Karena mengingat saat pesta perpisahan ketika ia hendak pergi ke Jerman untuk mengurus cabang Lypco Group juga orang tuanya melakukan pesta yang dimana seluruh karyawan perusahaan dari kantor pusat Lypco juga turut diundang. Bayangkan, karyawan Lypco Group itu ada ribuan. Dan—

Oh tidak, jangan lagi!

Memikirkannya membuat Kyuhyun pening seketika.

A Loved One || Gorjesso

 

Mesin mobil yang ditumpangi Kyuhyun berhenti didepan sebuah rumah mewah yang terlihat begitu terang dengan berbagai lampu hias diberbagai sudutnya. Oh tidak! Ternyata kedua orang tuanya benar-benar tak berbohong soal penyambutan ini. Kyuhyun bahkan akan lebih bersyukur bila penyambutan ini hanya berupa pelukan rindu dan kemudian ia dibiarkan tidur karena sesungguhnya ia sedang mengalami jet lag! Oh…membayangkan dirinya harus berpidato, menyalami, dan terus memasang senyum manis membuatnya berkali-kali membuang nafas kesal.

PLETAK

“YAK!” Protes Kyuhyun. “Kenapa memukulku?!”

“Berhentilah membuang nafas seperti itu dan pasang senyummu!” Perintah Ahra yang kemudian menarik dua sudut bibir Kyuhyun dan ditambah lagi mencubit 2 pipi Kyuhyun yang cubi.

“Ya! Ya! Ya!” Jerit Kyuhyun yang menjadi pelampiasan kegemasan Ahra.

“Pipimu bertambah cubi saja.” Ujar Ahra. Dan Kyuhyun hanya memutar bola matanya jengah. Dari dulu hingga sekarang kalimat ini selalu didengar Kyuhyun dari kakaknya. Dan ini sungguh menyebalkan karena ia masih saja seperti seorang adik kecil.

“YAK!” Jerit Kyuhyun karena kakaknya kembali mencubit pipinya. “Aishhh…jinja!” Umpatya kesal dan hendak membalas pada Ahra namun wanita itu sudah berlari masuk kedalam rumah.

“YAKK! Jangan berlari kau sedang mengandung!” Teriak Kyuhyun khawatir.

“Mari tuan muda, semua orang sudah menunggu.” Kyuhyun tersentak dan kemudian melihat ternyata masih ada supir Min, supir keluarga Cho yang masih menugguinya untuk masuk.

 

Selesai memberikan pidato singkatnya dalam acara penyambutan untuk dirinya Kyuhyun pun lebih memilih untuk menghindari semua orang dan duduk disebuah kursi santai ditaman belakang rumahnya yang juga menjadi tempat pesta hanya saja tidak banyak yang orang disini karena mereka lebih memilih menikmati musik yang ada didalam rumah Kyuhyun yang besarnya seperti ballroom.

Kyuhyun memijit pelipisnya pelan. Oh…efek dari jet lagnya belum mau hilang juga padahal tadi ia sudah meminum ramuan herbal yang biasa ia minum karena saking seringnya ia jet lag jika bepergian jauh. Dilihatnya layar ponselnya dan mendapati sebuah pesan dan itu dari kakaknya yang pasti sedang mencari-cari dirinya. Dan ia tak mau ambil pusing lagi untuk masuk kedalam ruangan itu.

A Loved One || Gorjesso

 

Lypco Group seperti diguncang saat ini. Bukan oleh bisnis seperti harga saham yang tiba-tiba turun atau apa, hanya saja semua karyawan heboh ketika melihat bos mereka yang baru saja memasuki loby perusahaan dengan langkah yang menawan, badan yang tegap, serta ketampanan yang tak usah ditakar lagi. Oh, semua pegawai wanita tak bisa untuk tidak memasang wajah kagum dan mata berbinar memuja. Ketampanan presiden direktur mereka terlalu keterlaluan.

Cho Kyuhyun, orang itu. Namun ia hanya memasnag senyum sedikit yang  malah ternyata semakin membuat karyawan wanita semakin sesak nafas dibuatnya. Kyuhyun heran, bukankah mereka juga kemarin melihat dirinya saat pesta penyambutan. Tapi kenapa mereka baru memujinya sekarang?

Oh, tentu saja. Itu karena kemarin hanya jajaran direksi saja yang datang ternyata dan beberapa orang penting dari setiap divisi dari Lypco Group.

“Ruangan anda ada dilantai 29.” Ujar sekertaris Lee memberitahu Kyuhyun. Kyuhyun memasuki lift khusus direksi dan sekertaris Lee yang memencet tombol menuju lantai 29.

Setibanya dilantai 29 dan masuk kedalam ruangannya. Kyuhyun juga mengajak sekertarisnya itu untuk masuk. Untuk melepas rindu dengan seorang laki-laki yang sudah dianggapnya kakak ini. “Lama tidak bertemu, hyung…”

Kyuhyun pun langsung memeluk sekertaris Lee. Sahabat dari masa junior high school hingga sekarang laki-laki itu menjadi sekertarinya. Kyuyun sendiri yang meminta Lee Sungmin—nama lengkap laki-laki itu—untuk menjadi sekertarisnya. “Kau semakin tinggi, Kyu..” Ujar Sungmin memnbalas pelukan adiknya itu.

“Ck! Aku bahkan sudah lebih tinggi darimu dari dulu.” Cibir Kyuhyun. Lalu mereka tertawa bersama.  Namun beberapa detik kemudian tawa itu menghilang dan diganti wajah gusar dan menyedihkan. Hal yang sebenarnya selalu ditakutkan oleh Sungmin ketika adiknya kembali ke Korea.

“Kau masih belum melupakannya?” Tanya Sungmin hati-hati.

Kyuhyun menoleh pada Sungmin. Menjawab pertanyaan itu hanya dengan anggukan lemah. “Kami hampir menikah, hyung..kau pasti tahu seperti apa perasaanku padanya.” Jelas Kyuhyun.

Sungmin menepuk pundak Kyuhyun memberi semangat. “Kyu, selama kau pergi aku juga terus mencarinya. Aku ykin ia masih hidup, sangat. Namun aku tak yakin Ran masih ada dikorea saat ini. Tapi kejadian hilangnya Ran sendiri juga belum bisa dipastikan. Hingga itulah yang menyulitkan pencariannya.” Tutur Sungmin.

Kyuhyun tertunduk lesu. Sudah lebih dari 4 tahun. Batinnnya.

Seorang yang gadis yang hendak dinikahinya hilang begitu saja tanpa jejak. Namanya Kim Ran, gadis cantik berdarah Korea, Jepang, dan Belanda. Perpaduan yang begitu sempurna untuk seorang gadis cantik yang berprofesi sebagai dokter saat itu. Usianya terpaut lebih muda satu tahun dengan Kyuhyun. Mereka bertemu kala Kyuhyun sedang mengantar kakaknya yang mengalami masalah bulanan namun kala itu berbeda dari biasanya yang akhirnya membuat Ahra harus dilarikan kerumah sakit karena darah yang dikeluarkan tidak seperti biasanya.

Sebagai dokter ahli kandungan, Ran—panggilan gadis itu—tentu mengerti dengan masalah yang menimpa Ahra. Kyuhyun yang saat itu begitu panik dan tak mengerti apapun hanya bisa memohon pada Ran agar menolong kakaknya. Kemudian setelah hampir seminggu Ahra dirumah sakit itu malah menjadikan mereka saling mengenal dan dekat. Kyuhyun benar-benar terpesona ketika melihat Ran setelah memeriksa Ahra saat itu, oh..tentu saja karena saat pertama melihat Ran, Kyuhyun tidak sempat mengagumi kecantikan gadis itu karena terlalu panik. Untung saja ia tak terlambat untuk menyadari kecantikan gadis itu karena ternyata jika ia terlambat sedikit saja, ia akan mempunyai saingan berat yaitu seorang teman Ran yang juga seorang dokter bernama Lee Donghae.

Dan mereka kemudian masih menjalin hubungan baik diluar rumah sakit setelah Ahra sembuh. Dan Ran juga punya tempat tersendiri dihati keluarga Cho apalagi setelah Kyuhyun terang-terangan mengatakan bila ia tertarik pada Ran dihadapan semua keluarganya saat itu. Tuan dan Nyonya Cho sendiri tak ambil pusing selama Kyuhyun memilih seorang gadis yang baik hati dan punya sopan santun seperti yang ditunjukan oleh Ran. Benar-benar menantu idaman. Oh ya, jangan lupakan keahlian memasak Ran. Poin plus yang semakin membuat keluarga Cho tak akan merelakan Ran diambil orang lain dan hanya untuk putra mereka semata.

Keluarga Kim—keluarga Ran—juga tak menolak kehadiran Kyuhyun. Mereka juga sangat menyukai Kyuhyun karena melihat Kyuhyun yang begitu serius untuk menjaga Ran, putri semata wayang mereka karena mereka yang lebih memilih tinggal di Amsterdam dan bukan bersama putri mereka di Seoul.

Pertunangan pun dilakukan setelah 1 tahun hubungan Kyuhyun dan Ran. Mereka melakukan pertunangan tidak terlalu besar-besaran namun hampir seluruh negeri tahu pertunangan mereka bahkan mengalahkan pernikahan yang dilakukan oleh selebritis sekalipun. Tentu saja karena Kyuhyun merupakan putra dari perusahaan ternama di Korea dan Ran adalah putri seorang Profesor sains kebanggan Belanda dan Korea. Kyuhyun dan Ran benar-benar membuat seluruh orang iri terhadap keserasian mereka. Sempurna dengan cinta mereka yang begitu menjanjikan.

6 bulan menjalani pertunangan, Kyuhyun memutuskan melamar Ran disaat Ran baru saja selesai melakukan sebuah operasi besar saat itu. Sebuah lamaran yang sangat tidak masuk akal karena saat itu Ran bahkan masih menggunakan pakaian hijau khas ketika sebuah operasi dilakukan dan masih menggunakan masker dan peluh masih bercucuran dipelipisnya karena baru saja berhasil mengeluarkan seorang bayi yang masih prematur namun karena sebuah kecelakaan bayi itu harus segera keluar atau akan mengancam keselamata ibu dan bayi itu sendiri.

Ran sendiri terkejut bukan main karena setelah memberi tahu bahwa operasinya berhasil dan keduanya selamat kepada keluarga pasien. Tiba-tiba saja beberapa suster dan dokter yang tadi membantunya melakukan operasi, dan jangan lupa keluarga pasien juga ikut menyerahkan setangkai bunga mawar putih kesukaan Ran. Membuat Ran bingung, tentu saja. Tapi kemudian seorang pria dengan topeng dari caracter kartun detectif Conan—kartun kesukaan Ran—datang dan menyerahkan bunga itu juga padanya.

“Hari ini Conan akan melamar Ran.”

 

“Maukah Ran menikah dengan Conan?”

 

Ran hanya bisa tersenyum ketika menyadari siapa dibalik topeng kartun kesukaannya itu. Ia pun mengangguk. Dan kebetulan sekali namanya sama dengan kekasih dari karakter Conan, ‘RAN’. Orang itu membuka sebuah kota kecil dan memperlihatkan sebuah cincin perak yang beberapa bulan sebelumnya begitu ingin dibelinya saat ia dan Kyuhyun berlibur bersama ke Peru. Disematkan cincin itu pada jari Ran. Dan orang itu berdiri kembali berhadapan dengan Ran. Dengan hati-hati dan dengan perasaan yang membuncah bahagia, Ran membuka topeng itu.

Sejenak mereka hanya terdiam dengan senyum bahagia yang tersemat, hingga kemudian Ran lagsung menghambur pada pelukan orang itu. Pria yang dicintainya. Dan satu-satunya pria yang dicintainya adalah Cho Kyuhyun.

Kyuhyun menerima pelukan itu dan kemudian memutar-mutar tubuh mereka karena saking bahagianya.

“Aku mencintaimu.” Ujar Kyuhyun saat itu.

Aku lebih mencintaimu.” Balas Ran.

Kisah pertunangan selesai dan kisah dalam tahap selanjutnya menanti. Pernikahan sudah dimbang mata, 2 minggu lagi Ran dan Kyuhyun hendak mengucapkan janji suci mereka pada Tuhan. Namun sebuah kejadian pahit terjadi begitu saja. Dihari 1 minggu sebelum pernikahan, Ran ditugaskan menuju Mokpo bersama beberapa dokter lainnya. Selama 3 hari mereka ditugaskan namun Ran bisa menyelesaikan tugasnya hanya dalam 2 hari sehingga ia memutuskan pulang sendirian menggunakan bus umum menuju Seoul, namun naas bus itu mengalami pecah ban saat melintasi jalan dipinggiran sungai besar dan bus itu hilang kendali hingga masuk kedalam sungai dan tenggelam.

Kyuhyun panik bukan main ketika berita itu sampai padanya. Bayangkan saja, seorang gadis yang akan dinikasihnya 1 minggu lagi ikut dalam kecelakaan itu dan belum ditemukan bahkan hingga pencarian korban dinyatakan berakhir. Memang bukan hanya Ran yang belum ditemukan, tapi 5 orang korban lainnya. Satu yang saat itu Kyuhyun harapkan, semoga Ran tetap hidup walau entah ada dimanapun gadisnya berada. Ia hanya berharap demikian. Ia tak akan menerima bahwa Ran sudah pergi selama jenazahnya tidak ada. Dan memang sampai 4 tahun kemudian Ran dicari disekitar sungai dan daerah itu tapi hasilnya  masih nihil. Yang ditemukan hanya tas milik Ran. Ya Tuhan…saat itu Kyuhyun begitu terpuruk hingga harus pergi ke Jerman untuk merehabilitasi sikologinya dan akhirnya hingga ia malah memilih mengolah perusahaan yang ada disana.

Namun ia merasa 4 tahun sudah ia pergi dan ia tak mungkin terus menghindar dari Seoul, kota penuh kenangannya dengan Ran karena ia juga menyadari bukan hanya dia saja yang merasa kehilangan Ran, seperti kedua orang tua gadis itu tentunya yang sampai sekarang masih menjalin komunikasi baik dengan keluarga Cho dan masih berharap pula Ran bisa ditemukan dalam kondisi masih hidup.

A Loved One || Gorjesso

 

Tengah hari seusai makan siang bukannya kembali kedalam ruangannya dan menyelesaikan berkas-berkas yang masih menuggu giliran untuk disentuhnya. Kyuhyun malah menjalankan mobilnya menuju sebuah tempat yang begitu ingin dikunjunginya saat baru saja tiba di Seoul. Tempat dimana ia melakukan ciuman pertama pada Ran. Sebuah bukit ditengah ramainya kota Seoul. Bukit yang sepertinya hanya diketahui oleh Ran dan dirinya.

Dibukannya jas dan melepas dasinya pula. Kemudian ia mulai membaringkan dirinya diatas rerumputan bukit tersebut. 4 tahun yang lalu mungkin disini ia akan berbaring bersama Ran setiap hari minggu dimana hanya dihari itu mereka bisa bertemu dan melepas rindu. Mengadakan sebuah piknik kecil dan menghabiskan waktu hingg matahari tenggelam disana. Tempat ini benar-benar merekam dengan baik setiap kenangannya dengan Ran bahkan bunga mawar putih yang dulu ditanamnya sebulan sebelum kejadian yang menimpa Ran masih tumbuh ditempat ini dengan baik. Membuat Kyuhyun semakin dilanda rindu yang sudah tak karuan lagi rasanya.

“Ran…” Lirihnya sendu. “Bogoshippo..” Lirihnya lagi kini disertai aliran air mata dikedua pipinya.

Dan ketahuilah. Seorang pria yang menangis berarti karena pria itu sudah tak bisa lagi membendung sesuatu dalam hatinya. Sesuatu yang pastinya lebih dari apa yang dirasakan seorang wanita. Kyuhyun semakin terisak dan kini menutupi wajahnya dengan satu tangannya. Tubuhnya bergetar hebat.

Sungguh, setiap orang yang melihat keadaan Kyuhyun saat ini pasti juga akan ikut menangis. Dan sudah entah beberapa kali Kyuhyun akan menjadi seperti ini setiap mengingat gadisnya. “Bogoshippo..” Lirihnya. Lagi dan lagi bibir itu mengucap rindu. Namun tak bisa sedikitpun menyecah rasa rindu pada Ran, gadis yang dicintainya kemarin, saat ini, dan sampai kapanpun.

Itu janji Kyuhyun.

Kyuhyun berjalan-jalan disekitar bukit itu. Menemukan beberapa tempat sudah sedikit berbeda dari 4 tahun yang lalu. Adanya ayunan dan beberapa tanaman bunga lain disana. Kyuhyun mengambil kesimpulan bahwa tempat ini akhirnya ada yang mengetahui selain dirinya dan Ran. Dan itu tidak masalah untuknya selama bukit dan bunga mawarnya dan Ran tidak diusik oleh orang lain.

“Selamat siang.”

Kyuhyun terlonjak kaget dan menemukan seorang pria yang sepertinya sebaya dengannya berdiri dibelakangnya ketika ia tengah melihat sekumpulan bunga lily.

“Ah…selamat siang.” Balasnya ramah.

“Kau pemilik mobil hitam didepan?” Tanya pria itu.

“Ne. Memangnya ada apa?” Jawab Kyuhyun.

“Tidak. Aku hanya sedang memastikan bukan ornag jahat yang memasuki pekaranganku.” Jelas pra itu.

Kyuhyun mengerutkan alisnya. Bukit ini ada yang memiliki? Apa mungkin iya? Bukankan ini milik pemerintah?

“Aku membeli pekarangan ini.” Jelas pria itu sebelum Kyuhyun menanyakan apa yang terlintas dipikirannya.

“Nde?” Namun Kyuhyun masih butuh penjelasan.

“Em….Seseorang yang begitu penting untukku. Yah…sebut saja tunanganku, ia begitu menginginkan pekarangan ini jadi aku membelinya sebagai hadiah ulang tahunnya 2 tahun yang lalu.”  Jelas pria itu lagi. Dan Kyuhyun mengangguk mencoba mengerti walaupun sebenarnya ia sedikit kesal karena tempat kenangannya bersama Ran sudah menjadi mili pribadi, sayangnya itu bukan dimilikinya. Sial sekali karena ternyata tanah pemerintah ini bisa dibeli. Apakah pria ini adalah orang penting di pemerintahan hingga bisa membeli tanah pemerintah yang dulunya akan dibuat perkebunan bunga?

“Oh iya anda sedang apa disini?” Tanya pria itu.

“Aku hanya sedang bernostalgia dengan tempat ini. Tapi setelah 4 tahun ternyata sudah sedikit berbeda.” Jawab Kyuhyun jujur.

“Ah…maafkan aku jika memang membuat tempat ini sedikit berbeda. Aku hanya mencoba membuat tempat ini bisa dikunjungi tiap waktu untuk menghilangkan penat ketika aku dan tunanganku kemari.” Ujar pria itu menyesal.

“Gwenchana..Aku tahu maksudmu. Yang terpenting dari bukit itu tidak ada yang berubah.” Ucap Kyuhyun sembari tangannya menunjuk bukit hijau dengan satu pohon rindang disana dan satu tanaman mawar putih miliknya dan Ran.

Pria itu juga mengangguk tanda setuju. “Aku memang sengaja membiarkan bukit itu tetap sediakala. Tunanganku yang memintanya…apalagi ketika melihat tanaman mawar dibukit itu ia begitu tertarik untuk membeli pekarangan ini.” Ujar pria itu. “Sekali lagi aku minta maaf jika membuatmu tidak nyaman.” Ucap pria itu meminta maaf.

“Ah…Gwenchana…Bukankah aku juga tidak sedang menyalahkanmu?” Ucap Kyuhyun. Ia terkesan dengan sikap ramah dan segan dari pria ini. “Ngomong-ngomong hari sudah menginjak sore. Sepertinya aku harus pamit tuan—“

“Siwon, Choi Siwon.”

“Choi Siwon putra Choi Suhan?” Tanya Kyuhyun dan membuat pria bernama Choi Siwon itu juga terkejut. “Bagaimana kau tahu?”

“Perusahaan kita bekerja sama dalam proyek pembangunan super mall di Jerman 2 tahun lalu.” Jawab Kyuhyun.

“Benarkah, pantas saja. Apa kau Cho Kyuhyun, Presdir dari Lypco Group yang ada di Jerman?” Kyuhyun mengangguk membenarkan. “Ternyata kita saling mengenal, walau aku tahu kau dari ayahku yang memang mengelola SS Holding enterpries di Jerman.”

“Ya…benar…sampaikan salamku pada tuan Choi Suhan.”

“Ah, ne..tentu saja. Semoga kita bisa bekerjasama lagi untuk kedepannya.” Ujar Siwon ditanggapi senyum oleh Kyuhyun.

A Loved One || Gorjesso

 

Keesokan harinya sepertinya SS Holhing Enterpries benar-benar hendak bekerjasama dengan perusahaan dengan presdir bernama Cho Kyuhyun. Bahkan CEO mereka, Choi Siwon sendiri yang datang menemui Kyuhyun dikantornya dan mereka berbicara empat mata tentang proyek milik SS tentang pembuatan apartemen mewah dikawasan pulau Jeju. Karena Siwon pikir memang perusahaan Kyuhyun sangat tepat menjadi patner mereka dalam bidang advertising, investasi dan tetek bengek lainnya. Sedangkan SS hanyalah merambah bidang tanah seperti hotel, mall, apartemen, perumahan, dll, namun rekam jejak SS juga tak bisa disepelekan, karena mereka punya tanah-tanah dikawasan strategis diseluruh dunia. Patner-patner mereka juga begitu loyal, dan Siwon berniat mengajak Kyuhyun juga untuk menjadi patner loyalnya mengingat kerjasama SS dan Lypco juga berjalan lancar dan Lypco benar-benar menjadi seorang advertising yang begitu luar biasa. Super mall milik SS menjadi mall terbesar ke-3 di Jerman dan mulai mengalahkan pesaingnya dalam hal kunjungan yang menjapai angka ratusan ribu per-harinya.

“Seharusnya kau menghubungiku dulu sehingga kau tak perlu repot datang langsung persahaanku, Siwon-ssi.” Ujar Kyuhyun merasa tidak enak mengingat jarak SS dan Lypco yang harus ditempuh dengan waktu 30 menit ditambah kemacetan karena letak 2 perusahaan ini didaerah yang begitu strategis dan merupakan kawasan perkantoran.

“Gwenchana. Aku juga ingin mengunjungi seorang yang sudah berjasa membuat Super mall kami di Jerman menjadi penuh sesak oleh pengunjung. Kami berterima kasih untuk itu.”

“Kau terlalu berlebihan, Siwon-ssi. Itu adalah tugas kami, bukan?” Balas Kyuhyun. Siwon mengangguk setuju.

“Lalu apakah seorang CEO SS datang kemari hanya untuk berterimakasih?” Tanya Kyuhyun yang memang penasaran dengan kedatangan Siwon yang cukup mendadak. Mereka bahkan seperti rekan lama yang sudah lama tak bertemu. Melihat Siwon yang bahkan langsung datang kekantornya padahal mereka baru berkenalan kemarin.

“Ah…tentu kedatanganku tidak jauh-jauh dari bisnis. Bukan maksudku menyinggung. Tapi aku benar-benar ingin membuat kerjasama lagi dengan Lypco.” Jawab Siwon menjelaskan maksud kedatangannya.

Kyuhyun mengangguk mengerti. “Ah…begitu. Tapi baru saja aku akan memasang iklan bahwa kami menerima kerjasama diTV, tapi ternyata kau sudah mengetahuinya?”

“haha…benarkah. kebetlan sekali. Kalau begitu jadikan SS klien yang kau perhitungkan. Karena kami yang mendaftar pertama.” Gurau Siwon.

“Tentu saja. Kau tidak perlu khawatir, Siwon-ssi. SS dan Lypco pernah bekerjasama dan itu berjalan dengan sangat baik. Kalian patut untuk menjadi prioritas pelayanan kami.” Ujar Kyuhyun menyetujui. “Kalau boleh tahu, proyek apa yang akan kau ajukan dalam kontrak kerjasama kita, Siwon-ssi?”

“Oh..itu adalah pembangunan sebuah apartemen mewah di Jeju. Karena aku pikir sebuah hotel sudah terlalu banyak sedangkan orang-orang ingin sekali menetap disana. Jadi kami pikir proyek apartemen ini bisa menjadi pilihan yang tepat.”

“Aku setuju. Akan aku hubungi sekertarisku untuk segera membuat kontraknya.” Ujar Kyuhyun kemudian mengulurkan tangannya.

“Deal.”

“Deal.”

A Loved One || Gorjesso

 

“Kyu, kau sudah siapkan bunga mawar putihmu?” Tanya Ahra sembar masih sibuk dengan urusannya sendiri bersama sang suami Park Jung Soo yang membantu wanita itu berbenah.

“Neh.” Jawab Kyuhyun tak bersemangat.

Ahra dan Jung Soo seketika menoleh pada adik mereka yang terlihat begitu lesu. Atau memang sejak kemarin demikian. Ahra memaklumi itu, karena hari ini bertepatan dengan hari dimana kecelakaan bus yang menimpa Ran terjadi. Dan ini sudah menjadi tahun yang ke-5 ritual menabur bunga dilakukan oleh keluarga Kyuhyun dan Ran. Bukan bermaksud mendo’akan bahwa Ran sudah meninggal. Tapi ini hanya sebagai bentuk bagaimana mereka mengenang dan sebagai bentuk penyampaian harapan bahwa sampai saat ini mereka masih begitu berharap bahwa Ran masih hidup walau entah dimana dan entah bagaimana keadaannya.

Namun Kyuhyun baru pertama kali mengikuti ritual ini. Tentu saja karena selama 4 tahun Kyuhyun bahkan tidak bisa menginjakan kakinya ke Korea karena mental dan jiwanya seperti terguncang. Dan sekarang Kyuhyun berpikir sudah saatnya ia datang juga dan melakukan apa yang keluarganya lakukan. Ia tak bisa terus menghindar dari kenyataan yang terjadi. Sekalipun hatinya terus membantah.

Karena cintanya yang terus tumbuh tanpa alasan.

Karena rindu yang terus membuncah tanpa bisa terkondisikan.

3 mobil tiba di sebuah pinggiran sungai setelah perjalanan yang cukup jauh dari Seoul menuju Mokpo. Satu persatu orang turun dari mobil dengan style serba hitam dan bunga mawar putih yang berada ditangan mereka. Namun ada seornag pria yang masih betah didalam mobil, pria itu meletakan kepalanya diatas kemudi. Merasa begitu lelah, bimbang, sedih, kecewa, cinta, rindu yang entah mengapa langsung menyapanya begitu ia tiba ditempat ini.

“Gelar karpetnya.” Perintah tuan Cho pada menantu laki-lakinya, suami Ahra.

Jung Soo menggelar karpet kecil yang muat untuk 2 keluarga itu yaitu, ayah & ibu Kyuhyun, Ahra, Jung Soo, ayah & ibu Ran, serta tentu saja Kyuhyun. Namun mereka masih menunggu Kyuhyun yang terlihat masih duduk didalam mobil. Mereka paham keadaan putra mereka yang pasti tak mudah untuk sekedar pergi ketempat ini walau sudah berlalu 5 tahun lamanya.

“Bujuk dia.” Ujar ibu Kyuhyun pada Ahra yang kemudian bangkit dan ditemani Jung Soo untuk membujuk Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah.” Panggil Ahra pelan setelah membuka pintu mobil yang dikemudikan Kyuhyun sendiri menuju tempat ini.

Kyuhyun menoleh pada kakaknya. Dan Ahra langsung terenyuh melihat mata Kyuhyun yang sudah berkaca-kaca. Lagi, ia melihat adiknya begitu rapuh. Tuhan, akan sampai kapan adiknya menjadi seperti ini?

“Turunlah, kami semua sudah menunggumu.” Bujuk Ahra. Kyuhyun mengangguk dan patuh dengan bujukan kakaknya. Ia pun segera turun dari mobil dengan membawa bunga mawar putih ditangannya.

Setelah semuanya berkumpul mereka memulai ritual yang sudah menjadi hal wajib sejak 5 tahun yang lalu. Ayah Ran yang memimpin jalannya do’a kemudian semua anggota keluarga menyampaikan harapan sembari menabur bunga keatas air sungai yang mengalir tenang ditempat itu. Dan kemudian terakhir Kyuhyun. Pria itu lebih banyak diam kala ritual dilakukan. Menunduk lesu dan terkadang melihat kedepan namun tatapannya kosong.

“Kyuhyun-ah.” Panggil tuan Kim, ayah Ran.

“Ah. Ne, abonim..” Jawab Kyuhyun sedikit terkejut karena sedari tadi pikirannya terus terbagi dan tak fokus pada apapun yang dilakukan keluarganya.

“Sekarang giliranmu, dan kami akan menungumu di mobil.” Ujar tuan Kim.

“Mmm..Aku mungkin akan lama. Jadi sebaiknya semua anggota keluarga menuju penginapan yang sudah dipesan. Aku akan menyusul.” Tutur Kyuhyun.

“Apa kau baik-kaik saja jika kami tinggal?” Tanya tuan Kim.

Kyuhyun mengangguk pasti. Tuan Kim pun hanya bisa menerima usulan Kyuhyun lalu bangkit dan pergi dari hadapan Kyuhyun dan disusul oleh yang lainnya. Mereka memang sudah sepakat untuk memberikan Kyuhyun privasi.

Kyuhyun kembali bersimpuh diatas bebatuan pinggiran sungai yang sudah dilapisi karpet sebagai alasnya. Matanya terpejam erat merasakan dadanya yang bergemuruh tak bisa terkendalikan. Bibirnya mulai bergetar tak bisa menahan lagi apa yang hendak meledak dalam dirinya. Tapi ia harus menahannya, ini kali pertama ia menuju ke tempat penuh kenangan pahit ini sejak 5 tahun yang lalu.

“Hi..” Ucap bibir Kyuhyun akhirnya. Mencoba menampilkan senyum semanis yang ia bisa.

“Sudah 5 tahun, benar ‘kan?” Air matanya kini sudah kembali terkumpul dipelupuk matanya.

“Ini terlalu lama, sayang…sudah terlalu lama kau pergi. Apa kau tidak merindukanku?” Aliran air mata itu kini tercipta diiringi isakan menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

“Aku…Aku tidak tahu lagi harus bagaimana…ini terlalu menyakitkan. Aku bahkan masih terus memimpikanmu dalam tidurku.” Keluh Kyuhyun.

“Kenapa? Kenapa kau hanya datang dalam mimpi? Kenapa kau tak kunjung kembali? Aku merindukanmu….aku merindukanmu.” Isakan itu makin menjadi disertai pukulan-pukulan yang Kyuhyun lakukan didadanya menahan sesak yang menyergap tiap kata rindu itu terucap dari bibirnya.

“Seharusnya 5 tahun yang lalu kita sudah menjadi sepasang suami-istri dan seharusnya juga di tahun ini mungkin anak-anak kita sudah masuk sekolah…bukankah demikian?” Ceritanya, berandai jika saja kecelakaan itu tak terjadi walau kenyataanya tak akan pernah bisa dan tak akan pernah terjadi. Ini menambah lagi alasan Kyuhyun untuk menangis, menangisi betapa menyedihkannya jalan cerita cintanya. Ditinggal orang terkasih disaat janji suci sudah didepan mata mereka. Terlalu menyakitkan, terlalu menyedihkan.

Derai air mata Kyuhyun terus mengalir bersama setiap ucapan rindu yang sudah terkumpul selama 5 tahun didalam palung hatinya. Tak akan menghentikan air yang orang-orang anggap sebagai tanda kelemahan ini hingga semuanya rasa rindu dan cintanya tersampaikan dan setelah itu Kyuhyun berjanji, ia akan bangkit dari kesedihannya ia tak bisa terus tenggelam dalam ketidak percayaannya karena kepergian Ran yang belum bisa dipastikan.

Kyuhyun berjanji walau nantinya ia hanya akan terus berjalan menyusuri jalan yang sudah digariskan tuhan dan ia pun sudah memutuskan, ia tak akan mengizinkan posisi Ran tergantikan oleh siapapun walau wanita itu melebihi Ran dalam segi apapun. Karena baginya, sejak Ran pergi menghilang dari jarak pandanganya, saat itu pula Ran membawa seluruh cinta dan hatinya pergi bersama gadis itu hingga tak tersisa.

“Boghosippo…jeongmal bogoshipo..” Lirih Kyuhyun setelah menyudahi segala gundahnya selama ini. Setelah menaburkan semua mawar putih itu, Kyuhyun mengambil botol kecil dari dalam saku jasnya kemudian diisinya botol itu dengan air dari sungai itu hingga penuh dan kemudian menutupnya dan menyimpan kembali botol itu kedalam sakunya.

“Aku harus pergi, sayang…jika kau ingin kembali, kembalilah…kami semua menunggumu dengan cemas. Aku akan merindukanmu, akan selalu merindukanmu..jaga dirimu baik-baik, sayang…”

“Saranghae..jeongmal saranghae..”

Ungkapan cinta itu menjadi akhir dari pertemuan selama 5 tahun ia pergi dari Korea. Mengunjungi tempat yang menyimpan kenangan pahit tentang hilangnya cintanya, orang terkasihnya, hatinya, Ran-nya.

Sekali lagi Kyuhyun melihat kearah aliran sungai itu menyimpan baik-baik dalam memorinya. Mengulas sebuah senyum walau hati tersayat perih.

“Aku pergi, sayang..” Ucap Kyuhyun sebelum benar-benar pergi dari tempat itu dengan mobil BMW hitamnya menyusul keluarganya yang sudah tiba dipenginapan yang mereka sewa karena tak mungkin kembali ke Seoul hari ini juga selalin alasan lelah juga karena mereka harus menjaga kehamilan Ahra yang masih muda dan rentan.

Disisi lain, seorang tengah memandang kepergian mobil hitam BMW milik Kyuhyun dengan kedua matanya yang dusah berkaca-kaca. Selama 4 tahun ini ia selalu menangkapi dan mengumpulkan bunga mawar putih yang ditaburkan oleh keluarga Kyuhyun dan Ran. Namun kali ini ada yang begitu membuat hatinya bergejolak, yaitu karena untuk pertama kalinya Kyuhyun datang dan ikut melakukan apa yang sudah 4 tahun ini dilakukan.

 

A Loved One || Gorjesso

3 minggu setelahnya, yaitu setelah kontrak kerjasama antara Lypco Grop dan SS Holding Enterpries sudah ditandatangani oleh masing-masing CEO dari pemimpin perusahaan raksasa Korea Selatan itu. Kerjasama pun mulai dilakukan dan berjalan dengan baik sejauh ini, dan menghasilkan banyak dampak baik pula. Berkat menggaet Lypco dalam bidang advertising, SS bisa mendapatkan investasi dari berbagai perusahaan dan bahkan SS hanya mengeluarkan sepertiga dana yang digunakan untuk membangun sebuah apartemen mewah di Jeju yang menjadi kerjasama. Sebagai ucapan terimakasih akhirnya Siwon mengajak Kyuhyun berpesta barbekyu di tempat dimana mereka pertama bertemu.

Kyuhyun mengenakan pakaian santai seperti kemeja putih bermotif abstrak dipunggungnya dan celana jeans biru serta sepatu flat berwarna merah yang rasanya sudah lama sekali tidak ia pakai karena ia tinggal sepatu kesayangan itu di Korea selama ia di Jerman. Sepatu penuh kenangan karena sepatu itu adalah hadiah ulang tahun dari Ran. Ya Tuhan…rasanya sakit sekali tiap ia memandangan kebawah pada sepatu itu.

Penampilannya yang terbilang begitu trendi dan terlihat muda dari biasanya pun membuat beberapa orang yang ternyata juga diundang dalam acara itu menatap kagum dan memuja pada Kyuhyun terutama kaum wanita. Ia menjadi merasa bosan karena selalu menjadi pusat perhatian.

“Kyuhyun-ssi!” Sebuah penggilan membuyarkan lamunannya dan ia kemudian mencari asal suara yang memanggil namanya yang ternyata pemiliknya adalah Siwon.

“Oh…Siwon-ssi.”

“Selamat datang.” Ucap Siwon lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Kyuhyun. “Silahkan duduk.” Ucap Siwon lagi mempersilahkan Kyuhyun duduk disebuah kursi kayu yang melingkari sebuah meja besar mirip meja makan namun sangat besar dan banyak kursi yang sudah mulai terisi oleh beberapa orang yang Kyuhyun tahu adalah rekan kerjasama mereka dalam bisnis apartemen di Jeju.

Sebenarnya Kyuhyun tidak begitu suka ketika Siwon mengajaknya merayakan kerjasama ini apalagi dengan tempat yang disebutkan oleh Siwon. Tempat dimana semua rekaman kenangannya tersimpan. Namun ia harus bagaimana lagi, ia tidak enak untuk menolak ajakan Siwon yang sepertinya begitu mengharapkan kedatangannya.

Kyuhyun memutar pandangannya menuju bukit yang kalian pasti sudah tahu apa yang akan Kyuhyun renungkan dipikirannya ketika melihat bukit itu. Tanpa sadar memorinya seolah berputar tanpa bisa dikondisikan begitu ia menatap pada bukit itu. Ia bahkan sempat berhalusinasi Ran sedang berdiri disana dan memetik bunga mawar putih yang mereka tanam disana. Kemudian mencium aroma bunga itu dan duduk disana. Kyuhyun mencoba menjernihkan pikirannya dan menggelengkan kepalanya mencoba bangun dari halusinasinya. Namun ia tak berhasil. Ia pun memejamkan matanya sejenak. Hingga beberapa saat kemudian, disaat ia membuka mata—

Gadis itu menghilang. Ran-nya menghilang. Kyuhyun panik dan kelimpungan mencoba mendekat menuju bukit itu sampai sebuah tangan mencegahnya mendekat menuju bukit itu.

Kyuhyun menatap orang yang memegang tangannya tak  mengerti.

“Tuan, apa kau tidak melihat dipapan itu tertulis ‘DON’T ENTER HERE’.” Ujar orang itu pada Kyuhyun. Kyuhyun pun menoleh pada bukit itu yang kini memang sudah dipagari oleh sebuah tali yang dipercantik dengan hiasan dan ada papan yang bertuliskan sama seperti yang diucapkan oleh orang itu.

Kyuhyun menghela nafas. “Ne. Mianhamnida.” Kyuhyun pun berbalik kembali menuju meja dimana ia dipersilahkan duduk oleh Siwon. Dengan masih terpikir akan kejadian tadi. Apakah ia benar-benar berhalusinasi tadi?

Ya. Tentu saja. Mana mungkin Ran yang sudah hilang selama 5 tahun ini tiba-tiba kembali. Dan datang pada acara seperti ini? Walau dalam hati kecilnya ia berharap itu benar-benar terjadi.

Setelah kembali duduk dan dihadapanya adalah Siwon. Disaat itu pula Kyuhyun seperti merasa kembali berhalusinasi, tapi Demi Tuhan ini seperti nyata. Ia…ia kembali bisa melihat gadisnya, Ran-nya. Gadis itu bahkan tengah berjalan mendekat padanya dengan membawa sebuah mangkuk yang entah berisi makanan apa. Tapi yang jelas dari semua yang sedang dilihatnya, Kyuhyun menyimpulkan gadis itu nyata. Karena Ran tersenyum, dan terlihat sangat cantik dengan dres putih selutut serta blazer biru tua dan rambut coklat tuanya yang tergerai dan terlihat begitu mempesona ketika rambut itu terbuai oleh angin.

“Oppa.”

Kyuhyun terkesiap saat Ran bersuara. Benarkah jika memang ini halusinansi tapi kenapa ia bisa mendengar suara Ran?

“Oppa.”

Kyuhyun tersadar dan langsung terlihat bingung dengan hal yang kini nampak dalam matanya.

“Oh, chagiya.” Siwon pun mengambil mangkuk yang diberikan oleh seorang gadis yang sedari tadi menjadi objek perdebatan dalam pikiran Kyuhyun. “Duduklah dan akan kuperkenalkan dengan seorang yang sudah kucceritakan kemarin padamu.” Titah Siwon pada gadis itu setelah mengecup pipi gadis itu.

Chagia?

Kyuhyun tak mengerti. Siwon dan Ran mereka—

Sepasang kekasih? Apa-apaan ini?

Namun semuanya terjawab ketika Siwon kembali berkata. “Kyuhyun-ssi, kenalkan ini tunanganku. Namanya Shin Nara.”

Bagai langsung terjun dari puncak mount everst tanpa parasut. Hati Kyuhyun begitu terpukul mendengar nama yang disebutkan oleh Siwon pada gadis yang seharusnya namanya adalah Kim Ran. Namun itu ternyata hanya bisa menjadi harapan kosong bagi Kyuhun. Mereka hanya mirip.

Hanya mirip. Ucap Kyuhyun dalam hati.

“Shin Nara Imnida.”

Kyuhyun membalas jabatan tangan gadis bernama Shin Nara itu dengan sedikit ragu. “Cho Kyuhyun.

Acara pesta itu berjalan dengan lancar. Semua terlihat menikmati acara itu dengan hati yang senang, namun semua itu berbanding terbalik dengan pria bermarga Cho yang masih betah diam dan sesekali mencuri pandang pada tunangan rekan bisnisnya. Bukan bermaksud untuk mencari masalah dengan memandangi tunangan orang lain. Tapi karena kasus yang kini terjadi pada Kyuhyun adalah lain.

Kenapa mereka harus mirip? Kenapa mereka harus sama walau warna rambut mereka berbeda Ran hitam dan panjang, sedangkan gadis ini coklat dan pendek sebahu tapi tinggi mereka Kyuhyun pikir sama, hanya setinggi bahunya. Begitu juga bibir, alis, mata bulat mereka juga sama yang sama-sama memiliki bola mata berwarna coklat terang, namun ada satu yang disadari Kyuhyun. Gadis bernama Shin Nara ini tak memiliki tahi lalat dibawah garis matanya. Sedangkan Ran-nya memilikinya.

Jadi, inikah bedanya? Lalu mengapa hal itu saja yang membuat mereka berbeda?

Tidak! Ada lagi, nama meraka berbeda tentu saja.

Serta dari sikap dan sifat gadis itu terlihat gadis itu adalah seorang yang pandai, periang dan mudah bergaul. Sedangkan Ran, adalah seorang yang tentu saja pandai namun Ran adalah gadis yang pemalu setiap kali berdekatan dengan pria gadis itu akan selalu menunduk malu walau pria itu adalah Kyuhyun sekalipun. Tapi gadis ini berbeda, ia bahkan tak segan membalas ciuman pipi Siwon didepan umum.

Mereka berbeda, Cho Kyuhyun. Apa lagi yang kau harapkan?

Ingatlah, didunia ini ada 7 orang yang mirip satu sama lain.

Tapi kenapa meraka harus begitu mirip? Protes Kyuhyun dalam hatinya. Merasa tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi hari ini. Tuhan…apa lagi ini?

Setelah beberapa hari yang lalu ia mantap untuk tidak hanyut dalam kesedihan lagi. Tapi dihadapannya kini disuguhkan kenyataan yang sulit dicerna oleh akal pikiran.

“Shin Nara, sebenarnya siapa dirimu?”

TBC

Kyu-Ran || A Loved One | A Fanfiction By Gorjesso@2015 All Right Reserved

Bagaimana? Apa kalian tertarik dengan cerita ini? Maaf yah jika banyak typo, manusia kan tempatnya salah. #alibi

Mohon Like dan Komentarnya, ya…

 

#Jika lian berminat untuk pesan cover seperti yang aku gunakan dalam ff ini, silahkan pesan saja dan jangan sungkan menghubungi staff kami (gorjesso) di nomor 085602053020 atau bisa membaca dulu persaratan dan kesepakatan di link =>> www.facebook.com

Chu:* #ketawa_evil

Kunjungi  ya…. : www.gorjesso.wordpress.com

www.gorjesso.blogspot.com

Like ya…. :www.facebook.com/gorjesso

Jika ingin berkenalan, silahkan mampir : www.facebook.com/tatikafransmorona

Twitter : @tha_tika 29